Kriteria Pasangan Dan Ta’aruf yang Nyunnah

Salam hangat kawan (meskipun disini suhunya cukup dingin)…

Kali ini saya akan berbagi sedikit ilmu yang saya peroleh saat mengikuti Kajian Jum’at Malam (KAMAL) yang diselenggarakan pada hari Jum’at malam di Mushollah NTUST oleh Formmit Utaratu. Tema malam ini cukup menarik kawan (terkhusus bagi yang belum menikah) “Kriteria Pasangan dan Ta’aruf yang Nyunnah” dan dipimpin langsung oleh Ust. Burniadi.

IMG_20141213_142521

Ust. Burniadi

Penasaran? Langsung saja mari  kita ikuti bersama-sama. Check it out… 😀

***

Makna Pernikahan

Pernikahan itu selayaknya kita berada pada sebuah institusi atau organisasi pada umumnya. Namun yang membedakan adalah organisasi dalam pernikahan ini bukan sesuatu yang lahir atau direncanakan dan didesain oleh manusia, melainkan dirancang atau didesain oleh Allah SWT. Karena sunnatullah itulah maka fitrahnya setiap manusia akan condong untuk menuju kesana. Tidak peduli siapapun, baik orang yang membangkang sekalipun pasti akan menginginkan sebuah hubungan yang ingin dilegalkan.

Allah berfirman dalam ayatnya:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya : “Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” Qs: Ar-Rum (21)

Didalam ayat tersebut terangkum sebuah makna dan pengertian sebuah cinta.

  •  Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri; yang dimaksudkan adalah seorang istri dari jenis kita masing-masing, manusia dengan manusia, jin dengan jin, dan sebagainya. Dan setiap manusia pasti diciptakan secara berpasang-pasangan. Kalaupun tidak bertemu di dunia, pasti akan bertemu di akherat kelak.
  • …لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا (supaya kamu merasa nyaman kepadanya); Sakinah, ketenangan, kenyamanan. Tak hanya dalam ayat tersebut dijelaskan tentang sakinah, didalam surat Yunus (67) juga kembali disebutkan: “Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya (litaskunu fihi) dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar”
  • وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً…(Mawaddah); Eros, perasaan ingin bersatu atau bersama satu sama lain.
  • … وَرَحْمَةً (Rahmah); higher love, kasih sayang dan kelembutan, timbul terutama karena ada ikatan.

Namun, perlu diketahui bahwa sebuah pernikahan tidak akan dapat bertahan lama jika tujuannya hanya untuk cinta. Dalam kata lain sebuah pernikahan adalah sebuah cinta, kalau tujuannya hanya untuk cinta maka berarti cinta untuk cinta? Jeruk makan jeruk?

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa mengawini seorang wanita karena memandang kedudukannya maka Allah akan menambah baginya kerendahan, dan barangsiapa mengawini wanita karena memandang harta-bendanya maka Allah akan menambah baginya kemelaratan, dan barangsiapa mengawininya karena memandang keturunannya maka Allah akan menambah baginya kehinaan, tetapi barangsiapa mengawini seorang wanita karena bermaksud ingin meredam gejolak mata dan menjaga kesucian seksualnya atau ingin mendekatkan ikatan kekeluargaan maka Allah akan memberkahinya bagi isterinya dan memberkahi isterinya baginya.” (HR. Bukhari)

Selain sebagai obat untuk meredam gejolak mata dan menjaga kesucian seksualnya, tujuan dari sebuah pernikahan adalah mendekatkan ikatan kekeluargaan, hidup bersama, in line dalam memperjuangkan segala permasalahan hidup.  Yang belum menikah mungkin akan berpikir bahwa menikah itu berat sebab segala permasalahan yang harus dihadapi. Namun yang sudah menikah dan yang sudah menjalankan akan mengartikan setiap tantangan yang dihadapi itu selalu menimbulkan kebahagiaan tersendiri.

Kriteria Pasangan

Untuk menentukan kriteria pasangan sebenarnya memang tergantung dari pribadi masing-masing. Namun yang terpenting dalam menentukan kriteria pendamping hidup kita adalah “Jangan terlalu banyak dan terlalu detail”. Bukankah suatu hal yang berlebihan itu  juga tidak bagus?

Masih ingat cerita tentang Bani Isra’il yang disuruh Nabi Musa untuk mencari sapi betina? Bani Isra’il semakin mempersulit dirinya sendiri karena terlalu banyak bertanya tentang detail sapi yang harus dicari. Semakin banyak bertanya, mereka justru semakin sulit mendapatkan sapi yang diminta bukan? Andai mereka menurut saat perintah pertama, mereka pasti bebas memilih sapi manapun. Seperti itulah jika kita terlalu detail dalam menentukan kriteria pasangan kita, kita akan semakin kesulitan dalam menemukannya. Dalam menentukan pasangan yang terpenting adalah niat karena Allah Ta’ala saja.

