Pengabdian Bukanlah Paksaan, Tapi Kesadaran

‘Pengabdian’ adalah sebuah kosa kata yang secara umum berkonotasi positif. Namun kata tersebut dapat seketika menjadi salah satu kata yang berkonotasi negatif saat seseorang yang menjadi subjek merasa tertekan saat melaksanakannya atau bahkan mungkin karen faktor-faktor lain yang dengan seketika mampu merubah konotasi maupun makna dari sebuah kata ‘Pengabdian’.

Seperti halnya kasus pengabdian bagi para alumni PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) Kementrian Agama RI. Para alumni PBSB yang telah dinyatakan lulus dari masa kuliah gratisnya karena mendapatkan beasiswa full study dari Kementrian Agama (Kemenag) RI memang diwajibkan untuk mengabdi selama 3 tahun. Bisa 3 tahun berturut-turut maupun dengan jeda bagi yang ingin melanjutkan study atau karirnya setelah pengabdian satu tahun.

Selanjutnya muncul berbagai macam sudut pandang dari para subjek yang bersangkutan, namun secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga pemikiran. Yang pertama adalah golongan dengan pemikiran bangga bahkan ikhlas mau melaksanakan pengabdain karena memang merasa berkewajiban untuk melakukannya. Yang kedua adalah golongan yang meskipun sedikit terpaksa namun sangat merasakan hutang budi yang tak terkira sehingga masih setia melakukan pengabdian. Dan yang ketiga adalah golongan yang ingin berontak karena merasa pengabdian adalah hal yang konyol dan terlalu mengikat. Lalu dalam kasus seperti ini apakah kata ‘Pengabdian’ dapat bermakna positif atau negatif? Sekali lagi kembali pada subjek yang menjalankannya. Dan dalam hal ini subjek yang menjalankannya adalah para Alumni PBSB Kemenag RI.

Pelaksanaan Pengabdian

Bagi para alumni baru (Fresh Graduate) PBSB Kemenag RI, mungkin masih banyak yang merasa bingung dan rancu saat akan dan ingin memulai pengabdiannya. Apa yang harus dilakukan pertama kali? dan bagaimana prosedurnya?

Hal pertama kali yang harus dilakukan adalah tentu matur alias berbicara kepada pihak pondok pesantren asal bahwa yang bersangkutan telah menuntaskan masa studinya di bangku perguruan tinggi dan hendak melakukan pengabdian. Selanjutnya untuk masalah Pondok Pesantren asal akan menerima atau menolak maksud baik para alumni tersebut adalah kebijakan dari masing-masing pimpinan Pesantren. Namun yang jelas para pimpinan Pesantren pasti akan mengapresiasi dengan baik. Jikapun masih belum membutuhkan atau tidak ada tempat para alumni untuk mengabdi tentu akan diberikan jalan keluar dan solusi yang terbaik.

Selain itu, hal yang paling sangat diinginkan oleh pihak Kemenag adalah jalinan tali silaturrahmi dari para alumni PBSB kepada “orang tua” yang telah memberikan biaya perkuliahan gratis selama 4 tahun tersebut. Jadi alangkah baiknya juga setelah lulus dan sudah akan mulai atau telah mengabdi, para alumni menyambangi langsung kantor Kemenag yang terletak di JL. Lapangan Banteng No. 3-4 Jakarta 10710, khususnya Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Direktorat PD Pontren) yang terletak di lt. 6 baik hanya untuk sekedar bersilaturrahmi atau memberikan kabar.

Bahkan tidak main-main, pihak Kemenag RI dengan sangat jelas dan terperinci telah menuliskan dan menerbitkan buku khusus Pedoman Pengabdian Alumni PBSB (Silahkan download disini). Di dalam buku pedoman tersebut sudah dijelaskan perihal tata cara, hak dan kewajiban, serta sanksi yang harus dilakukan atau diterima oleh Alumni PBSB.

IMG_20140615_085639

Buku Pedoman Pengabdian Alumni PBSB

Secara garis besar yang diinginkan oleh pihak Kemenag adalah pemberdayaan dan pengembangan skill dan pengetahuan para alumni kepada pondok pesantren dan masyarakat secara meluas, bukan untuk mengekang, mengikat, bahkan menghambat kreatifitas para Alumni PBSB. Lalu secara garis besar yang diinginkan oleh para Alumni PBSB apa? Sekali lagi kembali pada pribadi masing-masing dari subjek yang bersangkutan.

Merintis Karir atau Study Lanjut

Bagaimana cara Alumni PBSB jika ingin mulai merintis karirnya atau ingin melanjutkan study-nya sedang setelah lulus kuliah tidak langsung bisa bebas melainkan masih harus menjalankan proses pengabdian selama 3 tahun?

Sekali lagi dalam buku pedoman pengabdian telah dijelaskan dengan terperinci, bahwa para Alumni PBSB dipersilahkan dan diperbolehkan untuk merintis karirnya, baik yang ingin melanjutkan pendidikannya lebih tinggi ataupun yang ingin bekerja. Namun dengan catatan harus mengabdi terlebih dahulu selama satu tahun. Setelah itu para Alumni bebas untuk memutuskan akan melanjutkan study, mencari pengalaman bekerja, atau pun dengan tawadhu’ dan ikhlas melanjutkan masa pengabdian minimal 3 tahun atau bahkan seumur hidup pun boleh.

Sekali lagi, Pihak Kemenag tidak pernah melarang atau membatasi bahkan menghambat karir para Alumni ‘berprestasi’nya. Selama segala prosedur dan kewajiban yang ditentukan telah dikerjakan dengan baik dan benar, maka ‘Pengabdian’ bukanlah hambatan untuk berkarir, justru malah pengabdian adalah jalan termulus untuk mendapatkan keberkahan ilmu yang telah diperoleh sebelumnya. Pemikiran tersebut disampaikan oleh Kasubdit Pendidikan Pesantren, Dit. PD Pontren, Bapak Imam Safe’i.

Sebagai tambahan, Bapak Imam Safe’i juga mengutarakan perihal keinginan dan harapannya kepada para Alumni PBSB yang notabene ‘Berprestasi’ agar selama pelaksaan pengabdian, para Alumni PBSB bisa menerbitkan minimal sebuah buku perihal pengabdian yang dijalaninya, bukan hanya sekedar Tulisan laporan yang leterlek sesuai dengan pedoman dan pastilah sangat mudah dibuat bagi seorang yang telah berlebel ‘berprestasi’. Oleh karena itu sangat dianjurkan para Alumni PBSB bisa dengan bebas dan leluasa menuangkan pemikirannya kedalam bentuk tulisan yang dibukukan yang dapat membumbungkan dan membuat bangga Pihak Kemenag.

***

“Yang sangat disayangkan itu kalau sampai ada (sebagian kecil) dari Alumni PBSB yang langsung menghilang tanpa adanya komunikasi lagi dengan pihak Pesantren maupun Kemenag dan menghindari tanggung jawab untuk mengabdi. Hal tersebutlah yang membuat citra PBSB menjadi buruk dimata sebagian orang atau pun masyarakat, meskipun saya yakin yang demikian itu hanya minoritas. Habis manis sepah dibuang” ~Bapak Imam Safe’i~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s