My First Journey: Let’s Talk About Long Story

Long story? Kakaknya short story mungkin 😆

Seperti yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya akan melakukan perjalanan panjang dan jauh. Menaklukkan ibu kota Indonesia! Dan itulah cerita panjang saya. Cerita yang panjang, bagi saya, karena ini adalah cerita pertama kalinya saya berangkat ke Kota Jakarta setelah sekian lamanya hanya bisa melihat kota ini dari berita koran, televisi, blog, maupun sinetron.

Cerita yang dimulai dari rencana keberangkatan, persiapan yang cukup panjang, dan finally, saat saya posting tulisan ini, saya sudah berada di kota tujuan, Jakarta.

Rencana Keberangkatan

Sebenarnya sudah sejak bulan Maret saya berencana untuk berangkat ke kota metropolitan terbesar pertama di Indonesia itu. Bermula dari obrolan ringan dengan sahabat yang tengah terpisah jauh di pulau seberang, Madura. Sebut saja namanya Nanik. Kami berdua yang sama-sama berkecipung di dunia pengabdian pasca kelulusan dari dunia perkuliahan, dan tengah terpisah cukup lama setelah sekian tahun bersama, berinisiatif untuk merefresh pikiran dan mengagendakan liburan ke kota Jakarta. Yah liburan yang sudah sangat lama terpending hanya dalam sebatas rencana.

Kenapa memilih kota Jakarta? Karena kota tersebut cukup menarik perhatian kami saat itu dibandingkan kota yang lain. Selain itu kota Jakarta terletak di bagian barat pulau jawa yang belum pernah sekalipun kami singgahi. Berbeda dengan kota-kota yang lain seperti Banyuwangi, Situbondo, Jember, Probolinggo, Mojokerto, Malang Pasuruan, Sidoarjo,Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Jombang, Rembang, Tulungagung, Magetan, Solo, Kediri, Yogyakarta, dll yang minimal kami pernah sedikit menghirup oksigen yang cukup segar yang ada di kota-kota tersebut. Kami ingin menikmati suasana baru, suasana kota dengan penduduk terpadat di Indonesia, suasana panasnya ibu kota Indonesia di siang hari, ataupun suasana banjir saat musim penghujan. Aneh bukan? Yah memang itu tujuan kami, tampak aneh dimata orang 😀

Namun naas, setelah bersemangat untuk mengagendakan liburan tersebut, dan mencari-cari info budget yang harus dikantongi, rencana itu berangsur-angsur mundur secara teratur dari pikiran ketika baru melihat harga tiket kereta ekonomi secara online yang tidak sesuai dengan kriteria. Saat itu (bulan Maret) harga tiket sekali berangkat saja sudah diatas seratus ribu. Rencana pertama gagal.

Ternyata nasib berkata lain. Saya masih ditakdirkan untuk betangkat ke Jakarta. Kali ini dengan beberapa misi tertentu, bukan hanya untuk bersenang-senang. Misi yang pertama adalah mengikuti tes seleksi masuk kuliah S-2 di Universitas Indonesia, Depok. Misi yang kedua adalah mengendangi kantor Kementrian Agama RI untuk meminta izin melanjutkan study tentunya karena saya masih terikat kontrak mengabdi selama tiga tahun. Dan misi yang terakhir adalah bertemu dan bercengkrama dengan sahabat lama yang sudah hampir menetap lama di kota metropolitan ini, sambil berkeliling menaklukkan kota Jakarta (temu kangen). Semoga misi-misi itu bisa berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan, Amin.

Perjalanan semakin mendapatkan jalan mulus ketika mengetahui bahwa tiket kereta api ekonomi akan mendapatkan subsidi lagi dari pemerintah (sebelumnya pernah dapat subsidi namun sempat berhenti) per tanggal 1 April 2014. Cocok. Jadwal tes saya tanggal 13 April 2014. Seketika langsung capcus berangkat ke Indomaret terdekat untuk memesan tiket secara Online. Dan mendapatkan harga tiket Rp 50.000,- untuk tanggal 11 April 2014. Lalu bagaimana dengan Nanik? apakah dia jadi berangkat juga, meski tanggalnya selisih, tidak seperti agenda semula? Semula kami mengagendakan berangkat tanggal 21 Maret 2014. Semula dia tertarik untuk kembali berangkat, namun setelah bernego alot dengan orang tuanya, dia dinyatakan tidak mendapatkan izin. Jadilah saya bertekat berangkat seorang diri.

