Sales Kompor Bermodus Bagi-Bagi Penghemat Gas Gratis se-RT

Salam hangat kawan…

Hari ini saya ingin bercerita seputar kejadian dan peristiwa yang saya alami kemarin. Senin, 29 Januari 2018. Seperti judul yang saya tuliskan diatas, cerita ini seputar Sales yang bermodus. Modusnya adalah membagikan alat pengaman dan penghemat gas secara gratis kepada seluruh warga RT. Oh ya, sepertinya saya belum bercerita kalau per Januari 2018 ini suami saya mulai menjabat sebagai Ketua RT 03, RW.04, Dusun Klutuk, Kelurahan Kramat Jegu, Taman, Sidoarjo.

Ceritanya saat itu masih dengan jelas dalam ingatan saya, saya dan suami sudah bersiap untuk berangkat kontrol kehamilan rutinan ke Rumah Sakit ibu dan Anak swasta di daerah Sepanjang. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Kami memang sengaja berangkat kontrol jam segitu karena setelah daftar melalui telepon dan saya mendapatkan nomor urut antrian ke 22. Sedangkan jam praktek baru dimulai pukul 10.00, cukuplah tanpa menunggu antri lama-lama disana, batin saya. Namun perhitungan kita menjadi tidak sesuai dengan perkiraan karena tepat saat kami hendak berangkat, tiba-tiba datang seorang tamu laki-laki (selanjutnya baca: Sales), yang menyatakan dari agensi konsultan khusus yang mengurusi per-gas an pemerintah dengan menyodorkan surat ijin berstempel kelurahan Kramat Jegu, dan berkas-berkas kelengkapan untuk melakukan sosialisasi seputar gas (ELPIJI) dan membagikan alat penghemat dan pengaman gas gratis kepada warga RT.03. Sales itu meminta ijin kepada saya, selaku Ibu RT.03 untuk menjadi koordinator terselenggaranya acara sosialisasi dan pembagian kepada ibu-ibu warga RT.03.

Entah mungkin karena newbie dan sama sekali belum pengalaman dengan tugas-tugas sebagai seorang Ibu RT, saat itu saya merasa terpanggil untuk melaksanakan amanat yang diberikan kepada saya. Sales tersebut menjelaskan kalau acaranya akan diselenggarakan nanti pukul 14.00 di rumah Pak RT, dengan mengumpulkan ibu-ibu yang telah diberi kupon pengambilan alat penghemat gas gratis. Semula sang sales menyatakan bahwa yang berhak mendapatkan alaat gratis itu adalah warga yang berada dalam taraf ekonomi menengah kebawah. Karena saat itu suami saya juga mendampingi, beliau bilang kalau mayoritas warga sini (yang berjumlah 40 warga) dari ekonomi menengah kebawah, yang menengah keatas mungkin hanya beberapa dan bisa dihitung dengan jari. Namun suami saya juga merekomendasikan para penduduk nomaden (kos-kosan) agar diberi juga). Akhirnya sang sales memberikan kami kupon sebanyak 60 buah. Dari sini keanehan sedikit tercium, sepertinya sales itu tidak perhitungan dalam menentukan nominal, padahal diawal pembicaraan tadi dibilang kalau pembagian alat gratis hanya untuk kalangan ekonomi menengah kebawah. Ah sudahlah batin saya…

Selanjutnya sales itu ijin pulang untuk melanjutkan perijinan-perijinan ke RT lain, dan nanti saat pukul 14.00 akan datang petugas lain yang akan bertindak dalam sosialisasi dan pembagian alat penghemat gratisnya. Saat itu sudah pukul 11.15, saya langsung ijin ke suami saya untuk membagikan kupon terlebih dahulu ke warga sekitar sebelum berangkat kontrol, karena ditakutkan nanti terlalu mepet kalau saya bagikan setelah kontrol. Dan membagikan 60 kupon ke masing-masing rumah penduduk bukanlah hal yang mudah, terlebih saya yang masih belum 100% kenal dan hafal dengan nama-nama warga sini. Akhirnya saya meminta bantuan seorang tetangga senior untuk menyebutkan nama ibu-ibu RT.03 dan membantu membagikannya bersama-sama.


