Permainan Perasaan

Aku tak pernah bisa terlibat dalam permainan perasaan, terlebih perasaan yang teramat sangat mendalam.

Haruskah aku bangga ataukah malu dengan keadaan yang seperti ini?

Ketika melihat seorang anak kecil sendirian yang menangis mengelu-elu hanya karena ice creamnya terjatuh ketanah saja aku bingung untuk berlaku apa. Yang ku ingat saat itu hanya sekilas bayangan adegan film yang pernah aku lihat. Ketika mendapati seorang entah terkasihnya atau bukan yang menitikkan air matanya, hal yang pertama kali dilakukan adalah memegang pipinya, menenangkannya dan kemudian menghapuskan air matanya. Ya seperti itulah yang akhirnya aku lakukan kemudian. Mengelus pipinya, menenangkannya, dan menghapus air matanya.

Apakah aku hanya berakting? Entahlah, karena aku tak pernah bisa memikirkannya.

Bahkan ketika mendapati salah satu murid binaan yang tengah berhasil mendapatkan sebuah prestasi, berhasil membumbungkan nama harum sekolahan, aku kembali bingung berlaku apa. Langkah pertama yang bisa aku lakukan hanyalah sedikit menyisihkan waktu sekejap untuk berfikir. Dan langkah kedua adalah menerapkan apa yang akhirnya terbesit dalam pikiran. Menyunggingkan bibir untuk tersenyum, dan kemudian menjabat tangannya serta mengucapkan selamat dengan nada yang sangat menyenangkan.

Ah, aku benar-benar kikuk melakukannya.

Dan lagi ketika aku harus dihadapkan dengan orang yang benar-benar murka dan marah karena suatu hal yang sangat mebuatnya emosi. Dan hanya aku yang mengetahui duduk permasalahannya dengan pasti, bahwa dia memang pantas untuk marah saat itu. Lalu apa yang harus aku lakukan? Menenangkannya? dengan cara bagaimana? sekali lagi kalau aku meniru film yang pernah aku tonton, aku harus meringkuknya, dan mengikatnya diatas kursi. Apa memang harus demikian?

Ah, aku benar-benar kehabisan pikir bakal melakukan apa.

Dan bahkan ketika ada seorang pria yang tiba-tiba dengan tulusnya menyatakan bahwa dia teramat sangat menyukai dan menyayangiku, akupun kembali bingung untuk bersikap. Haruskah aku bilang “WAW” sambil melempar sendal keatas? Ataukah aku harus menangis terharu dan kemudian memeluknya seperti yang di film-film lagi?

Ah, hal yang benar-benar konyol.

Aku tidak suka terlibat dengan hal yang seperti ini. Aku hanya ingin bebas, hidup tenang, tanpa harus dibebani dengan segala permainan perasaan yang aneh ini. Tuhan, apakah memang syarat bagiMu untuk menciptakan makhluk yang lemah terhadap perasaannya seperti aku di muka bumi ini? Kalau memang iya, aku hanya ingin memohon satu hal Tuhan. Berikanlah Aku kepercayaan diri dan kemampuan lebih untuk pandai bersikap dalam menghadapi permainan perasaan yang membingungkan ini Tuhan…

Iklan

6 thoughts on “Permainan Perasaan

  1. atuutt.. ini aku banget 😦 impresif. nggak bisa mengekspresikan perasaan dgn benar, gatau harus mengekspresikannya seperti apa.. satu lagi tut: kalau ada teman yg baru saja kehilangan anggota keluarga..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s