The Journey Has Just Begun!

Salam hangat kawan,

Terimakasih karena sudah menjadi pembaca setia blog saya yang sangat sederhana sekali ini kawan. #terharu 😥

Saya akan sedikit bercerita tentang awal perjalanan saya untuk menggapai cita menuntut ilmu di negara tetangga kawan. Berinteraksi dengan orang asing (yang benar-benar asing), menggunakan bahasa Inggris yang alakadarnya, dan bercerita tentang negara yang akan saya datangi, Taiwan.

Perjalanan tersebut dimulai dari kota Jakarta. Saat saya dikumpulkan dengan para kolega senasib dari seluruh pelosok negri di suatu acara pengarahan beasiswa dan serah terima sertifikat beasiswa (11/08) di Taiwan Economic and Trade Office (TETO), Gedung Artha Graha, Jakarta, Indonesia.

Saya mulai berangkat dari Gubeng Surabaya menuju Jakarta Kota pada tanggal 10 Agustus 2014 dengan menggunakan kereta besi. Hey, keberangkatan saya masih diselimuti arus balik setelah lebaran kawan. #ruwame Dan sampai di stasiun Jakarta kota tepat pada pukul 03.30 WIB, keesokan harinya (11/08). Seperti biasa (ciyeee,, yang udah bolak-balik Jakarta) saya tidak langsung berangkat menuju tempat persinggahan sementara saya selama di Jakarta, kos-kosan kawan saya. Saya menunggu terbit fajar terlebih dahulu, atau lebih tepatnya setelah sholat Subuh di Mushollah yang terletak di bunderan bawah tanah, jalan dari Stasiun Jakarta Kota menuju halte Jakarta Kota.

Dengan menggunakan bantuan alat transportasi Busway, saya sampai di kos-kosan kawan saya tersebut dengan selamat pada pukul 05.30 WIB. kurang 3,5 jam sebelum acara pengarahan yang berlangsung pada pukul 09.00 WIB. Sampai di kos-kosan, saya langsung dipersilahkan istirahat oleh kawan saya yang sangat baik sekali (ojo GR :p) setelah menempuh perjalanan kurang ebih 14 jam di dalam kereta. Tidur? Tidak kawan, saya tidak bisa tidur, hanya selonjoran, kalau bahasa orang awam itu grogi, memikirkan acara pengarahan nanti.

Karena saya masih mempunyai tanggungan mengambil berkas legalisiran terlebih dahulu sebelum mendatangi pengarahan, saya harus segera bersiap diri, bergegas, dan bergerak cepat. #semangat45

Saya berangkat keluar dari kos-kosan kawan saya tepat pada pukul 07.45 WIB. Sebelumnya saya sudah mengukur waktu perjanan yang saya perlukan dari kos-kosan untuk sampai ke gedung Artha Graha sekitar 30 menitan. Tempat pengambilan berkas legalisiran tersebut hanya terpaut lantai di gedung yang sama dengan tempat pengarahan. Pengambilan berkas legalisiran di lantai 12 sedangkan tempat pengarahan di lantai 17.

Tepat pukul 08.30 loket pengambilan legalisir dibuka. Dan saya datang tepat waktu. Saya mendapatkan nomor antrian pertama. Disini tidak terdapat masalah yang berarti. Namun sayang, dokumen hasil legalisiran tersebut harus saya fotokopi terlebih dahulu di lantai Basement. Baru disinilah sedikit masalah itu muncul. Ditempat fotokopian yang hanya satu-satunya digedung ini sudah dipenuhi oleh mbak-mbak TKI yang juga tengah mengantri fotokopi berkas yang akan digunakan untuk mengajukan Visa. saya baru mendapatkan giliran setelah jam ditangan saya menunjukkan pukul 08.50 WIB. 10 menit lagi dari jadwal jam pengarahan. Saya mulai khawatir. Berkas yang akan saya fotokopi pun cukup banyak, 24 lembar, berkas milik saya pribadi dan dua kawan yang lain. Dan taukah kalian kawan? Mesin fotokopi yang ada disini cuma satu, itupun bukan mesin fotokopi laser yang biasa ada di tempat fotokopi pada umumnya. Mesin fotokopi yang digunakan hanya berupa printer biasa dengan fasilitas scan yang cukup lumayan canggih. Kebayang bukan lamanya?

Fotokopian saya baru selesai pukul 09.10 WIB. Benar, saya terlambat 10 menit. Seketika saya langsung bergegas lari, masuk lift menuju lantai 17. Sesampai di tempat, ternyata acara sudah dimulai. Tidak seperti acara-acara yang pernah saya datangi sebelumnya dan mainstreamnya selalu jam karet. Disini acaranya benar-benar dimulai tepat pukul 09.00 WIB, sesuai dengan jadwalnya.

Saya maauk ke dalam ruangan dengan perlahan. Di depan sudah tampak ibu-ibu cantik berwajah Chinese yang sedang berceramah dengan menggunakan bahasa Inggris. Melihat saya yang datang terlambat, beliau langsung menghentikan ceramahnya dan memberikan senyuman kepada saya. Saya malu. Saya satu-satunya yang datang terlambat. Saya pun permisi “I’m sorry, I’m late” (hey saya bisa ngomong bahasa Inggris, meski anak kecilpun bisa kalo cuma minta maap tok, wkwkwk). Ibu-ibu yg di depan itupun kembali tersenyum dan menjawab “It’s okay,” kemudian mempersilahkan saya duduk dengan tersirat.