Jam sudah menunjukkan pukul 11.55 saat saya selesai membagikan kupon-kupon tersebut. Sang suami yang sedari tadi menunggu langsung cus mengajak saya berangkat kontrol. Saat itu sudah waktunya dhuhur, namun karena takut terlambat akhirnya kami memutuskan untuk berangkat kontrol terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan suami saya melajukan sepeda motornya dengan kecepatan yang cukup cepat dari biasanya (suami jarang ngebut), dan akhirnya Kramat Jegu-Sepanjang kami tempuh dalam waktu sekitar 15 menit.

Sesampai di Rumah Sakit, apa yang kami kawatirkan benar-benar terjadi. Jam praktek sudah selesai! Kami tertolak, dan tidak dapat melakukan kontrol saat itu. Padahal sebelumnya saya pernah mendapatkan nomor antrian 19 dan baru masuk pukul 12.35, namun saat ini nomor 22 tapi pukul 12.10 sudah tidak dilayani. Sang resepsionis bilang kalau hari ini agak sepi, pasiennya yang datang cuma 15, jadi cepat selesai. Saya kecewa? Iya, sedikit, namun kami tidak bisa berbuat apa-apa dan kembali pulang dengan perasaan yang cukup tersimpan dihati.

Sesampai di rumah, saya sedikit menyiapkan ruang tamu yang akan digunakan untuk acara nanti dan sholat dhuhur. Tidak lama setelah sholat dhuhur selesai, tiba-tiba petugas yang dijanjikan telah datang kurang dari jam setengah 2. Akhirnya saya menyuruh petugas itu (Baca: Sales juga), untuk menunggu warga datang, karena seperti kebiasaaan para warga pasti datang molor.

Dan benar, jam 14.30 belum ada satupun warga yang datang, saya mulai resah, tahu sendiri, saya adalah tipe orang pemikir. Baru sekitar jam 3 sore, ada 3 warga yang datang, kemudian disusul dengan 2 orang lagi. Padahal pengambilan alatnya tidak boleh diwakilkan. Saya sudah lelah menunggu, berkali-kali saya suruh sales tersebut untuk mulai, karena pesimis tidak ada warga yang datang lagi. Namun sales tersebut terlihat belum puas kalau hanya memulai dengan 5 orang warga. Sekali lagi  saya paksa untuk mulai karena saya yakin warga menyempatkan hadir juga tidak ingin berlama-lama, masih banyak kesibukan rumah tangga lain yang harus dikerjakan saat hari menjelang sore. Dengan terpaksa akhirnya sales itu memulai penjelasannya.

Pertama menjelaskan tentang tabung gas, kabulatornya, selangnya, dll. Kalau dibilang penting, mungkin penting, tapi saya rasa hal tersebut sudah berkali-kali disosialisasikan ke warga. Jadi, yang menjadi catatan saya adalah: Saya geram sekali, karena sales itu menjelaskannya dengan tempo yang sangat lambat, tidak ada inisiatif untuk mempercepatnya. Saya capek, terlebih melihat warga yang sudah mulai bosan dan tersirat dari muka mereka ingin segera mengakhiri pertemuan itu. Tiba-tiba datang lagi 5 orang warga berbarengan tepat pukul 15.25. Seketika sang sales mengulangi penjelasan yang sudah cukup banyak dijelaskan tadi. Durasi menjadi lebih panjang lagi. Saya tekankan, saya capek!

Ternyata ujung-ujungnya sales tersebut promosi kompor gas yang bermerek DNS. Mempromosikan kelebihan-kelebihan kompornya, dan juga memberi info bahwa harga kompor tersebut sebenarnya 1,2 jt. Namun untuk acara ini tiap RT akan dijatah 25 unit kompor yang mendapatkan subsidi pemerintahan sebesar 50%, jadi tinggal sekitar 600rb an saja. Warga boleh membayar uang 25rb dulu langsung membawa barang pulang. Selanjutnya pembayaran bisa dicicil sebanyak 7x/bulan. Pembayaran bisa dilakukan di bu RT (Saya?). Batin saya, saya tidak pernah suka dengan barang kredit. kok enaknya ini sales langsung membebankannya ke saya. Berat!


