Hakikat Minta Maaf Dan Memaafkan

Salam hangat kawan,

Apakah kalian pernah merasakan kesal kepada seseorang karena perbuatannya? Ataukah kalian pernah merasa tidak enak atau salah tingkah kepada seseorang karena perbuatan kita? Hey, ini tahun 2014 kawan. Jangan hanya karena saking mangkelnya dengan seseorang lantas kita enggan untuk mengajaknya bicara. Atau juga jangan karena kita tidak enak pada seseorang (sungkan) lantas kita tidak bersahabat lagi dengannya. Sudah tidak jaman lagi kawan.

Sumber gambar: disini

Sebenarnya satu hal yang ingin saya bagikan disini adalah betapa berharganya sebuah kata “Maaf” kawan. Terkadang kita pernah berfikir, “Buat apa coba minta maaf, bukankah yang salah itu dia, bukan saya?”. Terkadang juga kita berfikir, “Aduh masak iya saya harus minta maaf, iya kalo nanti dia mau memaafkan, kalau dia tambah marah gimana?”. Stop menerka-nerka kawan!

Yang terpenting sekarang adalah “Do More”. Kita hidup sebagai manusia, tentulah mendapatkan kelebihan berupa gampang lupa dan gampang salah. Jadi jangan karena merasa sudah selalu berbuat benar, bukan berarti kita terbebas dari sebuah kesalahan dan enggan untuk mengucapkan kata “Maaf”. Alangkah baiknya kita meng-introspeksi diri kita sendiri. Sering-sering mendengarkan masukan dari orang lain. Terutama kepada orang yang bukan sahabat karib kita. Kenapa? Karena terkadang mereka lebih jujur (meski menyakitkan) kepada kita dari pada sahabat karib kita yang terkadang masih enggan untuk mengatakan kebenaran karena faktor menjaga perasaan kita.

Nah oleh karena itu, bukan berarti disaat kita sering meminta maaf berarti kita sering melakukan kesalahan. Yah mungkin kalau dilihat dari rumus matematikanya memang saat kita minta maaf berarti kita bersalah, jadi kalau kita sering meminta maaf berarti kita sering berbuat salah. Namun, Perlu kawan-kawan ketahui, bahwa meminta maaf dan memaafkan adalah salah satu amalan dalam ajaran Agama Islam yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

***

Saya punya sebuah cerita kawan, Pernah suatu ketika disuatu hari yang sangat panas, kamu menerima janji dari seseorang. Dia akan mengajakmu jalan-jalan kesuatu tempat yang sangat ingin sekali kamu datangi. Namun entah karena alasan apa, sang pemberi janji tersebut seolah lupa dan sama sekali tidak mengingat janjinya. Seketika kamu marah, kamu mengutukinya hingga kamu bawa berlarut-larut tanpa pemberitahuan kepada sang pemberi janji. Tanpa suatu penjelasan kamu memutuskan hubungan silaturrahmi dengannya.

Disisi lain kamu semakin dipenuhi dengan emosi, kamu lupa bahwa kamu tengah berkumpul dengan orang-orang lain yang sama sekali tidak mengetahui suasana hatimu saat itu. Kamu meluapkan segala emosi saat itu kepada orang lain yang ada disekitarmu. Hari itu kamu penuh emosi. Dan apa yang kamu dapat? Kamu semakin mendapatkan kebencian. Kebencian dari orang-orang lain yang ada di sekitarmu. Kamu menganggap itu bukan kesalahanmu, namun kesalahan sang pemberi janji yang tengah berjanji kepadamu. Kamu enggan untuk meminta maaf kepada orang yang tengah kamu timpakan emosimu pada hari itu.

Bagaimana perasaanmu? Kamu semakin mendapatkan musuh, kalau jaman sekarang mungkin bahasa gaulnya kamu “galau” dan akhirnya menyesal. Takut untuk bertemu dengan orang-orang tak bersalah yang mendapatkan amarahmu. Hari-harimu pun dipenuhi dengan segala macam pemikiran yang menghantui.

Maka disinilah kamu merasakan bagaimana pentingnya sebuah hakikat mengalah kepada ego, meminta maaf, dan memaafkan. Kamu mulai membangun kembali keadaan yang sudah kamu porak-porandakan. Kamu beranikan dirimu untuk meminta maaf dengan tulus kepada orang-orang yang terkena imbas emosimu. Meski kamu belum tau dengan pasti bahwa permintaan maafmu akan diterima atau tidak. Dan beruntungnya orang-orang tersebut mau menerimamu kembali dan memaafkanmu.

Sekarang giliranmu untuk menyambung kembali hubungan yang sempat terputus dengan sang pemberi janji. Kamu mengatakan yang sebenarnya bahwa kamu pernah marah kepadanya karena telah mengingkari janjinya. Dan apa yang kamu dapatkan? Dia mengaku sangat menyesal, dan minta maaf dengan sebenar-benarnya karena dia memang benar-benar lupa akan janjinya dan tidak mengingatnya sama sekali. Karenanya kamu memaafkan kesalahan pemberi janji tersebut dan kembali menjalin hubungan dengannya.

Bagaimana perasaanmu? Menjadi sangat tenang bukan? Lega rasanya. Sangat berbeda jika dibandingkan saat kamu masih memiliki banyak musuh. Memang hanya perlu sedikit keberanian untuk berucap. dan hanya perlu sedikit kemauan untuk meminta maaf atau memafkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s