Proses Berburu Beasiswa: Never Give Up!

People of mediocre ability sometimes achieve outstanding success because they don’t know when to quit. Most men succeed because they are determined to
~George Allen~

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya kawan, Proses Berburu Beasiswa tidaklah instant. Kali ini saya akan menceritakan apa saja yang sudah saya lakukan sebelum saya mendapatkan beasiswa Master progam di Graduate Institute of Applied Science and Technology, NTUST, Taiwan. Tidak cukup hanya mencari informasi saja, dan hanya menunggu datangnya keajaiban. Tapi kita dituntut untuk harus bergerak dan terus bergerak hingga tak tau kapan kita harus berhenti untuk bergerak.

Sejak saat keinginan untuk melanjutkan kuliah itu terpatri dalam benak, saya sudah menyediakan satu folder khusus dalam laptop saya yang berjudul “Rencana S2” dan isinya hingga saya posting tulisan ini sudah berisi 10 folder didalamnya. Beberapa folder untuk info beasiswa dan beberapa folder lagi untuk info universitas incaran. Kawan-kawan ingin mengetahui nama-nama foldernya? Oke saya persilahkan. Dari 10 folder tersebut masing-masing memiliki nama; Beasiswa Unggulan, Dikti Caldos, Gambaran Fisika Medis, ITB, LPDP, NTUST, Taiwan Scholars, UI, UNDIP, USAID.

proses berburu beasiswa

10 Folder yang telah saya siapkan sejak lama

Tak perlu penasaran kawan… Saya akan menceritakan satu persatu alasan kenapa saya membuat dan menyimpan 10 folder tersebut.

Sebenarnya folder yang pertama kali saya buat adalah folder yang berjudul “Dikti Caldos”. Maksud dari terbentuknya folder tersebut adalah untuk menyimpan segala sesuatu yang berhubungan dengan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPP-DN) yang dikhususkan untuk dosen, calon dosen, dan tenaga kependidikan. Yah, saya memang berkeinginan untuk menjadi Dosen kawan. Mulai dari informasi, buku pedoman, sampai persyaratan yang harus dipenuhi pun sudah tersimpan rapi di dalamnya.

Oh ya, yang saya simpan dalam folder tersebut adalah buku Pedoman BPP-DN yang tahun 2013 kawan, karena yang tahun 2014 belum keluar. Saya menyimpan dan mentela’ah baik-baik setiap kalimat demi kalimat yang tertera didalamnya, hingga hafal betul tahap apa saja yang harus saya lakukan. Bisa dibilang saya siap 100% untuk mendaftar beasiswa tersebut.

Anda harus memahami aturan permainan! Kemudian Anda harus bermain lebih baik daripada pemain lain.
~Albert Einstein~

Saya bahkan sudah membuat akun dan daftar online juga lho kawan, sambil menunggu pengumuman resmi untuk BPP-DN 2014. Namun sayang ternyata pada bulan Maret 2014 kalau tidak salah ingat, keluarlah pengumuman dari home page (HP) resmi Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (DIKTI) yang menyatakan bahwa pada tahun 2014 ini BPP-DN tetap dibuka namun khusus hanya untuk dosen dan tenaga Kependidikan. Pupus sudah harapan saya kawan, karena saya bukan dan belum menjadi dosen maupun tenaga kependidikan, sama sekali tidak ada kesempatan bagi saya untuk mendapatkan beasiswa BPP-DN ini.

Tidak berhenti disini kawan, meski beasiswa ini incaran utama saya namun tenang… jalan menuju kuliah S2 masih banyak. Don’t give up! 😀

Folder yang kedua adalah folder “Gambaran Fisikawan Medis”. Saya memang berkeinginan untuk melanjutkan kuliah dibidang minat saya kawan. Seperti yang saya bilang sebelumnya bukan, saya ingin menjadi dosen! Jadi minimal saya harus mengambil jurusan S2 yang linier dengan jurusan S1 saya. Didalam folder tersebut banyak tersimpan artikel-artikel yang membahas tentang Fisika Medis di Indonesia kawan, mulai dari perkembangannya, Universitas-universitas yang mempunyai jurusan tersebut, hingga prospek kedepan untuk para fisikawan medis.