Lega, akhirnya sampai juga…

Ibu-ibu tersebut ternyata Wakil Representative dari negara Taiwan, Ye. Dari ceramahnya kami sebagai penerima beasiswa, dituntut untuk memberikan upaya yang terbaik dalam study kami, minimal harus mendapatkan IPK Cumlaude. Tak hanya itu, kami jiga mendapatkan satu misi mulia, “Mengenalkan negara Indonesia ke masyarakat Taiwan” Seems Awesome… o.O

IMG_20140811_153659Mr. Rudi and Miss Nina when they gave a briefing about the Taiwan Scholarship

Ternyata yang dikumpulkan pada hari itu bukan hanya penerima Taiwan Scholarship yang berjumlah 10 orang se Indonesia, namun juga ada beasiswa HES (kursus basa mandarin di Taiwan) dan beasiswa ICDF (seperti Taiwan Scholarship namun pesaingnya dari seluruh dunia, di Indonesia mewakilkan 2 orang).

Dari sana kami punya banyolan sendiri bagi para penerima beasiwa dari negara Taiwan Tersebut. Ada anak emas, anak biasa, dan anak tiri. Anak emas bagi penerima beasiswa ICDF, karena selain mendapatkan Visa gratis, mereka juga mendapatkan tiket pesawat penerbangan pertama gratis. Sedang kami, penerima Taiwan Scholarship adalah anak biasa yang hanya mendapatkan Visa gratis tanpa tiket pesawat. Dan terakhir, anak tiri adalah penerima beasiswa HES, karena sama sekali tidak mendapatkan Visa maupun tiket pesawat gratis. Meski demikian, bukan berarti kami selanjutnya berantem dan gondok-gondok’an. Kami semua sadar akan rejeki masing-masing, dan hal tersebut malah menjadi sebuah banyolan yang cukup renyah. Seketika kami berasa menemukan keluarga baru. Kumpulan keluarga bahagia tepatnya.

Toet3994Award Certificate of Taiwan Scholarship Program

Toet4012We get a map of Taiwan and the Muslim Traveler in Taiwan guidebook

Setelah acara ceremonial, kami semua yang belum mempunyai Visa taiwan diarahkan ke lantai 12 untuk pembuatan Visa. Hey, kami kembali merasa diistimewakan. Kami turun menggunakan lift khusus VIP. Kami tidak harus mengurus Visa di loket-loket yang telah disediakan, dan juga menunggu antrian pada umumnya. Kami langsung masuk ditempat yang telah disediakan, dan cus tentunya langsung dilayani dengan cepat dan tanggap. #KembaliTerharu 😥 Alhamdulillah ya Allah…

Setelah pembuatan Visa, kami semua melanjutkan acara dengan makan siang bersama di Restoran Din Tai Fung, Restoran Taiwan yang terletak di lantai 5 gedung Pacific Place, depan gedung Artha Graha.

Toet3995Din Tai Fung Restaurant located on the 5th floor of Pacific Place, Jakarta

Toet3997Director executive Taiwan Economic and Trade Office (TETO) in Indonesia

Kami dipersilahkan untuk memilih menu sendiri-sendiri, diluar hidangan pembuka dan penutup. Restoran ini benar-benar cabang langsung dari negara Taiwan. Jadi suasana dan nuansanya pun seperti aselinya di negara Taiwan. Namun tenang, disini tidak ada menu Pork. 😉

Saat makan tersebut saya mendapatkan banyak ilmu dan mulai mengenal budaya Taiwan secara langsung.

Pertama, disini memang makannya menggunakan Sumpit dan sendok soup. Saya diajari Pak Rudi cara memakan menggunakan sumpit hingga dikasih bocoran bahwa kita bisa dinilai sudah ahli menggunakan sumpit saat bisa mengambil tusuk gigi yang ada diatas meja hanya dengan menggunakan sumpit. WAW…

Kedua, pertama kalinya saya bersulang bersama-sama diatas meja makan dengan minuman yang beraneka ragam. Dan Itu sebagai tanda ucapan dan selamat atas berhasilnya kami menjadi penerima beasiswa. #excited

Ketiga, Sekali lagi saya mendapatkan ilmu untuk hidup di negara Taiwan kelak. Jika saya ingin mahir bicara bahasa Inggris dan Mandarin. Nanti disana jangan bermain dengan orang Indonesia lagi, bukan berarti menghindar, namun meminimalisirnya, karena jika kita hanya bergelut dengan orang sesama Indonesia otomatis percakapan kita hanya menggunakan bahasa Indonesia. “Jadi atur waktu saja disana. Senin-Jum’at berteman dengan orang luar Indonesia, baru sabtu-minggu kita bisa kembali bermain dengan kawan Indonesia.” ujar Pak Rudi.

Keempat, Tolak ukur saya bisa berbahasa Mandarin dengan mahir adalah saat saya bisa berantem, alias perang mulut dengan orang Taiwan. Karena saat marah kita ngomong tanpa dipikir secara mendalam. Waduh… >,<

Kelima, (khusus laki-laki) Silahkan anda jaga penglihatan anda, karena di Taiwan banyak sekali wanita-wanita dengan pakaian yang kurang bahan. Namun, jangan sampai tergoda atau melihat dengan tatapan aneh, karena keselamatan jiwa anda akan terancam (digebukin pacar wanita yang berpakaian minim tersebut). Waspadalah…

***

Demikian dahulu sedikit cerita awal perjalanan saya kawan, sekali lagi saya ucapkan terimakasih karena mau meluangkan waktunya untuk membaca tulisan acak adut yang semoga bermanfaat ini. 😉 Amiin…

Iklan

4 thoughts on “The Journey Has Just Begun!

  1. Assalamualaikum. Saya ingin menanyakan apakah aplikasi dokumen yg mba kirim sudah dalam terjemahan bahasa inggris ataukah setelah pengunguman penerima beasiswa diumumkan barulah aplikasi dokumen terjemahan bahasa inggris diserahkan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s