Terkadang

S__22536195

Terkadang berpikir menjadi sebuah batu terlihat lebih menyenangkan. Tanpa tuntutan menjadi lebih ringan atau lebih berat dari aselinya. Berlaku apa adanya, pasrah tanpa meminta banyak tuntutan. Bahkan tak pernah ada rasa iri maupun cemburu diantara mereka. Atau barangkali kau pernah mendengar percakapan sebuah batu kali yang iri dengan sebutir mutiara dalam kalung seorang saudagar? Lalu apakah kita yang masih sering merasa iri pada bahkan kawan sepadannya tak malu pada batu?

Terkadang berpikir tentang air pun lebih menyejukkan hati. Air yang senantiasa memberi kehidupan pada setiap elemen. Berubah sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Saat dibutuhkan dalam bentuk cair mereka mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik. Saat dibutuhkan dalam bentuk uap mereka tetap mampu melaksanakannya. Apalagi dalam bentuk padatan yang senantiasa mereka nantikan untuk mengistirahatkan diri dari siklus yang telah jauh mereka jalani. Pernah kah kita mampu melepas ketergantungan pada air?

Terkadang pula berpikir menjadi sebuah pohon akan lebih membahagiakan. Tak ada satu bagian pun yang tak berguna darinya. Bijinya bermanfaat, akarnya bermanfaat, batangnya bermanfaat, rantingnya bermanfaat, daunnya bermanfaat, bunganya bermanfaat, buahnya bermanfaat, bahkan bangkainya pun akan bermanfaat. Apalagi tak sedetik pun dari pohon dihabiskan tanpa dzikir pada-Nya. Sekarang apalah kamu menyesal tak dilahirkan sebagai pohon saja?

Terkadang melihat hewan yang beraneka ragam, hidup di berbagai habitat yang berbeda, dengan keahlian dan kemampuan masing-masing yang unik. Mereka mampu untuk menerima segala rejeki dari Yang Maha Kuasa dengan bijak. Apalagi selalu merasa kekurangan, tak pernah. Tanpa adanya keinginan untuk berlomba-lomba memperebutkan kekuasaan, kekayaan dan lagi ketenaran. Bagaimana bisa kita lebih parah buruknya dari hewan dalam hal kesewenang-wenangan?

Manusia memang bukanlah batu yang biasa menerima kodratnya. Manusia bukan pula air yang mampu berubah saat dibutuhkan dengan tepat. Manusia bukan tumbuhan yang hidupnya hanya didedikasikan untuk kemaslahatan. Apalagi manusia juga bukan hewan yang tanpa berpikir panjang memikirkan nasibnya esok hari akan bagaimana.

Manusia adalah mahluk ciptaan-Nya yang paling sempurna. Sempurna dari segalanya kecuali Sang Pencipta. Sempurna dari batu, dari air, dari tumbuhan, bahkan dari hewan. Tinggal bagaimana kita membuat kesempurnaan itu berarti, kesempurnaan itu tidak menjadikan congkak, dan kesempurnaan itu dapat lebih bermanfaat dibanding lainnya. Karena kesempurnaan itu kelak akan dipertanggung jawabkan.

Iklan

2 thoughts on “Terkadang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s