Dari sanalah saya mengetahui bahwa Fisika Medis pertama kali dikembangkan di Universitas Diponegoro (UNDIP), selanjutnya mengikuti Universitas Indonesia (UI), Institute Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Brawijaya (UB), dan tak ketinggalan Universitas Airlangga (UA). Sejak saat itulah dengan beberapa pertimbangan saya menetapkan untuk lanjut S2 dengan perioritas pertama di UNDIP, kedua di ITB, dan yang terakhir di UI. Kenapa tidak mengambil di UA? Iya, karena di UA sampai sekarang masih belum ada program S2 Fisika Medis kawan.

Maka folder selanjutnya yang terbentuk adalah folder universitas-universitas incaran seperti UNDIP, ITB, dan UI. Sama seperti folder-folder sebelumnya, di dalamnya sudah tertata dengan rapi tentang segala sesuatu informasi yang diperlukan untuk mendaftar ke universitas tersebut, mulai dari buku pedoman, formulir, surat rekomendasi, dan arsip-arsip pendukung lainnya.

Di UNDIP saya sudah daftar online juga, namun entah mengapa saat mendekati hari-H seleksi penerimaan dan batas akhir pembayaran biaya pendaftaran melalui transfer, hati saya sedikit berat untuk bergerak, dan kembali berfikir macam-macam; Nanti kalau saya tes di Semarang, trus saya kesananya bagaimana? Saya harus menemui siapa? Saya kan belum pernah kesana sama sekali? Saya juga belum punya kenalan sama sekali disana? Nanti kalau saya terlantar bagaimana? Iya kalau gak kesasar? Dan masih banyak pikiran-pikiran negatif lainnya yang membayangi pikiran. Tinggalkan apa yang meragukan. Akhirnya hingga hari-H terlewati sukses saya tidak melakukan registrasi lebih lanjut meski sudah mendapatkan SMS remainder dari panitia penerimaannya untuk segera menyelesaikan registrasi pendaftaran.  Kecewa? Tidak, entah mengapa, mungkin karena memang jalan saya tidak di sana. 😀

Menyerah? Bukan, saya hanya kurang sreg saja saat mendaftar di sana kawan. #ngeles 😀

Sedangkan di ITB, saya juga sudah memahami aturan mainnya kawan. Langkah pertama yang saya lakukan adalah saya meminta dua buah surat rekomendasi dari dosen. Dan Alhamdulillah dalam langkah ini saya tidak mendapatkan kesulitan yang berarti. Selanjutnya, saya harus melakukan tes TOEFL-ITP dan juga tes potensi akademik (TPA) yang sama-sama disyaratkan minimal harus mengantongi skor 475.

Sebelumnya saya cukup takut kawan. Yah, ketakutan karena sekali lagi saya ingatkan, saya payah dalam pelajaran Bahasa Inggris. Saya takut tidak bisa memenuhi persyaratan skor yang ditetapkan meski hanya 475. Namun saya tetap nekat mendaftar tes TOEFL-ITP di Pusat Bahasa UA dengan ketakutan. Dan sore hari setelah tes TOEFL-ITP, saya langsung terbang ke kota Malang untuk melakukan tes TPA yang diselenggarakan oleh BAPPENAS di UB esok harinya. Saya tidak main-main bukan dalam mengejar mimpi. 😉

Dua minggu setelah tes berlalu, hasil dari kedua tesnya telah keluar. Dan bagaimana hasilnya kawan? Yah seperti dugaan semula, saya gagal di tes TOEFL-ITP. Saya hanya mendapatkan skor dibawah 475 tidak lebih. Sedangkan untuk tes TPA-nya barulah saya berhasil mendapatkan skor diatas 600 kawan. Hasil yang bisa dibilang cukup spektakuler karena tanpa persiapan sama sekali. 😀 Tapi percuma saja kalau hasil TPA bagus namun TOEFL-ITP masih belum mencukupi, saya harus mengulangnya lagi kawan. Dan tes hanya bisa dilakukan satu bulan selanjutnya, tidak boleh melakukan dua kali tes dalam sebulan.

Bulan berikutnya saya sudah berusaha lebih keras lagi untuk belajar Bahasa Inggris dan berinisiatif untuk mendaftar tes TOEFL-ITP lagi. Namun apa yang saya hadapi kawan? Biaya pendaftaran tes TOEFL-ITP naik drastis. Dari yang semula 275rb berubah menjadi 350rb. Meski Cuma 75rb, namun cukup berharga bagi saya yang hanya mengabdi dengan gaji pas-pasan. Akhirnya saya berfikir dua kali lagi untuk mendaftar tes tersebut.

