Tak Hanya (Inginkan) Perpisahan Termanis

Salam hangat kawan,

Bagaimana kabarnya? Masih penuh puasanya? Saya? Jujur saya sudah bolong (harap maklum, kodrat wanita). Berapa lembar mushaf yang sudah terjamah? Berapa banyak Rokaat sholat sunnah yang telah terlaksana? Berapa banyak sholawat yang terucap? Saya? Rahasia kawan, biarlah hanya saya dan Allah saja yang tau.

Kawan, tak terasa bukan, Bulan Ramadhan akan segera meninggalkan kita. Apa yang sudah kita peroleh? Apakah kita benar-benar menikmatinya? Ataukah hanya berpura-pura menikmatinya saja? Bagaimana perasaan kita sekarang? Sedih? Susah? Atau bahkan senang? Sekali lagi hanya hati nurani kita sendirilah yang mampu menjawabnya.

Jujur saya pribadi sedang galau kawan. Usia saya sekarang 24 tahun lebih 5 bulan untuk perhitungan tahun Masehi. Sedangkan untuk perhitungan tahun Hijriyah usia saya sudah 25 tahun lebih 2 bulan. Itu pertanda saya sudah pernah bertemu dengan Bulan Ramadhan 25 kali dalam hidup saya. Namun saya masih belum bisa menyambut kedatangannya dengan sempurna. Bukankah Bulan Ramadhan ini adalah Bulan yang paling Istimewa dibanding 11 bulan lainnya.

Ah sudahlah, penyesalan memang selalu berada di akhir. Kini tinggal hari terakhir (insyaAllah) Ramadhan akan segera meninggalkan kita. Semoga segala amal baik yang pernah kita perbuat kelak diterima oleh Allah, dan segala amal buruk kita diampun oleh Allah. Semoga kita semua bukanlah termasuk orang yang celaka. Sungguh celakalah bagi kita bila Ramadhan berlalu meninggalkan kita dan kita tidak termasuk hamba yang diampuni. Seperti sabda Rasulullaah SAW:

رغم أنف رجل ذكرت عنده فلم يصلّ عليّ , ورغم أنف رجل دخل عليه رمضان ثـمّ انسلخ قبل أن يغفرله , ورغم أنف رجل أدرك عنده أبواه الكبر فلم يدخل الجنّة

“Celakalah seseorang yang bila namaku disebut disisinya namun ia tidak membaca shalawat untukku, Celakalah seseorang yang menemui bulan Ramadhan kemudian meninggalkannya namun ia belum diampuni. Dan celakalah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya telah menginjak usia lanjut lalu tidak menyebabkannya masuk surga.”(HR. at-Tirmidzi & Ahmad)

Marilah kembali kita hidupkan malam terakhir Ramadhan ini dengan sesuatu yang Istimewa. Tak ada kata terlambat. Semoga perpisahan kita dengan bulan Ramadhan ini mampu membuat pribadi kita lebih bernilai di hadapan-NYa dibanding sebelum-sebelumnya. Semoga perpisahan ini tak hanya manis dilihat namun terasa nikmat dirasakan. Aamiin.

Ramadhan, I will miss you. I hope I can meet you again next year with wonderfull situation.

*Tulisan ini dibuat untuk meramaikan songlit untuk Fiqih, Enya, Septi, tutus dan Ilmi, dari lagu “Perpisahan Termanis” oleh Lovarian.

Iklan

2 thoughts on “Tak Hanya (Inginkan) Perpisahan Termanis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s