Percakapan, Salju, dan Akhirat

Salam hangat kawan,

Kali ini saya ingin berbagi seputar percakapan saya semalam. Percakapan dengan Bapak dan Ibu. Kurang lebih beginilah rasanya yang namanya LDR (Long Distance Relationship).

Sebelumnya kawan, saya dan kawan-kawan sekamar berinisiatif dan berencana untuk pergi mencari Salju. Benar, di tempat tinggal saya yang sekarang, Taipei, tidak dianugerahi turun salju. Alhamdulillah karena masih dianugerahi dingin yang hanya minimal ±9 ºC. Meski hanya segitu, rasanya tangan sudah selalu gemetaran dan menggigil saat merasakan kedinginannya. Maklum saya berasal dari negeri Tropis. 😀

Baiklah, mari kita simak bersama-sama percakapan tersebut. Percakapan seputar Salju dan ujung-ujungnya mendapat siraman rohani untuk mengingat Akhirat.

(A: Atut, I: Ibuk, B: Bapak)

–Beberapa percakapan diskip–

A: Pak, Buk, besok saya mau lihat salju di gunung, boleh ya? 😀
I: Buat apa? ndak ada tujuannya, ndak usah aneh-aneh. ndak usah naik-naik (Bahasa Jawaya: menek-menek) (rasanya bakalan gak diijinin #sadlytrue)
A: Ndak aneh-aneh buk, kan ada tujuannya, lihat salju. :3
I: Iya kalau sudah lihat salju memang kenapa? kan di tipi-tipi juga sudah bisa lihat salju.
A: Ya beda Buk, kalau di tipi-tipi kan cuma lihat tok, ndak bisa merasakan. Mumpung disini juga Buk. -__-”
I: Yah sama saja, ini lho Pak, anake mau lihat salju katanya.
B: Kenapa nduk kok mau lihat salju?
A: Yah karena pingin melihat dan merasakan langsung dinginnya salju Pak. Kan di Neraka nanti katanya gak cuma panas banget, tapi juga dingin banget. Jadi minimal bisa sedikit merasakan kesakitan di neraka dan buat pengingat juga. #sesi bijak
B: Iya, tapi ya jangan berharap masuk neraka dulu, diusahakan semampu mungkin minta pada Allah agar senantiasa diberi RahmatNya dan bisa masuk Surga tanpa dihisab.
A: Iya pak, bener kalau itu. Bismillah, InsyaAllah. Pendungane juga ya Pak. 😀
B: Selain itu juga bisa buat perenungan, betapa luar biasanya ciptaan Allah yang bisa menurunkan hujan salju dengan sedemikian rupa. (Eh, dapet sinyal baik :D)
A: Iya bener Pak, buat Tadabur Alam, sambil merenungkan kebesaranNya. 😀
B: Kapan mau kesana? Sama siapa aja? Tempatnya jauh ndak?
A: (Alhamdulillah) InsyaAllah kalau jadi minggu depan Pak, sama temen-temen kamar, rombongan kok, paling ya jaraknya kayak Gresik-Malang. 😀
B: Lumayan jauh ya. Ya sudah, pokoknya hati-hati. Jangan pernah berhenti untuk mengingat Allah dimanapun dan kapanpun berada.
A: Iya pak, InsyaAllah. 😀
I: Sudah, kalau begitu nanti jangan kayak disini. Disana negara asing. Hati-hati. Jangan pisah sama rombongan. Pokoknya jangan sampai sendirian.
A: Memang kalau disana saya gimana Buk?
I: Biasanya kan sukanya penasaran, kepinginan, trus nekat kemana-mana. (Bahasa Jawanya: srudak-sruduk)
A: Hehe, Iya Buk, Doakan saja semoga selamat terus.
I: Kalau itu Ibuk, Bapak, sudah gak perlu diminta, InsyaAllah dido’akan terus. Saling mendo’akan.
A: (Alhamdulillah)

–Percakapan diskip sampai disini–
(Percakapan sudah diterjemahkan dari dari Bahasa Jawa menjadi Bahasa Indonesia yang kurang baik dan benar)

“Dan kepada Tuhanmulah berakhir.” Qs An-Najm (53): 42.

#Pelajaran setelah diskusi panjang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s