Tak hanya masalah skor TOEFL-ITP yang belum berhasil saya kantongi. Ternyata mendaftar di ITB juga harus menggunakan legalisir Ijazah, padahal Ijazah aseli saya dan legalisirnya masih dengan tenangnya berada di Kemenag RI Pusat di Jakarta. Akhirnya saya berinisiatif menghubungi pihak panitia penerimaan ITB untuk bernego perihal Ijazah saya yang belum ada, dan apakah diperbolehkan menggunakan Surat Keterangan Lulus (SKL) terlebih dahulu? Namun sekali lagi jawaban yang saya peroleh tidak sesuai dengan harapan. Pihak penerimaan ITB menetapkan dengan harga mati bahwa saya harus mendaftar dengan menggunakan legalisir Ijazah tidak boleh menggunakan SKL.

Menyerah? Sekali lagi bukan kawan, saya hanya mengambil alternatif lain, yakni dengan menghentikan segala proses mendaftar di ITB dan memutuskan untuk mendaftar di UI. Tenang, masih banyak alternatif kawan. 😉

Berbeda dengan pendaftaran di UNDIP dan di ITB, di UI saya lebih bersemangat mendaftar. Selain karena mendaftar di UI cukup hanya dengan menggunakan SKL, disana juga sudah ada kawan saya yang terlebih dulu kuliah S2 seketika setelah lulus dari S1 Fisika kemarin. Jadi saya tidak perlu kebingungan dan khawatir lagi untuk bertandang kesana. Akhirnya, setelah mengikuti berbagai prosedur yang ditetapkan, tepat pada tanggal 18 Mei 2014 kemarin, telah diumumkan hasil seleksi penerimaan mahasiswa baru UI, dan saya berhasil lolos seleksi masuk S2 Ilmu Fisika Jurusan Fisika Medis di UI. Amazing

Lalu bagaimana dengan beasiswanya? Saya memang lolos seleksi masuk UI, namun saya belum mengantongi beasiswa kawan. Saya tetap akan terus berjuang. Bidikan saya selanjutnya adalah memperjuangkan beasiswa LPDP yang pendaftarannya dibuka sepanjang tahun empat kali. Namun ternyata nasib berkata lain kawan. Sehari setelah pengumuman UI, tepat pada tanggal 19 Mei 2014, saya mendapatkan kiriman Letter of Acceptance (LoA) dari NTUST, Taiwan tersebut. Jadi saya dengan mantab akan mengambil beasiswa ini dan akan terbang ke Negara film “Meteor Garden” tersebut. 😀

***

Hei, kenapa yang dibahas dari tadi hanya seputar proses lanjut kuliah di dalam negeri? Mana bagian proses berburu beasiswa keluar negerinya? Hehehe… Jangan kecewa dulu kawan. Sejak semula, dan sejak pertama kali, saya memang tidak berinisiatif sedikitpun untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Namun apa yang membuat saya bisa mendapatkan beasiswa di negara Taiwan tersebut? Nantikan saja kelanjutan cerita-cerita dari folder-folder yang belum saya bahas di atas pada postingan selanjutnya kawan. 😉

To be continued…

Iklan

6 thoughts on “Proses Berburu Beasiswa: Never Give Up!

  1. Ping-balik: Proses Berburu Beasiswa: Fokus! | Navigasi Kehidupan

  2. Masuk UI-nya jalur SIMAK ya? Saya juga lulus kemarin, Hanya saja saya tidak bisa lanjut karena kendala biaya. Untuk mencari Beasiswa, rasanya agak sulit karena jurusan yang saya ambil bukan jurusan eksak, tapi agama. Sampe sekarang saya masih nggak tahu harus kemana. 😦

    • iya simak yg bulan april kemarin.
      bisa kok, coba dulu aja, klo emang tahun pertama belum dpt, bisa coba di tahun kedua ngapply Tanoto Foundation ato apa gtu,
      tenang don’t give up, setiap ada niat pasti ada jalan \^.^/

  3. Ping-balik: Proses Berburu Beasiswa: Ambil Semua Kesempatan Yang Datang! | Navigasi Kehidupan

  4. Ping-balik: Proses Berburu Beasiswa: Tirakat! | Navigasi Kehidupan

  5. Ping-balik: Proses Berburu Beasiswa: Tirakat! | Navigasi Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s