Unpredictable Moment

Salam hangat kawan…

Kali ini saya akan sedikit berbagi tentang sebuah kisah yang mungkin sedikit kurang nyaman untuk dinikmati, Jadi bagi kawan-kawan yang sekarang tengah sibuk dengan kesibukan masing-masing lebih baik mulai sekarang silahkan tutup jendela browser anda dan kembalilah pada rutinitas anda. #Warning!

Namun bagi kawan-kawan yang memang masih ingin terus melanjutkan membaca kisah yang akan saya tuliskan, segeralah siapkan bantal disamping anda, karena mungkin anda akan lekas tertidur karena garingnya cerita ini. Dan terakhir selamat bagi kawan yang ternyata tetap setia dan mengikuti segala saran penulis. #Chek this out!

***

Yap seperti yang saya bilang sebelumnya kawan, kisah ini adalah kisah perjalanan saya yang garing. Perjalanan dari ujung pulau Jawa sebelah Timur hingga hampir ke ujung pulau Jawa sebelah barat. Jaraknya? Silahkan kawan hitung sendiri dengan mengkalikan jaraknya pada peta pulau Jawa dengan skala yang tertera di peta tersebut. Gampang bukan? 😀

Kisah ini bermulai dari perjalanan kedua saya, yang kedua kawan (catet), menuju kota Ibu Kota Indonesia. Dengan satu misi mulia tentunya, Kawan-kawan tidak perlu tau dulu. 😀 Ternyata perasaan yang kedua itu memang tidak pernah bisa mengalahkan perasaan yang pertama kawan. Saat perjalanan yang pertama kali dulu, sebelum berangkat, berbagai macam perasaan muncul dan mencampur menjadi satu, seperti; perasaan takut, senang, grogi, dan segala macem, selain itu mungkin karena saat yang pertama itu saya melakukan perjalanan hanya seorang diri. Dan sekarang saat perjalanan kedua ini, sedikitpun tidak ada perasaan takut, senang? Mungkin hanya sedikit saja, dan grogi? Sama sekali tidak. Yang ada hanya perasaan biasa-biasa saja. Selain karena sudah sedikit berpengalaman, mungkin juga karena saya berangkat berdua dengan seorang kawan, minimal tidak sendirian dan masih ada teman mengobrol ditengah-tengah perjalanan yang cukup lama.

Lalu kenapa postingan ini berjudul “Unpredictable Moment”? Tenang kawan, tak perlu penasaran dulu, judul itu diambil tentunya karena beberapa alasan. Dan alasan itu akan saya ceritakan satu persatu. Silahkan mungkin kawan-kawan mulai ingin mengambil cemilan atau pop corn untuk melanjutkan membaca kisah yang akan saya tuliskan ini, saya akan memberi jedah kawan. #Why so serious! 😀

Kopi Kereta (KopKer), Kopi Darat Versi Kereta

Kisah akan langsung saya skip sampai saat hari-H ya kawan. Tepatnya kemarin (sebelum tulisan ini terposting) hari Sabtu, 07 Juni 2014. Setelah diantar kakak hingga sampai di Stasiun Gubeng Lama, berpamitan, cium tangan, dan salam, saya langsung masuk ke dalam stasiun. Sambil menunggu kawan yang datang karena tiketnya dia yang membawa, saya ngemper kawan (duduk ndelosor di lantai). Oh iya, belum saya perkenalkan, kawan saya ini, sebut saja Faulina (nama sebenarnya), dia memiliki misi yang sama dengan saya (masih rahasia 😛 ).

Sebelum masuk ke dalam kereta, karena jadwal keberangkatan tertulis pukul 12.00 kami berdua menyempatkan diri untuk Sholat Dzuhur jama’ Takdim (Sholat Ashar digabung diwaktu Sholat Dzuhur) terlebih dahulu di Mushollah Stasiun Gubeng kawan. Barulah pukul 11.50 WIB kami memasuki Peron dan menunggu kereta Gaya Baru Malam datang. Dan disinilah dimulainya moment yang tak terduga itu.

Hanya sepersekian detik, tiba-tiba salah seorang yang cukup tak asing di dalam otak melintas tepat di depan saya.  Siapakah dia? #jeng-jeng… Yap dia adalah seseorang kawan dari dunia per-maya-an. Lebih tepatnya kawan sesama bloger. Semula masih belum yakin apakah benar wujud yang melintas tersebut sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran, menyapa pun masih ragu, ditambah lagi tiba-tiba yang melintas tersebut sekejap menghilang, fokus di kepala pun seketika kembali pada bahasan “Kereta datang”.

