Bukan Hape Pinjaman

Hmm,,, habis bersih-bersih rumah, nemu sebuah fosil dari barang langkah yang telah lama terpendam di tumpukan barang-barang Langkah yang telah lama tak terjamah tangan. Super sekali!!!

Yap, barang yang saya temukan tersebut adalah sebuah fosil dari benda kenangan. Sebuah hape jadul mantan hape pertama saya. Hape CDMA Esia Huawei C2801. Bagaikan menemukan sebuah kenangan tempo jadul, saya sedikit menitikkan air mata sambil mengelus-elus dan membersihkan fosil hape yang sedikit berdebu tersebut (lebay.red).

Lalu apa yang saya lakukan? Yap, seperti manusia kebanyakan (lho -.-“) saya langsung mengambil hape Kedua saya yang sampai saat ini masih dengan setianya menemani saya dalam suka dan duka, hape Nokia 2700 Classic. Kemudian langkah selanjutnya langsung masuk di menu camera. Dan, ckrik ckrik. Jadilah sebuah potret yang mendokumentasikan fosil hape pertama saya tersebut.

Tara,,,

IMG_20140515_220826-1
Inilah potret dari hape pertama saya, Esia Huawei C2801 (kalau gak salah inget tipenya)

Sedikit mengenang tentang cerita dari hape pertama saya tersebut. Saya masih ingat dengan jelas saat pertama kali mendapatkan hape tersebut. Itulah saat pertama kalinya saya membawa, memegang, dan mengoperasionalkan sebuah hape. Bulan Oktober 2008. Dua bulan pasca kelulusan saya dari sekolah menengah atas.

Selama duduk di bangku sekolah menengah atas, saya belum banyak mengenal yang namanya hape. Meski sebagian besar teman-teman saya sudah memilikinya, saya hanya bisa melihat mereka yang mempunyai hape dan sempat berfikir, “Emang buat apa sih hape itu? Penting nggak sih kalau anak SMA sudah punya hape? Bukannya nanti malah kepikiran buat njatah uang pulsa? Ah, ada-ada aja anak-anak itu pake punya hape segala”. Akhirnya hingga lulus SMA pun sukses saya tidak memiliki sebuah hape sama sekali.

Baru setelah lulus dari bangku SMA, saat saya sudah mulai bekerja di sebuah pabrik, saya baru merasa pentingnya akan keberadaan hape. Kenapa? Kok bisa? Iya, karena saat itu, pabrik yang saya tempati bekerja itu terletak cukup jauh dari rumah. Perjalanan kurang lebih 15 menitan menggunakan motor. Dan tidak ada satu angkotpun yang lewat di depan pabrik yang saya tempati bekerja tersebut. So, dengan otomatis saya masih harus diantar jemput oleh kakak saya selama bekerja tersebut.

Saat berangkat bukanlah sebuah masalah karena start awal dari rumah menuju pabrik, dan komunikasi bisa langsung face to face. Baru setelah kepulangan dari bekerja itulah saya mengalami sedikit masalah. Jam kepulangan memang sudah pasti, namun terkadang saya masih perlu waktu untuk laporan, atau terlambat pulang karena target yang tidak tercapai. Mulailah muncul masalah perihal informasi dan komunikasi. Terkadang kakak saya yang terlalu lama menunggu karena saya tak kunjung keluar, ataupun terkadang saya yang terlalu lama menunggu karena kakak saya tak kunjung datang. Dari sinilah saya memutuskan, saya membutuhkan sebuah hape untuk beekomunikasi dengan kakak saya. Saat itu, hanya itu!

Karena belum satu bulan bekerja, tentu saya sama sekali masih belum memiliki uang. Sepeser pun. Akhirnya karena kebaikan dan kedermawanan kakak saya,  beliau mau meminjami saya uang untuk membeli hape baru. (Catatan: saat itu pun satu keluarga saya yang sudah mempunyai hape hanya kakak saya tersebut. Dan itu pun juga hape esia). Kenapa kok kakak saya hanya meminjamkan uang? Bukan dengan ikhlas memberi saja? Sebenarnya kakak saya dengan suka rela memberi saya uang Rp 300.000,- saat itu, tapi saya sendirilah yang tidak mau menerimanya karena dengan alasan saya sudah bekerja, dan saya bisa mandiri, hanya saja saat itu masih belum saatnya.

Seketika dengan uang Rp 300.000,- saya langsung minta antar kakak saya ke pusat perbelanjaan barang elektronik, dengan tanpa berfikir tipe hape apa yang akan saya beli. Saya hanya berfikir, “Yang penting saya punya hape biar bisa sms kakak saya untuk minta di jemput dari tempat kerja”.

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bertransaksi, akhirnya saya memiliki hape juga. Hape CDMA Esia Huawei C2801 dengan harga Rp 280.000,- dan berkartu Flexy karena kartu yang digunakan kakak saya juga kartu Flexy. Alhamdulillah masih ada kembalian Rp 20.000,- dari uang yang dipinjami kakak saya.

Hei, tunggu dulu, jangan dianggap ini hape pinjaman ya, ini hape saya sendiri. Pribadi. Hanya uangnya saja yang pinjaman. Dan itupun saat gajian bulan pertama saya dengan segera langsung melunasinya.

Sekarang kembali lagi saya sampaikan bahwa sekarang saya sudah tidak memakai lagi hape pertama tersebut karena semenjak kuliah semester kedua, saya memutuskan untuk mengganti hape CDMA tersebut dengan hape GSM karena komunitas dan kawan sejawat di bumi perkuliahan lebih banyak menggunakan nomor GSM yang notabene lebih murah jika dibandingkan dengan nomor CDMA. Dan sekarang saya memakai hape Nokia 2700 classic yang alhamdulillah masih bertahan cukup lama.

Lalu, bagaimana  Kabarnya hape pertama tersebut? Apakah masih bisa dipakai? Kenapa kok tidak dijual? Kabar hape pertama saya tersebut masih bagus, tidaklah rusak, hanya saja saya sayang untuk menjualnya (itupun kalau laku) karena dengan adanya fosil hape tersebutlah minimal ada kenangan yang saya hasilkan dari memeras keringan saat bekerja menjadi buruh pabrik.

***

Iklan

5 thoughts on “Bukan Hape Pinjaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s