Pelajaran Hari Ini: Penghargaan Nobel Penemu LED Biru

Salam hangat kawan,
Bagaimana kabar hari ini? Semoga sehat dan sejahtera selalu untuk kita semua.

Hari ini saya ingin bercerita tentang pelajaran yang saya peroleh pagi tadi kawan, saat pertama kali memasuki kelas Solid State Electronics di semester baru Fall 2015. Kelas tersebut diampu oleh Prof. Bao-Hong Lin. Banyak pengetahuan baru yang beliau sampaikan. Dan salah satu topik yang sangat menarik perhatian saya adalah tentang Penghargaan Nobel yang diberikan kepada penemu Light Emitting Diode (LED) biru. Kenapa dengan LED biru?

LED biru memberikan banyak pengaruh besar dalam harkat hidup orang banyak, termasuk dalam sejarah hidup saya. Saya lulus dari jenjang pendidikan S1 karena penelitian tentang LED. Dan belakangan kemaren saya juga sempat melakukan percobaan dengan menggunakan LED untuk meradiasi gold nanopartikel meski pada akhirnya sekarang saya berkonsentrasi menyelesaikan penelitian dengan menggunakan laser femtosecond untuk meradiasi material saya.

***

LED biru pertama kali ditemukan oleh dua ilmuwan Jepang dan satu dari Amerika Serikat. Mereka adalah; (1) Isamu Akasaki (85th), seorang profesor di Universitas Meijo dan profesor di Nagoya University; (2) Hiroshi Amano (54th), juga seorang profesor di Universitas Nagoya; dan (3) Shuji Nakamura (60th), seorang profesor di University of California, Santa Barbara.

Physics Nobel Prize winners Professor Isamu Akasaki, American Inventor Shuji Nakamura and Professor Hiroshi Amano.

Peraih Nobel Fisika Professor Isamu Akasaki, Shuji Nakamura dan Professor Hiroshi Amano.
Sumber gambar: di sini

Ketiganya menciptakan LED biru dalam sebuah riset terpisah pada awal 1990-an. Sebelumnya, memang sudah diciptakan lampu LED oleh peneliti lain, namun itu masih berwarna merah dan hijau. Sedangkan warna biru ini merupakan sebuah inovasi karena cahayanya bisa digunakan untuk teknologi penerangan yang lebih hemat energi, termasuk untuk lampu jalan dan bahkan layar pada monitor dan smartphone saat ini.

Penemuan mereka terus disempurnakan hingga akhirnya dapat memancarkan cahaya putih terang yang tahan lama, hemat energi dan ramah lingkungan. “Penemuan LED biru baru berusia 20 tahun, namun telah memberikan kontribusi untuk menciptakan cahaya putih dengan cara yang baru untuk kepentingan kita semua,” kata panitia Nobel dalam keterangan resminya saat memberikan hadiah nobel kepada ketiga penemu LED biru pada tahun 2014.

Lampu LED biru mampu menghasilkan tingkat penerangan hingga 300 luminasi per watt. Tingkat penerangan itu setara dengan cahaya yang dihasilkan oleh 16 lampu pijar dan 70 lampu neon. Sedangkan daya tahan LED hingga 100.000 jam, lebih lama dibanding lampu pijar yang hanya 1.000 jam dan lampu neon 10.000 jam.

Sekitar seperempat dari konsumsi listrik dunia digunakan untuk tujuan penerangan, LED ini bisa berkontribusi untuk menghemat sumber daya bumiPenemuan mereka revolusioner. Bola lampu pijar menyala di abad 20, sedangkan abad ke 21 akan diterangi oleh lampu LED  (Panitia Nobel)

led

LED biru yang bisa menghasilkan cahaya putih.
Sumber gambar: di sini

***

Bapak profesor yang mengajar saya pun bercerita tentang keunggulan LED biru yang mampu berkontribusi menghemat seperdelapan sumber daya bumi. Yang mana telah disebutkan sebelumnya bahwa sekitar seperempat dari konsumsi listrik dunia digunakan hanya untuk tujuan pencahayaan. Bisa membayangkan? hal tersebut berarti performa lampu LED dua kali lipat lebih bagus dibandingkan lampu pijar biasa.

Untuk mendapatkan penghargaan Nobel, tidak hanya dibutuhkan seberapa keras kita belajar dan bekerja, namun juga seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan untuk orang banyak. (Prof. Bao-Hong Lin)

Dari penghargaan nobel fisika penemu LED biru tersebut bisa kita ambil pelajaran kan, bagaimana LED biru bisa memberi dampak yang sangat besar dan terasa bagi orang banyak tidak demikian dengan LED merah atau hijau yang sebelumnya juga sudah ditemukan. Memang sama-sama bermanfaat namun LED biru lebih dapat dilihat manfaatnya secara kasat mata orang awam dibandingkan dengan LED warna lain.

Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang PALING bermanfaat bagi manusia. (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Demikian pelajaran yang dapat saya petik hari ini kawan. Semoga kita semua bisa menjadi manusia yang PALING bermanfaat bagi manusia lainnya. Aamiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s