Setelah mendapatkan tempat duduk sesuai dengan yang tertulis di tiket, tidak menunggu waktu yang cukup lama keretapun segera berangkat tepat pukul 12.00 WIB. Dalam kelenggangan, pikiranpun kembali berputar pada kejadian sekitar 10 menit yang lalu. Apakah benar sekelebat sosok tadi benar seperti perkiraan? Dan tanpa menunggu waktu yang lama pula, saya segera memencet applikasi Whats App (WA) dan langsung menghubungi seseorang yang ada diseberang untuk memastikan perkiraan.

Hasilnya? Taraa… benar sekali apa yang ada didalam pikiran saya kawan. Sosok sekelebat tadi adalah Bang Imron, nama yang pernah saya catut dalam tulisan sebelumnya, tulisan tentang perjalanan ke Jakarta untuk yang pertama kalinya.

Setelah saling mengabarkan posisi kursi masing-masing, Bang Imron memutuskan untuk bekunjung ke spot kami, kursi 1a dan 1b di gerbong 8, gerbong paling ujung belakang. Kebetulan saat itu kursi kereta terutama pada gerbong 8 teramat sangat cukup lenggang, bahkan dua kursi di depan kami saja, 2a dan 2b kosong sejak dari Surabaya hingga tujuan Jakarta.

Benar-benar pertemuan yang tidak terprediksi. Saya yang bisa bertemu dengan bang Imron setelah sekian lama hanya berhubungan melalui dunia maya. Memang hanya Allah yang berkuasa atas segala kehendaknya. Allah maha besar…

Kesan pertama bertemu,,, ternyata abangnya terlihat lebih muda dari pada yang di poto, dan juga baik kok #pis_bang 😀 Berbagai macam topik kami bahas dalam forum diskusi kecil kami, mulai dari kabar masing-masing hingga tujuan perjalanan. Namun yang paling dominan adalah topik tentang niat kami bertiga yang sama-sama ingin melanjutkan studi s2. Sungguh obrolan yang sangat menarik dan tentunya banyak informasi yang saling kami bagi.

Waktu terus berjalan. Tanpa terasa kami telah menghabiskan waktu kurang lebih dua jam perjalanan untuk kopi kereta meski tanpa kopi, hanya air putih saja. 😀 Bang Imron pun akhirnya pamit undur diri untuk kembali ke kursinya sebelum Bapak Kondektur datang memeriksa tiket kami masing-masing. Terimakasih atas kunjungannya Bang, Nice to meet you, and see you next time…😀

Perjalanan pun masih terus berlanjut. Dan sungguh saya dan Faulina sangat beruntung karena meski hanya membeli dua kursi tiket namun kami berdua bisa menikmati fasilitas 4 kursi sekaligus. Alhamdulillah 😀

Krisis Air

Setelah berdiskusi panjang kali tinggi kali lebar dengan Faulina masalah stasiun penurunan (stasiun tujuan akhir kami), dengan beberapa point penting yang perlu dicatat, seperti;

  1. Jika kami turun di Stasiun Pasar Senen, jarak yang akan kami tempuh untuk menuju Busway Pasar Senin cukup jauh, sedang barang bawaan kami (cukup) banyak. Hemat tenaga.
  2. Jika kami turun di Stasiun Kota, Jarak antara pintu keluar stasiun dengan Busway cukup pendek, namun masalahnya kami berdua sama sekali belum pernah turun di stasiun tersebut. Takut nyasar dan hilang arah.

Akhirnya dengan sedikit bonek (bondo nekat) dan hemat tenaga, maka diputuskanlah bahwa kami akan turun di stasiun pemberhentian akhir, yakni Stasiun Kota.

Beruntung sebelum turun dari kereta saya sedikit berbincang-bincang dengan abang-abang yang lupa tidak saya tanyakan namanya juga turun di Stasiun Kota, dan akhirnya dengan senang hati beliau bersedia mengantarkan kami menuju Halte Busway. Tepat pukul 02.23 WIB kereta sampai di Stasiun Kota. Molor satu jam dari jadwal yang tertera di tiket.