Akhirnya saat ditanya siapa saja yang berminat, ada dua ibu-ibu yang berminat, satu ibu ingin beli 2 unit kompor, karena beliau punya bisnis makanan. Jadi ada 3 unit yang dipesan saat itu. Lainnya? tidak berminat. Saya disuruh untuk menuliskan nama-nama ibu itu, dan menulis juga nomor telpon saya sebagai penanggung jawab untuk komunikasi lebih lanjut, dengan membubuhkan stempel RT. Sama seperti contoh-contoh yang sudah ditunjukkan sebelumnya banyak RT yang sudah dikunjungi di sekitar daerah kami, dengan nama pemesan kompor dan stempel RT masing-masing dalam sebuah lembaran di dalam buku. Heranya saya menurut saja.

Kegiatan yang paling ditunggu ibu-ibu adalah pembagian alat gratis berupa pengaman dan penghemat gas. Ternyata alatnya hanya sekecil ujung telunjuk berbentuk seperti peluru berlubang yang isinya diisi dengan satu gotri (steel ball). Sambil menjelaskan cara pemakaiannya harus dicelup ke minyak goreng yang belum dipakai terlebih dahulu, kemudian dimasukkan ke dalam selang gas yang dekat regulator dengan arah yang kelihatan gotrinya di dalam. dan kemudian didorong dengan pen sejauh kurang lebih satu telunjuk. Kemudian baru selang bisa dipasang kembali ke regulator dan bisa dipakai kembali. Katanya penghemat itu bisa mengemat gas 2x pemakaian. Kalau sebelumnya seminggu habis, dengan menggunakan alat ini bisa hemat sampai dua minggu baru habis. (Entah saya belum mencoba sampai sekarang)


Sekali lagi saya kecewa, saya berpikir alatnya lumayanlah kalau diberikan secara gratis kepada warga. Padahal tadi saat datang sales tersebut membawa tas hitam kotak ukuran besar yang saya pikir berisi alatnya, ternyata hanya peralatan promosi dan contoh kompor. Saya yakin warga juga sedikit kecewa, karena telah meluangkan waktu yang cukup lama. Acara baru selesai pukul 16.20 an. Saya merasa tidak enak dengan warga, dan saya merasa tertipu.

Sepergi sales tersebut dari rumah, saya mencoba searching harga kompor yang dipromosikan. Dan benar saya banyak memnjumpai harga kompor yang mirip di Buka lapak, di OLX, dan di market online lainnya hanya berkisar 400-450rb. Selain itu saya juga searching harga alat penghemat yang dibagikan, hanya 2500 rupiah. 

Benar-benar saya merasa lelah siang itu, mungkin karena memang kondisi saya sedang hamil tua jadi mudah lelah, selain sudah gagal kontrol,  ditambah lagi acara yang berkedok dan memanfaatkan saya. rasanya sangat kecewa. Kalau kata Dilan, mungkin kecewa juga dapat membuat lelah yang berkepanjangan.

Maafkan juga kawan, tulisan saya kali ini sangat panjang. Semoga bermanfaat saja dan bisa dijadikan pelajaran untuk lebih berhati-hati menghadapi sales dengan berbagai macam modusnya.

11 thoughts on “Sales Kompor Bermodus Bagi-Bagi Penghemat Gas Gratis se-RT

  1. Hari ini saya mengalami kejadian yang sama
    Dan tetipu jg
    Baru ngeh pas hitung hitungan dirumah
    Awalnya penawaran dengan penukaran kompor yg dari pemerintah / kompor yang rusak
    Tiba tiba ada penawaran subsidi desa
    Awalnya kalo ditukar dengan kompor lama cicilannya 60rb / bulan x 9bulan
    Kedua yg subsidi desa barang datang dp 50 tambah cicilann 78rb x 7bulan
    Yg beli ada 25 ibu ibu
    Termasuk saya

  2. terima kasih mbak atas ceritanya. baru saja terjadi di tempat saya.. pas ijin kepala desa bilang jualan kompor tp pas ngomong ke RT ngomong mau sosialisasi saja.

  3. Baru mengalami kejadian yg sama persis kmrn. Dan sama juga, sy kecewa krn udh meluangkan wakt, puasa 2lagi. Salesny maksa banget, sampe gak dikasi kesempatan bilang sama suami. anehnya yg dtg 5orang itu kok ya manut2 aja. Trmasuk sy.untung nyampe rmh lgsg telfon suami dan gugling nemu artikel ini. Lgsg deh tak cancel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s