Lebaran Kurban di Bumi Allah Yang Lain

Salam hangat kawan,
Selamat Hari Raya Qurban 1435 kawan,,

اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَر اَللَّهُ اَكْبَرْ ـ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ ـ اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ

Bagaimana Hari Raya-mu kawan? Apakah menyenangkan? Sudah makan satenya? Lalu bagaimana dengan Hari Raya saya?

Baiklah kawan, seperti biasa, saya selalu berbaik hati dan bersuka cita untuk berbagi cerita tentang Hari Raya saya. 

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya kawan, Hari Raya Qurban kali ini bagi saya sangatlah istimewa. Istimewa karena untuk pertama kalinya saya merayakan Hari Raya Qurban di negeri Asing nan jauh dari rumah, Negeri Taiwan.

Jika kawan disana ada yang merayakan Hari Raya Qurban hari ini, 5 Oktober 2014, saya sudah lebih dulu merayakannya kawan, kemarin tanggal 4 Oktober 2014. Alhamdulillah, saya masih beruntung bisa merasakan Sholat Ied berjama’ah di Taipei Grand Mosque kawan.

TGM

Taipei Grand Mosque, sumber gambar: disini

Kemarin pagi, sejak pukul 06.00 GMT+8 saya sudah menyiapkan diri untuk berangkat menuju Masjid terbesar di kota Taipei dengan menggunakan sepeda ungklik hasil pinjaman. Perjalanan dari asrama kampus NTUST menuju masjid hanya memakan waktu sekitar 15 menit kawan. Kebetulan pagi itu saya bersepeda dengan 4 kerabat lainnya.

Masjid dipenuhi oleh berbagai macam suku ras namun tetap se-agama, yakni ad dinul Islam. Ada sebagian orang lokal, ada sebagian berkulit hitam, ada orang Arab, dan tentu juga banyak orang Indonesia. Kami mulai melaksanakan Sholat Ied tepat pukul 07.15, molor 15 menit dari jadwal yang ditentukan. Setelah sholat 2 rokaat, kami dengan khidmat mendengarkan Khotbah berbahasa Inggris dari sang Khatib.

Setelah selesai khotbah, kami semua mendapatkan se-mangkuk bubur hangat yang berisi labu, sebiji Korma, sebuah gorengan, dan sebotol air mineral. Jangan membayangkan rasa buburnya kawan, tentu bubur disini jauh jika dibandingkan dengan bubur ayam bapak pedagang kaki lima yang biasanya dijual dengan harga 6rb di pinggir jalan di Indonesia. 😀

Di masjid ini tidak menyelenggarakan penyembelihan hewan kurban kawan, jadi sekali lagi jangan berharap bisa merasakan nikmatnya memakan sate dari hasil daging kurban. 😥 Yang sangat kental terasa saat ini adalah sebuah kebersamaan para umat islam di bumi yang pemeluk agama Islam-nya minoritas. 😀

***

Apakah kalian penasaran dengan bagaimana perasaan saya kawan? Yah, meski tidak ada yang bertanya saya akan bercerita kawan. #melas

Namun, sebelum saya bercerita tentang perasan saya, saya akan sedikit bercerita tentang kehidupan umum di Negara Taiwan menurut pengamatan saya yang hampir satu bulan tinggal di negara ini.

Negara Taiwan sangat nyaman kawan. Jauh jika dibandingkan dengan Indonesia. Disini para penduduknya sangat disiplin kawan. Bayangkan coba, saat di Zebra cross, kalian akan menjumpai penduduk yang tidak akan menyebrang sebelum traffic light-nya berwarna hijau, meski jalanan tersebut sepi dari kendaraan bermotor. Tak hanya itu, saat naik Bus angkutan umum, para penumpang yang akan membayar dengan uang koin akan bebas dipersilahkan membayar sendiri dengan memasukkannya ke tempat koin yang disediakan. Itupun kalau seandainya penumpangnya mau curang dan tidak membayar, pak sopirnya pun tak akan tau. Namun sekali lagi penduduk disini disiplin, jujur dan teratur kawan. Jauh jika dibandingkan dengan negara Indonesia bukan?

Lalu kalau saya disuruh memilih mana yang terbaik antara Negara Taiwan dengan Negara Indonesia, Saya tetap akan memilih Negara Indonesia adalah negara yang terbaik bagi saya kawan. Meski disini lebih terarur, dan lebih baik dari banyak hal jika dibanding Negara Indonesia.

  • Disini tak ada keluarga besar saya kawan. Bapak, ibu, serta saudara-saudara saya yang selalu mengisi hari-hari saya dengan kasih sayang, candaan dan tawa yang tak pernah bosan untuk saya nikmati kawan. Saya rindu mereka 😥
  • Disini saya tidak pernah bisa mendengar suara Adzan tiap waktu kawan. Jadi saya harus mempunyai jadwal sholat sendiri, tidak seperti di Indonesia yang kumandang adzan selalu terdengar dimana-mana setiap waktunya. Saya rindu suara Adzan 😥
  • Disini saya tidak bisa merasakan Sate di hari lebaran kawan. Tidak seperti saat di Indonesia, baik di rumah, di pondok, di sekolah, atau di kampus dulu, saya selalu bisa merasakan tusukan Sate dari daging kurban. Saya rindu makan Sate daging kurban 😥
  • Dan banyak rindu-rindu lain yang tak dapat saya tuliskan disini. Dan itu tentu semuanya hanya ada di Indonesia. Saya sedang merindu kawan, rindu yang teramat sangat. 😥

allahu akbar

***

Namun beruntung kawan, saya disini masih mempunyai keluarga. Saya tidak sendirian. Saya masih mempunyai keluarga senasip, sepenanggungan, se-iman dan se-Agama Islam. Meski disini saya tidak dapat merasakan nikmatnya daging kurban, saya masih bisa merasakan kebersamaan dan kehangatan keluarga baru di bumi perantauan kawan. Terimakasih ya Allah,,,

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Artinya: Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

bancaan Id Qurban 1

bancaan Id Qurban 2

Caption Photo: Acara makan-makan tasyakuran Idul Qurban yang dilaksanakan oleh Formmit (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia Taiwan), Minggu, 5 Oktober 2014, di IB (International Building) NTUST Lt.2.

Photo by: Mas Ghilman

Iklan

7 thoughts on “Lebaran Kurban di Bumi Allah Yang Lain

  1. Ping-balik: Karena Sebelum Lebaran Pasti Ada Puasa | Navigasi Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s