Pedoman dan Keyakinan

Salam hangat kawan,

Siang hari ini saya ingin berbagi seputar sedikit perbincangan dengan seorang kawan. Kawan saya tersebut bukan beragama Islam. Dia menganut ajaran agama lain (maaf tidak saya sebutkan).

Disela-sela kesibukan kita masing-masing dan di meja masing-masing tiba-tiba muncul sebuah obrolan yang ujung-ujungnya cukup seru hingga menaikkan (sedikit) amplitudo suara saya. 

Anggap saja kawan saya tersebut (K) dan saya (A)

K: Atut, kamu sudah selesai makan siang?
A: Rasanya saya tidak akan makan siang lagi, saya masih kenyang, tadi saya baru makan berat jam 10 pagi. Kamu tidak makan?
K: Belum, saya masih bosan dengan makanan kantin.
A: Kamu makan berapa kali sehari?
K: Dua kali makan berat dan beberapa makanan ringan.

-skip-

K: Kalau kamu menikah, kamu mencari orang yang bagaimana? Muslim? Orang Indonesia?
A: Ya keduanya.
K: Bagaimana kalau orang yang agamanya berbeda dengan kamu mau menikahimu? Apakah kamu mau?
A: Bisa jadi, asalkan dia mau memeluk agama saya terlebih dahulu.
K: Berarti kamu terlalu memaksakan kehendak, bagaimana kalau dia tidak mau?
A: Gampang saja, saya tidak akan menikah dengan dia.
K: Kenapa?
A: Karena itu pilihan saya. Lalu bagaimana dengan kamu? kapan kamu akan menikahi pacarmu?
K: Saya tidak tahu, saya masih belum punya uang. Saya belum bekerja.

-skip-

K: Kenapa di agamamu mempersulit kamu dan terlalu kaku?
A: Contohnya?
K: Kamu harus bangun jam 4 pagi untuk sholat disaat yang lain sedang tidur dan harus ditempat khusus, sedangkan sembahyang bisa kapan saja bukan? Dan masih banyak yang lainnya.
A: Karena di agama kami punya peraturan dan kewajiban yang harus dipatuhi. Bagaimana dengan agamamu? Kapan kamu sembahyang dan bagaimana?
K: Saya bisa kapan saja sembahyang, saat duduk, berdiri, tidur, hanya tinggal memejamkan mata berterimakasih pada tuhan karena memberi kehidupan yang sekarang, itu sudah lebih dari cukup.
A: Lalu kenapa kamu melakukan itu?
K: Karena saya percaya dan berkemauan untuk melakukannya. Tidak terikat, hanya sukarela. Sedang kamu kan terikat.
A: Saya tidak merasa terikat. Sekarang saya tanya apa yang sedang kamu lakukan sekarang?
K: Sedang menulis.
A: Menggunakan apa? komputer kan?
K: Iya
A: Apa yang kamu lakukan agar kamu bisa menggunakan komputer tersebut? Menyalakannya bukan? Bagaimana cara kamu menyalakannya?
K: Mencolokkan kabelnya ke sumber listrik, kemudian memencet tombol start, mulai.
A: Nah sekarang kenapa kamu lakukan itu? Bukankah itu sebuah peraturan yang harus kamu lakukan saat kamu ingin menggunakan komputer? Sama seperti agama saya, saya punya peraturan yang sudah diatur untuk menjalani kehidupan ini!
K: Tentu saja berbeda, ini hanyalah sebuah komputer. Berbeda dengan kepercayaan dan keyakinan.
A: Baiklah, berarti kesimpulannya, ini adalah kepercayaan saya, dan kepercayaanmu! Beres kan!

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku” (Al-Kafirun:6)

Semoga Allah selalu memberikan rahmatnya yang berupa kenikmatan Iman dan Ketaqwaan kepada kita semua, para hambaNya yang sangat lemah ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s