Mencari Orang Jahat #SonglitChallenge4

Mencari orang jahat itu tidak semudah membolak-balikkan telapak tangan. Saya telah membuktikannya!

Bermula dari ketika saya hendak bepergian ke kota Malang dengan menggunakan kereta api kelas ekonomi, sendirian. Banyak orang yang menghawatirkan saya mulai dari keluarga, sahabat, sampai tetangga. Mungkin karena saya adalah seorang perempuan yang bepergian sendirian ke tempat yang cukup jauh. Namun karena tekat saya yang sudah bulat untuk berangkat mereka semua hanya berpesan dengan inti yang sama; hati-hati di jalan, dijaga barangnya, jangan mudah percaya dengan orang yang tak dikenal.

Tak ayal dari pesan-pesan tersebut yang dapat saya simpulkan adalah diluar sana banyak orang jahat. Saya harus berhati-hati dan waspada.

Mulai berangkat dari rumah saya sudah hati-hati dan waspada. Saya berangkat dari stasiun gubeng lama, Surabaya, dengan kereta Penataran. Saya sendirian. Duduk di bangku yang sesuai dengan tiket. Tak ada satu orangpun yang saya kenal. Saya hanya berdiam diri. Tidak biasanya saya bisa puasa ngomong sampai lama. Yang saya lakukan hanyalah memandangi setiap orang yang melalu lalang didepan saya. Termasuk tetangga depan bangku saya.

I’m an atom in a sea of nothing
Looking for another to combine
Maybe we could be the start of something
Be together at the start of time

Daya investigasi saya berkeliaran. Mencoba mencari dan mewaspadai orang yang mencurigakan disekitar saya. Tentunya orang jahat.

Dimulai dari samping bangku saya. Ibu-ibu turunan Tionghoa yang juga cukup pendiam. Setelah lama duduk bersama, akhirnya saya tau bahwa dia bersama 3 orang anaknya yang masing-masing duduk terpencar. Yang satu, seorang remaja wanita, anak bungsu yang duduk di depannya tepat. Yang satu, juga seorang wanita, anak sulung yang  duduk di bangku seberang jalan dari saya. Dan yang terakhir anak kedua, laki-laki yang duduk dibalik bangku. Cukup jauh. Mereka berempat sebenarnya tidak mendapatkan jatah tempat duduk karena baru membeli tiket hari itu juga, sehingga setiap pemberhentian di stasiun mereka selalu berharap-harap cemas, khawatir jika bangku yang mereka duduki milik orang lain. Namun hingga sampai di stasiun tujuan, tidak ada seorangpun yang mengusir mereka. Dari logat bicara mereka berempat, cerita-cerita, serta senyum tulus mereka. Mereka bukanlah “orang jahat”.

Selanjutnya orang di depan saya, bapak-bapak berperawakan agak gendut, selama perjalanan selalu bermain tabletnya, sedikit saya lirik, ternyata beliau main game, entah game apa namanya saya kurang tau, yang pasti saat saya lihat ada gambar ninja sambil memegang samurainya. Beliau juga tipe orang yang suka melawak, terbukti saat bercakap-cakap sedikit dengan saya. Bapak itu bertanya, “Turun mana mbak?” “Stasiun Belimbing” jawab saya, “Kalau bapaknya?” imbuh saya. “Kalau bapak saya sudah meninggal, gak naik kereta,” jawab beliau sambil meringis, tanpa menjawab pertanyaan saya, beliau melanjutkan bermain gamenya. Dari sikapnya, saya simpulkan bapak ini bukan “orang jahat”.

Kemudian orang dibangku seberang saya tepat. Beliau juga bapak-bapak. Satu rombongan dengan dua orang lain yang duduknya satu deret dengan beliau. Kalau Bapak ini dan kedua temannya selama perjalanan banyak dihabiskannya dengan tidur. Baru setelah sampai di stasiun Lawang bapaknya terbangun. sambil melihat saya beliau bertanya juga “Turun mana mbak?”. “Stasiun belimbing pak” jawab saya. “Naiknya dari mana?” lanjutnya. “Gubeng pak, tadi kan bareng sama bapak,” jawab saya sambil tersenyum. “Oh ya iya 🙂 di Malang ngapain?”. “Mau tes pak”. “Dimana?”. “Di UB pak, besok”. “oh kuliah, trus ini mau nginepnya dimana?”. “di rumah temen pak, di Belimbing”. “Oh sudah dihubungi? ini sudah mau stasiun Singosari bilangen temenmu, di jemput ta?”. “Iya pak di jemput, ini sudah saya sms kok, 🙂 kalau bapak aselinya mana?”. Ssaya malang”. “Oh, di sby kerja pak?”. “Iya”. “Kerja dimana pak?”. “Pemkotnya”. “Oh pp ya pak?”. “Ndak. seminggu sekali pulangnya”. Kemudian diam. “Ini sudah mau stasiun Belimbing, sudah jemput ta temnnya?”. “Sudah pak, perjalanan katanya”. Keretapun berhenti, dan saya bergegas untuk turun. “Duluan pak,” pamit saya pada bapak yang di depan dan di sebrang bangku saya. Dari nada bicaranya. Bapak ini bukan “orang jahat”.

Setelah turun di Stasiun Belimbing, saya benar-benar di jemput oleh teman saya, April namanya. Dia menjemput saya bersama suaminya dengan menggunakan sepeda motor, masing-masing satu sepeda motor. Saya bermalam di rumahn mereka. Dengan tanpa banyak alasan dan menerka-nerka, saya tau dengan pasti mereka bukanlah “orang jahat”.

Lalu dimanakah orang jahat itu berada? Saya tidak berhasil menemukannya. Hingga keesokan harinya saya menjalani tespun saya kembali melihat gerak-gerik orang yang saya temui. Mereka semua memiliki kepentingan masing-masing. dan tidak terlihat sedikitpun gelagat sebagai seorang yang jahat.

And the day is clear
My voice is just a whisper
Louder than the screams you hear
It’s like the sun came out

Akhirnya, kesimpulan perjalanan saya kali ini adalah “Saya tidak menemukan “orang jahat”. Terimakasih ya Allah atas perlindunganMu, sehingga hamba ini terjauhkan dari mara bahaya.

http://www.youtube.com/watch?v=fGsEIiZIb3o

Tulisan diatas ditulis untuk bersenang-senang dalam ajang #songlitchallenge4 bersama Illmi, Tutus, Septia, Enya dan Fiqih. Referensi lagu kali ini berjudul: Gabrielle Aplin – Start Of Time Lyrics

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s