Dari Abi Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

تُنْكَحُ المَرْأةُ لأَرْبَعِ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وجَمَالِهَا ولِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذاتِ الدين تَرِبَتْ يَدَاك

Artinya: ”Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena nasabnya, hartanya, kecantikannya, dan agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat.
(HR. Bukhari, Muslim)

Jadi dalam menentukan kriteria pasangan kita dianjurkan untuk memilih Ad-Din (Agama) terlebih dahulu. Agama dalam hal ini ada tiga aspek yakni Aqidahnya, Ibadahnya, dan Ahklaqnya. Setelah menentukan agama sebagai kriteria pertama maka ketiga kriteria yang lain akan mengikuti atau sebagai nilai tambahan saja. Namun memang tidak menutup kemungkinan bahwa yang paling beruntung adalah kita yang bisa mendapatkan keempat kriteria tersebut.

Selain itu dalam sebuah hadist juga diceritakan bahwa terdapat seorang pria yang menemukan seorang wanita yang cantik dan memiliki martabat tinggi namun ia mandul. Kemudian pria tersebut bertanya kepada Rasulullah SAW apakah dia diperbolehkan untuk menikahinya?, namun Rasulullah SAW melarangnya dan menyuruh pria tersebut untuk menikahi wanita yang penyayang dan yang mudah beranak banyak (subur). Oleh karena itu salah satu kriteria lain dalam menentukan pasangan adalah seorang wanita yang subur dan penyayang.

Dalam hadist lain juga diceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bertanya kepada Jabir.
Rasulullah SAW: “Apakah kamu baru saja menikah? Wahai Jabir”
Jabir: “Ya.”
Rasulullah SAW: “Gadis atau janda?”
Jabir: “Janda.”
Rasulullah SAW: “Kenapa kamu tak menikahi gadis saja. Kamu bisa bermain-main dengannya & dia bisa bercanda denganmu.”
Jabir: “Wahai Rasulullah, Abdullah (bapaknya) telah meninggal & meninggalkan tujuh anak perempuan atau sembilan. Saya menikahi (istrinya yang janda) agar bisa mengurus mereka.” Maka Rasulullah SAW mendo’akannya.

Dari cerita dalam hadist tersebut dapat disimpulkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk menikahi gadis agar dapat lebih bersenang-senang dari pada menikahi seorang janda.

Pasangan hidup itu selayaknya sebuah pakaian. Saling menutupi kekurangan dan saling memperindah satu sama lainnya. Kekurangan kita ditutupi oleh pasangan, dan sebaliknya kekurangan pasangan kita yang menutupi.

Ta’aruf yang Nyunnah

Bagi sebagian kalangan, terkadang telah timbul rasa cinta diantara lawan jenis sebelum pernikahan. Hal tersebut adalah wajar dan normal. Fitrah menyukai dan mencintai lawan jenis dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 14:

“Dijadikanlah indah pada (pandangan manusia kecintaan pada apa-apa yang diinginkan, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).”

Bukanlah sebuah dosa memiliki rasa cinta kepada makhluk sebelum pernikahan, namun bagaimana menyalurkan perasaan itulah yang akan dihukumi oleh syariat. Antara menjaga kehormatan diri dengan terus melakukan perbaikan atau dengan menikah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah disebutkan, “Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai seperti ‘pernikahan’“.

Dan jalannya pernikahan sendiri dibagi menjadi 4; Ta’aruf, Khitbah, Akad, dan Walimah. Untuk tahap pertama, ta’aruf, kita bisa ta’aruf kepada calon secara langsung sekaligus kepada wali-nya. Setelah sudah merasa yakin dan cocok dengan calon dan walinya, langkah kedua adalah proses peng-khitbah-an. Perlu diperhatikan, bahwa meski sudah di khitbah, belum berarti sudah boleh melakukan apapun yang tidak sesuai dengan syari’at karena belum menjadi suami/istri kita. Selanjutnya proses Akad, dan terakhir adalah walimah. Seluruh proses tersebut jangan sampai dipersulit dengan kebudayaan atau adat istiadat yang tidak sesuai dengan syari’at karena akan memberatkan proses pernikahan.

Kalau seandainya kita masih belum siap untuk menikah perlu dipertanyakan lagi, apa yang membuat kita ragu untuk menikah. Jika kita tidak bisa mendeskripsikan keraguan untuk menikah tersebut berarti bisa jadi keraguan tersebut merupakan bisikan dari Syaitan.

Jadi, buruan segeralah menikah bagi yang belum menikah… #cermin 😀

***

Demikianlah sedikit catatan kecil hasil berburu ilmu di suhu yang dingin di Kota Taipei. Allahu’alam, Semoga bermanfaat…

Iklan

2 thoughts on “Kriteria Pasangan Dan Ta’aruf yang Nyunnah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s