Persiapan yang cukup panjang

Sejak saat itu saya kembali membongkar kontak yang ada di hp saya. Mencari dan mengingat-ingat siapa saja teman yang ada di kota Jakarta. Tujuan pertama pasti mencari tempat pengungsian saya selama ada di kota asing tersebut. Dan tujuan kedua Alhamdulillah untuk menyambung tali silaturrahmi yang mungkin agak lama terputus. Setelah terkumpul beberapa nama saya mencoba menghubungi satu persatu dan Alhamdulillah lagi semua sedang dalam keadan sehat dan bersedia dengan tangan terbuka untuk menampung saya selama disana.

Agenda perjalananpun mulai saya susun. Setelah memantapkan hati maka terputuslah keputusan bahwa saya akan berada di Jakarta selama seminggu. Hari pertama sampai dan istirahat, hari kedua tes, hari ketiga ke kantor Kemenag RI, hari keempat ke UNJ, hari kelima kondisional, hari keenam berkeliling kota, dan hari ketujuh berangkat pulang. Tiket pulangpun akhirnya baru terbeli saat itu.

Selanjutnya H-1 keberangkatan saya mulai menyiapkan barang-barang bawaan yang dibutuhkan. Sambil mencari-cari info tentang perjalanan naik kereta api ekonomi dari Surabaya ke Jakarta. mulailah saya berselancar, berjalan-jalan blog para sahabat (setelah cukup lama vakum) yang bercerita tentang perjalanannya di dalam kereta. Khususnya kereta ekonomi. Dan akhirnya saya menemukan blog milik Bang Imron yang bercerita tentang kondisi dan situasi di dalam kereta.

Dan terakhir, persiapan mental sekali lagi sangat perlu sebelum perjalanan panjang ditambah sendirian dan untuk pertama kalinya. Meminta restu dan pamit kepada seluruh isi rumah, mulai dari nenek, bapak, ibuk, uwak, kakak-kakak, serta ponakan yang tercinta semua. Memohon do’a agar perjalanan yang akan saya lalui berjalan dengan lancar tanpa adanya halang intang hingga dapat kembali ke rumah dengan selamat dan berhasil menyelesaikan misi dengan baik.

Finally, I’m here

Dari rumah saya, Gresik, saya berangkat naik motor diantar oleh kakak tertua saya sampai di pangkalan angkot yang menuju Pasar turi. Setelah sungkem, mencium telapak tangannya, saya langsung masuk kedalam angkot. Dan kakak saya belum beranjak pulang sebelum bayangan angkot yang saya tumpangi hilang dari bola matanya. Hal tersebut saya lihat dari dalam angkot. Bayangan kakak saya yang semakin lama semakin mengecil hingga tak terlihat lagi. Perpisahan yang cukup mengharukan bagi saya 😥

Sesampai di Stasiun Pasar Turi tepat pukul 2 siang, jadwal keberangkatan kereta baru pukul 3 sore namun kereta apinya sudah standby di atas rel sehingga para penumpang sudah diperbolehkan masuk, termasuk saya. Gerbong pertama nomor 3A, itu nomor bangku saya.

Di dalam kereta saya tetap berhati-hati seperti kebanyakan kata orang “Hati-hati ya, dijaga barange”. Tas jinjing yang hanya berisi pakaian dan alat mandi saya taruh atas, dan tas ransel saya yang berisi berbagai barang yang agak berharga selalu dalam dekapan saya, bahkan ke kamar kecil sekalipun. 12 jam ternyata waktu yang sangat-sangat lama bagi ukuran saya yang biasa mondar-mandir, pecitat-pecitat (kaya urang lanang #ibuk.red), dan sekarang hanya duduk sekian lama. Sungguh benar-benar menjemukan.

