The Real Engineer

Salam hangat kawan,

Kali ini saya akan bercerita tentang seorang engineer. Hei tunggu dulu kawan, jangan dikira saya seorang engineer ya, saya bukanlah seorang engineer kawan, saya hanya seorang fisikawati itupun baru belajaran, pupuk bawang belum bisa apa-apa. Yang akan saya ceritakan adalah seseorang super yang saya jumpai di dalam kereta saat perjalanan pulang saya dari kota Jakarta.

Kemarin, tepatnya tanggal 13 Juni 2014, saya berangkat pulang dari kota metropolitan terbesar di Indonesia itu menuju kota Surabaya dengan menggunakan Kereta Gaya Baru Malam Selatan. #FYI Seperti biasa saya jarang suka ngomong kalau di dalam kendaraan, kecuali itu sedang terpaksa. Namun kali ini saya cukup banyak mengobrol. Dan cukup mendapatkan banyak informasi serta pengetahuan. Kok bisa?

Yap, jadi ceritanya kawan, ditengah perjalanan salah satu gadget saya kehabisan baterai, beruntungnya sekarang kereta ekonomi dilengkapi dengan fasilitas colokan listrik. Langsung saja saya ambil langkah seribu, buka tas, ambil charger, langsung nyolokin charger ke gadget. Dan ternyata? ternyata? charger saya tidak bisa berfungsi kawan. o.O saya ulangi berulang kali pun hasilnya tetap sama. Nihil! gadget keburu mati lagi. Sedih. Buku bacaan sudah habis kebaca, merasa tak ada hiburan lagi lain selain gadget tercinta. 😥

Secara tidak sadar ternyata syaraf-syaraf muka mulai mengernyitkan kulitnya, sehingga membuat saya (mungkin) terlihat galau. Melihat hal tersebut bapak-bapak yang duduk di depan saya yang mungkin sedari tadi memperhatikan saya langsung bertanya “casnya rusak ya mbak?”, sontak sayapun menjawab ” iya pak, kayaknya rusak ini, kok gak bisa ngecas.”

Langsung saja beliau menawarkan bantuan, karena memang merasa butuh bantuan saya pun memperbolehkan. Saya hanya melihat saja saat itu.

Pertama, Bapak tersebut sigap langsung membuka charger saya, kemudian mengambil taspen dari dalam tasnya. Hei, bapakmanya di kereta bawa taspen? saya terharu, maksudnya heran, dan bapak tersebut seketika melihat keheranan saya dan langsung menjawab “Taspen ini hidup saya mbak, engineer itu kemana-mana harus bawa taspen” sambil tersenyum bapak tersebut langsung kembali melanjutkan aksinya. WAW o.O #salut poll (jadi pingin punya suami engineer >.<)

Bapak tersebut langsung mengecek stop kontak, nyala. Mengutek-utek lagi charger saya, kemudian seketika mengambil charger beliau yang lain dari dalam tasnya. Bapaknya kembali menyampaikan kalau chargernya memang sengaja digunakan untuk cadangan seperti situasi saat ini, saat ada yang sedang membutuhkan, sehingga memang ada bekas sambungan di tengah-tengah kabelnya.

Selanjutnya bapak tersebut menempelkan kabel chargernya dengan charger saya yang ada di dalam adapter. Langkah selanjutnya saya disuruh mencoba mencolokkan charger tempelan tadi. Dan hasilnya, taraa… konek langsung kawan, icon baterai di gadget saya langsung menunjukkan tanda hijau naik turun dan simbol petir pertanda proses pengisian baterai. Seketika urat syaraf muka saya kembali bekerja menunjukkan ekspresi senang. Tentu saja sedikit berlebihan mungkin 😆

Karena tadi masih hanya tempelan, bapak tersebut langung menyambungnya dengan cara memelintir tembaga pada kedua kabel. Eits charger masih menempel di stop kontak. Spontan saya langsung memperingatkan untuk hati-hati kesetrum. Dan dengans antainya beliau hanya bilang, “Tenang mbak, ini DC kok, arusnya kecil, gak mungkin kesetrum”. Dan saya baru tahu. o.O

Selanjutnya, kembali lagi tindakan bapak tersebut mencengangkan saya. Karena tidak ada selotip untuk memisahkan kabel plus dan minus, agar tidak terjadi korslet, bapak tersebut langsung mengambil plastik yang ada di tempat sampah, merobeknya sedikit, kemudian menempelkan pada sambungan tembaga kabel, dan terakhir membakarnya. Sungguh luar biasa, plastik yang terbakar tadi menempel di tembaga, lekat, dan efektif memisahkan tembaga plus-minus. o.O  #semakin kagum.

***

Setelah masalah charger teratasi, obrolan dengan bapak tersebut mulai terbuka, dan akhirnya saya ketahui nama beliau adalah Ridwansyah, atau biasa dikenal dengan panggilan Iwan. Beliau adalah lulusan Teknik Industri dari salah satu perguruan tinggi di kota Medan. Beliau mengaku sebagai seorang Pujakusuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Beliau menjelaskan bahwa Teknik Industri bukan hanya ahli diranah perencanaan atau perindustrian, masalah kelistrikanpun bisa.

Toet3867

Pak kiri (kanan) dan anaknya (kiri) yang menunggu pengumuman kelulusan tingkat MTs.

Tujuan beliau naik kereta adalah mengantarkan anak laki-laki satu-satunya yang duduk disamping beliau untuk pengumuman kelulusan tingkat SMP yang sekolah di Pondok Pesantren Darus Salam, Jombang.

Terakhir beliau berpesan “Kalau mau belajar ya yakin aja, gak usah takut, orang yang berhasil adalah orang yang tidak takut salah, kalau salah ya anda belum beruntung dan coba lagi.” 😀

Terimakasih atas pertemuannya Pak Iwan, You are very inspiring 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s