Setelah keluar dari stasiun, abang tadi benar-benar mengantarkan kami menuju halte busway. Namun sebelumnya kami meminta tolong terlebih dahulu untuk dipandu ke Mushollah terdekat untuk menunaikan ibadah Sholat Isya’ dan Magrib yang belum tertunaikan. Dari stasiun kota, keluar langsung menuju ke lorong bawah tanah untuk menuju halte busway. Di depan pintu masuk lorong, kami berterimakasih kepada abang tersebut dan meminta cukup diantar sampai pintu lorong saja karena di dalam sudah terlihat ada Mushollah dan jalur menuju halte Busway, namun abang tersebut terus melaju tanpa menggubris cicauan kami hingga kami sampai di depan pintu Mushollah dengan selamat dan berpesan agar kami berhati-hati. Alhamdulillah dipertemukan dengan orang yang baik, terimakasih ya Allah…

Di Mushollah inilah kami berdua mengalami krisis air untuk berwudhu. Air yang tersedia disini sungguh diluar ambang kebersihan dan meragukan perihal kesuciannya. Meski berasal dari air pam yang mengalir deras, namun warna airnya sudah benar-benar hitam pekat, berbau logam, dan juga amis. Kami benar-benar tidak tega untuk berwudhu dengan air tersebut. Penjaga mushollah pun bilang kalau kebetulan airnya sedang dalam perbaikan jadi yang keluar air seperti itu. Menghadapi masalah seperti ini, terdapat sedikit penyesalan, kenapa tadi tidak berwudhu di dalam kereta saja yang airnya cukup bersih dan mengalir lancar. Yah penyesalan memang selalu datang terakhir.

Kurang lebih 15 menit kami berdua memutar otak untuk mencari solusi permasalahan air tersebut. Saat itu jam hampir menunjukkan pukul 3 dini hari. Apakah kami  hanya bertayamum saja? Akhirnya kami terbesit untuk berwudhu dengan air mineral yang dijual di depan mushollah. Yap solusi terbagus. Akhirnya setelah kami utarakan maksud kami untuk membeli air mineral yang ada di dalam lemari pendingin kepada penjaga mushollah tadi, kami melihat air gallon yang duduk manis di depan meja penjaga. Seketika kami merubah inisiatif untuk membeli air mineral dengan air gallon saja. Penjaga mushollah tersebutpun mempersilahkan kami untuk mengambil air minum gallon dengan botol bekal air saya selama di kereta untuk kami gunakan sebagai air wudhu. Dan tuntas sudah tanggung jawab kami untuk menunaikan kewajiban.

IMG_20140607_121546

Botol minuman penyelamat 😀

Sesuai kesepakatan, kami menunggu di Mushollah ini hingga tiba waktu sholat Subuh sekalian baru berlanjut menuju tempat tujuan. Kos-kosan kawan lama kami. Sebelum keluar dari Mushollah kami mengingat kewajiban untuk membayar air yang tadi kami beli, namun sekali lagi kami dipertemuka dengan orang yang baik, bapak penjaga Mushollah itu dengan kekeuh tidak mau menerima uang kami. Ya Allah… #benar-benar terharu, dibalik kesusahan pasti ada kemudahan!

Car Free day >.<

Tepat pukul 05.00 WIB kami baru bisa masuk halte Busway Kota. Saat itu hari Minggu kawan. Dan sekali lagi kabar yang tak terduga akhirnya menghampiri kami berdua. Kami tidak bisa langsung menuju Halte tujuan, Halte Bank Indonesia (BI) karena pada hari itu tepat di jalur Halte BI berlaku Car Free Day. Dan baru aktif kembali setelah pukul 10.00 WIB. >.<

Jadi kami hanya bisa naik Busway dan terakhir berhenti di terminal Halte Harmoni. Lalu Bagaimana nasib kami selanjutnya? Masak iya kamu harus menunggu hingga jam 10? Searching menggunakan google map, ternyata jarak yang harus kami tempuh dari halte Harmoni ke halte BI sejauh 2 Km. belum jalan kaki lagi dari Halte BI ke kos-kosan kawan lama kami di Kebon Sirih. Lalu bagaimana dengan bawaan kami yang cukup berat? Haduh, saya bisa saja jalan kaki, namun kawan saya menyerah terlebih dahulu karena memang bawaannya yang lebih berat dari saya.

Solusi terakhir? kami akhirnya menyewa tukang ojek untuk mengantar kami berdua. Dan setelah bernego masalah harga, kami sepakat dengan harga satu orang satu motor Rp 20.000,-. Yah Alhamdulillah sesuatu…

Finally, sampai tulisan ini terposting, saya bisa beristirahat dengan tenang di kos-kosan kawan lama kami. Begitu banyak moment yang tak terduga bukan kawan, terlebih moment yang tak akan pernah terlupakan… 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s