Mulai dari online, menikmati pemandangan diluar jendela, mendengarkan musik, membaca buku bacaan yang kebetulan saya bawa atas rekomendasi dari bang Imron, hingga mengamati hilir mudik orang yang kebetulan lewat ke kamar mandi gerbong ataupun orang yang kebetulan turun di stasiun-stasiun yang terlewati. Dan tetap saja waktu 12 jam itu serasa tak habis-habis. Semakin malam suasana gerbong semakin sunyi. Rasa ngantuk dan capekpun mulai menghinggapi saya. Jam tangan menunjukkan pukul 1 pagi, berarti kurang dua jam lagi.

Kaki terasa sangat kaku, penumpang sebelah kanan saya (kebetulan perempuan) sudah bolak-balik menjatuhkan kepalanya ke pundak saya dan seketika langsung terbangun, lagi dan lagi. Depan saya bapak-bapak dan dan ibu yang sudah sepuh, mereka bertiga terlihat masih saudara, tergambar dari keakraban mereka bertiga. Sang Ibu malah hampir sejak baru berangkat sudah memejamkan matanya.

Menurut jadwal, seperempat jam lagi kereta akan mendarat di stasiun Pasar Senin. Ada satu bapak-bapak yang memandang saya tajam serasa melihat kekhawatiran dan kewas-wasan saya yang mau turun mana. Sekwtika bapak itu langsung bertanya ke saya “turun mana mbak?” “pasar senin pak, masih belum ya pak?” jawab saya serentak. “Oh, belum ini masih jatinegara habis ini, nanti bareng saya saja, saya juga turun pasar senin. trus mbaknya mau kemana?”, “Ke Salemba pak, bapaknya?” “oh, naek taksi aja nanti, saya turun (saya tidak mendengarnya), tapi masih mau nunggu jam 5 aja keluarnya.” “Saya dijemput temen kok pak, iya jam 5 juga katanya” “Oh nanti keluar aja pokoknya jangan sampe keluar gerbang, klo dijemput temennya suruh masuk gerbang aja, nanti tunggu diruang tunggu, ada seven eleven, ada mushollah juga”, “iya pak, makasih :D” tutup percakapan saya. Saya curiga, jangan-jangan bapak ini orang gak bener (su’udhon).

Setelah sampai di Stasiun Pasar Senin, turun gerbong saya langsung melihat mushollah, tapi masih gelap. Saya hampiri ternyata toiletnya masih tutupan dan banyak orang tidur disana, ada seorang yang melihat saya mengamati toilet dan menegur “masih tutup mbak, diluar aja”. Seketika saya mencari jalan, dan melihat bapak yang di dalam gerbong kreta tadi menunggu saya dan melambaikan tangannya.”Lewat sini mbak, sama saya aja”, karena banyak orang yang juga lewat jalan yang sama sayapun akhirnya menurut, meski dalam lubuk hati ada sedikit rasa curiga. “Nah ini mbak ada seven eleven, itu mushollahnya ada disana, pokoknya jangan sampe keluar kesana, rawan lho, tunggu temannya njemput aja, saya tak duluan mbak” kata beliau sambil ngacir entah kemana. “Oh ternyata saya sudah su’udhan ya allah, Astaghfirllah..” dan saya langsung menuju Mushollah untuk menunaikan kewajiban sholat Isya’ sekaligus Maghrib dan menunggu teman saya menjemput hingga masuk waktu solat Subuh

Dan Akhirnya, saat saya menposting tulisan ini, saya sudah leyeh-leyeh di dalam kos-kosan teman saya yang sudah lebih dulu kuliah S2 di UI, Salemba. Savely. Terimakasih ya Allah…

Tulisan ini disertakan dalam GA My First Journey Wanderer Silles

Iklan

15 thoughts on “My First Journey: Let’s Talk About Long Story

  1. Ping-balik: Peserta Giveaway My First Journey | Wanderer Silles

  2. Wah, menegangkan juga. Memang bener kata orang2 kalau sekitaran stsiun senin itu banyak daerah yg rawan. Saya belum pernah ke Jakarta. Info ini tentu sangan bermanfaat.

    Terima kasih atas partisipasinya ya Mbak 🙂

  3. Ping-balik: Unpredictable Moment | Navigasi Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s