Hi Ramadhan, Kenapa Kau Terburu?

Ramadhan bye

Hi Ramadhan,
Masih ingat dengan saya? Iya, saya yang pertama kali bertemu denganmu belum bisa menyambutmu dengan hangat. Iya, saya menyesal, Ramadhan, tapi mau bagaimana lagi, itu diluar kehendak saya. Meski saya belum bisa menyambutmu dengan hangat kala itu, tapi saya tak berhenti untuk memikirkanmu, benar saya memikirkanmu. Tapi maaf kalau pikiran saya saat itu hanya pikiran egois belaka. Yang saya pikirkan hanya tentang kepentingan pribadi. Apa yang akan saya dapatkan setelah berjumpa denganmu? Apa yang akan saya lakukan untuk menghabiskan hari bersamamu? Manfaat apa yang akan saya dapatkan saat bersamamu?

Hi Ramadhan,
Kenapa kau terburu? Tak terasa, sekarang sudah berada pada penghujung harimu untuk pergi. Jujur saya sangat sedih, Ramadhan. Maafkan saya karena sekali lagi belum puas untuk menyambut kedatanganmu. Masih banyak kegiatan lain yang membuat saya mengabaikanmu. Saya mohon tinggallah lebih lama lagi untuk menemani saya, Ramadhan.

Hi Ramadhan,
Terima kasih karena masih mengijinkan saya untuk bertemu denganmu meski hanya sekejap. Terima kasih karena selama bersamamu, saya telah mendapatkan banyak hal. Denganmu saya bisa bersahabat dengan jati diri saya, dengan istiqomah, dengan kepedulian, dengan keikhlasan, dengan kesabaran, dengan kasih sayang, dengan solidaritas, dan dengan pengorbanan.

Hi Ramadhan,
Bersamamu saya mengerti artinya keikhlasan. Masih ingat saat sang Ibu menanyakan satu pertanyaan kala itu, “Sudah katam berapa kali nduk?” namun serentak sang Ayah membalas, “Sudah jangan dihitung berapa banyaknya, Gak papa yang paling penting selalu mengingat, tidak meninggalkan Al-Qur’an setiap harinya dan ikhlas mengerjakannya.” Saya tersadar Ramadhan, bahwa kuantitas memang penting, tapi kualitas pun tak kalah penting.

Hi Ramadhan,
Bersamamu saya mengenal kepedulian. Masih ingat saat Tarawih bersama sang sahabat, kemudian dia mengungkapkan isi hatinya kala itu, “Saya sebenernya bukan ndak suka sama kipas angin atau AC, tapi saya ingin ikut merasakan saudara-saudara yang diluar sana yang masih belum berkesempatan menikmati fasilitas ini, saudara-saudara yang di Pakistan, yang di Turki, dan yang di manapun.” Saya tersadar, betapa banyak orang yang masih belum seberuntung saya. Ya Rabb…

Hi Ramadhan,
Bersamamu saya dapat merasakan nikmatnya sebuah keikhlasan. Masih ingat saat seorang ibu-ibu berkutat dalam dapur dan berbuka puasa bersama di masjid kala itu, “Alhamdulillah makanannya laris manis” Ibu itu langsung merekahkan senyum bangganya saat melihat panci-panci kosong bekas makanan berbuka telah kembali ke dapur. Para penikmat makanan tak ada yang tau siapa yang memasak makanan yang ia nikmati. Saya bertanya, “Memang dapat untung berapa bu?” tentu sambil tersenyum. “Yah untungnya ya ndak ada disini mbak, semoga saja nanti di akherat bisa diambil.” Aamiin….

Hi Ramadhan,
Bersamamu saya mencoba untuk bersabar. Masih ingat saat sang nafsu, sang ego, dan sang emosi yang tak pernah henti menggoda, dalam hati kau yang selalu saya jadikan kambing hitamnya untuk melawan. “Sabar, sekarang bulan Ramadhan, lagi puasa kan?” Saya harap tak hanya bulan ini saja kau bersedia saya jadikan kambing hitam. 😥

Hi Ramadhan,
Bersamamu saya kembali bercinta dengan kasih sayang. Masih ingat saat seorang sahabat mengingatkan akan kesalahan yang telah saya lakukan? Bukankah itu pertanda bahwa dia masih sayang dan berharap yang terbaik untuk orang yang disayanginya? Masih ingat pula saat sang sahabat memberikan hadiah atas kesuksesan yang (akan) diraih? Bukankah hadiah merupakan sebuah tanda kasih sayang?

Hi Ramadhan,
Bersamamu, saya tidak akan pernah lupa semua pelajaranmu tentang solidaritas dan pengorbanan.

Hi Ramadhan,
Harapan terakhir saya adalah tetaplah bersama menuntun saya untuk menuju ke arah yang lebih baik. Saya sudah terlalu lama jauh dan tersesat dari arah yang benar itu. Saya masih membutuhkanmu. Saya akan selalu menanti kedatanganmu. Semoga Allah masih berkenan mempertemukan kita kembali. 😥

-Sahabatmu-
Atut

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s