(Bukan) Anak Manja

Kalau mengingat-ingat kejadian tempo hari, rasanya ingin segera mengoperasi plastik wajah saya dan diganti dengan wajah serep. Bagaimana tidak, ternyata disaat kita kaget, takut, dan bingung, apa yang kita lakukan dan kerjakan itu serasa tidak sesuai dengan akal pikiran.

Yap, saya akan sedikit membongkar “aib” saya secara terang-terangan kawan. Lebih tepatnya “aib” yang membuat saya bangga dan senang karena masih memiliki dan ditemani oleh dua orang tua super yang sangat sayang kepada saya. >,<

Jadi ceritanya, tempo hari tersebut adalah pada saat sore hari, saat saya hendak berangkat menuju kamar mandi untuk menunaikan kegiatan mandi sore. Saat melewati pintu kulkas, secara sepontan saya membukanya, entah apa yang ingin saya cari, saya juga tidak tau. Dan tanpa sengaja saya menemukan makanan tradisional yang cukup enak untuk disantap. Disini kue tersebut dikenal dengan sebutan Kue Kuro (bentuknya memang seperti cangkang kura-kura yang berwarna hijau dan berisi kacang hijau halus).

resep-kue-ku-kura-kura

Nb: Gambar hasil comot di sini

Meski handuk sudah bersandar dipundak, namun saya masih ingin untuk melahapnya terlebih dahulu sebelum mandi. Dan karena ukurannya yang cukup besar, saya rasa saya tidak akan sanggup untuk menghabiskannya, spontan saja saya mengambil sebilah pisau dan berinisiatif untuk memotongnya menjadi dua. Dan kesalahan saya, saya memotong kue tersebut dengan cara memegangnya dengan tangan kiri, dan pisau ditangan kanan.

Entah kenapa juga seketika pisau yang saya pegang melesat jauh dan salah sasaran. Trassss… Pisau yang saya pegang bukannya memotong kue tersebut, tapi malah memotong jari telunjuk saya. Saya masih ingat dengan jelas bagaimana rasanya lapisan dermis saya yang bertemu dengan pisau. Ngeri… >,<

Saya melihat dengan jelas bahwa pisau sudah memasuki daging telunjuk saya cukup dalam dan darah bercucuran cukup deras. Seketika saya menjerit. Saya takut. Saya cukup takut saat melihat darah yang mengucur kawan, namun bukan berarti saya phobia dengan darah, saya masih berani untuk melakukan donor darah kok. 😀

Ketakutan tersebut seketika memutus urat syaraf kesadaran saya. Saya menjerit-jerit, menangis ketakutan saat melihat darah yang semakin banyak dan mengucur hingga membasahi lantai tempat saya berpijak (Lebai.red). Kebetulan saat itu Bapak dan Ibu saya berada tepat di ruang tengah, dan saya berada di dapur. Saya bukan meminta pertolongan beliau berdua, saya hanya bingung, sekali lagi takut dengan ketakutan yang teramat sangat karena merasa daging telunjuk saya telah teriris separoh.

Mendengar saya teriak histeris Bapak dan Ibuk saya sigap langsung mendatangi saya. Bapak saya yang ikutan bingung langsung lari mengambilkan saya minum. Setelah menyuruh saya meminumnya beliau kembali berlari mencari kain untuk menyumpal darah saya. Dan ternyata bapak saya langsung lari menuju tempat pakaian kotor. -.-“ Apa yang Bapak saya temukan? Kaos saya. Ya, saya mengorbankan satu kaos saya dari peristiwa tersebut. Kata Bapak saya “Gakpapa pakek itu aja, biar darahnya mampet” (percakapan sudah ditranslet dari Bahasa Jawa menjadi Bahasa Indonesia). Saya yang masih dalam ketakutan hanya menurut saja. 😀

Ibuk saya juga tak kalah andil, setelah memberi saya obat merah, beliau langsung lari mengambil uang dan terbang ke toko klontong depan rumah untuk membeli plester (kebetulan dirumah persediaan plester sedang kosong). Setelah Bapak dan Ibuk sudah berada di sisi saya, bukannya diam, tangisan saya semakin menjadi sambil mengoceh, “Ini dalem kepotongnya…”, “Separoh dagingnya keiris…”, “Harus dijahit ini, hoaaa…” (dan masih banyak lagi #malu)

Melihat tingkah saya begitu, bukannya metertawakan beliau berdua malah meladeni saya sambil menenangkan saya “Iya, nanti malam langsung ke dokter ya” kata ibuk saya. Dan bapak saya sigap langsung membuka plester dan memasangkannya hingga menutupi luka dengan sempurna. Luv u buk, pak, :*

Setelah telunjuk saya sudah tertutup rapat oleh plester, dan darah tidak mengucur lagi, saya pun akhirnya bisa tenang dan sedikit tersenyum melihat polah Ibuk Bapak saya barusan. “Sudah gak sakit kan?” kata Bapak saya. Saya hanya menjawab “Sedikit,” sambil sedikit malu saat mengingat kejadian tadi. Ibu saya akhirnya menimpali “Emang anak ini gak pernah tahan sakit kok” sambil ketawa dan mencubit pundak saya. Kami bertiga pun akhirnya tertawa bersama-sama, hehehe…

Sampai sekarang saya masih malu dan haru saat mengingat kejadian tersebut. Terimakasih Bapak, terimakasih Ibuk, maafkan Atut karena sudah sangat merepotkan, >,< Atut sayang Bapak, Atut sayang Ibuk :*

Iklan

6 thoughts on “(Bukan) Anak Manja

    • Boleh2 kok cep, tp bayar ya ketawanya 😀
      masih banyak lagi cep percakapan gokil aku sama emakku,
      ex; “lha trus besok habis dtng dr taiwan kamu lak jd manggil aku mama nduk?”||”kamu gak bawa kasur ta kesananya?” -.-” (sudah ditranslet dr bahasa jawa ke bahasa indonesia). dan lain sebagainya >,<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s