Pagi Galau

Hari ini, Senin, 7 April 2014. tidak biasanya saya pagi-pagi buta sudah mandi dan kelayapan keluar rumah. Tujuan pertama saya saat itu hendak berangkat ke ATM terdekat, karena ada keperluan mendesak yang harus saya lakukan di sana. Dan yang kedua adalah membeli buku tulis (setelah sekian lama tidak pernah membeli buku tulis) untuk corat-coret dan belajar gramar bahasa Inggris karena saya baru sadar ternyata bahasa Inggris itu penting, dan dijadikan syarat berbagai macam keperluan baik akademik maupun non akademik. Saya jadi menyesal, kenapa dari dulu saya tidak pernah belajar bahasa Inggris coba, di SMA pun serasa pelajaran itu menguap dari otak saya. >.<

Setelah memanaskan sedikit mesin sepeda motor yang hendak saya pakai, saya berangkat ke tujuan pertama yakni ATM, dengan kelajuan yang tidak seperti biasanya, kali ini saya benar-benar mengendarainya dengan kecepatan yang sangat lamban, rata-rata 30 Km/jm mungkin. Benar-benar hal yang jarang saya lakukan.

Setelah menyelesaikan urusan di ATM, saya langsung menuju ke toko alat-tulis, seperti yang saya bilang tadi, tujuan saya yang kedua adalah membeli buku tulis. Dan baru dari sinilah kegalauan itu terjadi. Perut saya mulai lapar, sambil mengendarai motor, mata saya jelalatan melihat para pedagang kaki lima yang memenuhi seluruh jalan yang saya lewati. Apakah itu galau? Mungkin, karena lapar adalah masalah klasik, dan kebutuhan mendasar makhluk hidup yang harus dipenuhi.

Akhirnya saya putuskan, tujuan terakhir saya pagi ini adalah mencari obat penunda lapar. Sepanjang jalan saya mengamati para penjual kaki lima, yang terlihat ada bubur ayam, ada nasi pecel pincuk, nasi pecel madiun, soto ayam, gado-gado, dan beraneka ragam makanan penyelamat perut lainnya. Selama pengamatan itu saya sekali lagi tidak melajukan sepeda motor dengan kelajuan yang cepat, atau bahkan relatif pelan dibandingkan saat berangkat tadi. Namun saat itu juga saya kembali galau, karena makanan incaran saya adalah batagor. Sayang sepagi ini tidak ada satupun penjual batagor yang saya lihat.

Karena sedikit kecewa saya putuskan untuk pulang saja langsung ke rumah. Namun ketika hampir sampai di gang masuk rumah saya, saya seperti melihat pedagang batagor dari kejauhan. Saya sedikit merasa senang, dan ingin memastikan benarkah itu penjual batagor?

***

Dalam proses berfikir itu saya dikejutkan oleh sebuah goncangan besar dan suara yang cukup keras dari arah kanan setir sepeda motor saya. Saya tersentak kaget, ternyata ada sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh bapak-bapak menyerempet setir saya bagian kanan atau yang biasa digunakan untuk mengatur gas pada mesin itu.

Keseimbangan saya seketika oleng saya terhempas ke arah kiri, namun kendali masih ditangan saya. Seketika saya menghempaskan stir ke arah kanan untuk menyeimbangkan lagi hingga membentuk pola zigzag. Dan beruntunglah karena saat itu belakang saya tidak ada satu kendaraan yang lewat, dan sekali lagi karena saya tadi mengendarai motor dengan kecepatan yang sangat pelan.

Pedangang batagor itu akhirnya terlewati, bapak-bapak yang menyerempet saya pun juga mencoba menyeimbangkan sepedanya dan mengemudikannya lagi dengan normal di depan saya. Bapak itu tidak lepas tanggung jawab, saya ditungguinya di depan, melihat sepeda motor saya tidak terjatuh dan tetap berdiri tegak, bapak itu sedikit merasa lega.

Rencana beli batagor gagal, bahkan sempat pedagangnya melihat proses kecelakaan kecil kami itu. Pupus harapan mau membeli batagor, karena saya kembali memutuskan untuk langsung pukang ke rumah. Bapak yang menabrak saya dan menunggu saya tadi langsung menghampiri ke arah saya sambil sedikit tersenyum ketakutan dan berkata “sampean ndakpapa mbak? Sepurane ya mbak,” ungkapnya dengan penuh sesal.

Jawaban saya? Entah pagi itu serasa urat marah saya telah terputus, bahkan saya tidak bisa berfikir sedikitpun untuk marah padahal menurut kamus pribadi saya, saya adalah tipe orang yang suka marah, apalagi kalau ada yang membuat gara-gara dengan saya. Sambil tersenyum saya menjawab “nggeh mboten nopo-nopo kok pak…” Tampak raut muka lega di wajah bapak itu. Dan saya melanjutkan perjalanan. Pulang!

***

Urusan selesai, meskipun satu misi belum terlaksana. Namun hati cukup tenang tanpa perasaan galau yang berlebih, meski tangan sedikit gemetar dan jantung sedikit lebih kencang memompa. Satu gelas air putih cukup untuk mengatasinya. Satu pelajaran, Ternyata menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin tanpa emosi itu lebih enak rasanya! Trust me ūüėČ

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s