Kaulah Ibuku… #SonglitChallenge1

“Ibu tak perlu mengurusiku lagi! Aku bukan gadis kecil Ibu lagi! Aku sudah besar bu!” kalimat itu yang terucap saat hendak berangkat menuju bumi perantauan. Tanpa restu darinya, karena ketakutannya yang tak pernah bisa aku yakinkan. Ibu…

Tak terasa sudah empat tahun aku hidup di bumi perantauan. Hidup di kota besar, kota Metropolitan. Kota Ibukota Indonesia, kota Jakarta.

Empat tahun, waktu yang seharusnya dapat memberiku setumpuk ilmu dari pendidikan perkuliahan. Waktu yang seharusnya dapat mengantarku pulang dengan membawa gelar sarjana. Waktu yang seharusnya aku isi untuk meningkatkan taraf hidup keluarga di desa. Ah sudahlah, ternyata waktu empat tahun itu cukup panjang untuk merubahku menjadi pribadi yang baru.

Saat itu pertama kalinya aku pulang kampung dari bumi perantauan. Saat itu aku memberanikan diri untuk pulang. Bersiap menerima resiko yang akan terjadi. Setelah tiga tahun masa perantauan. “Ibu, ternyata aku membutuhkanmu, aku membutuhkan belaianmu bu, aku merindukan bermanja denganmu bu, aku masih tetap seperti gadis kecilmu dulu bu, aku salah ibu…”

Tiga tahun aku tak pernah menemuimu lagi. Tiga tahun aku tak pernah berkirim kabar kepadamu lagi. Tiga tahun ternyata membutakan kehidupanku karena tanpamu ibu.

Pagi itu seperti biasa aku baru bisa bangun setelah jam menunjukkan pukul 10.00 lebih. Setelah bangun bukan berarti aku akan segera berangkat ke kampus seperti yang dulu pernah aku idamkan dimasa sekolah SMA. Yang aku perbuat langsung mendekati Notebook yang sejak semalam standby dengan colokan listrik yang selalu menancap karena batrainya sudah soak. Tanganku kembali membuka game online setelah semalam suntuk memainkannya tanpa henti hingga adzan subuh berkumandang. Sudah satu tahun ini aku mulai menggandrungi game online itu terlebih setelah tragedi yang menimpaku. Tragedi Jum’at keramat.

“Maafkan gadismu yang tak lagi gadis ini karena telah melalaikan nasehatmu ibu..”

Dua tahun aku merasa bahagia. Tak pernah sebahagia ini. Hidup di kota besar tanpa pantauan Ibu, tanpa ada lagi orang yang akan menyuruhku ini, menyuruhku itu, yang bahkan aku sudah bosan melakukannya.

Aku menjalani kuliah dengan penuh kebanggaan karena berada di Universitas terkemuka se Indonesia. Hampir setiap hari tak pernah lepas kehidupanku dengan perpus untuk belajar dan mencari buku. Di kelaspun aku tergolong mahasiswa yang aktif dan cedas.

Dan Jum’at itulah yang membuatku malas untuk berangkat lagi ke kelas yang dulu aku Idolakan dan kelas-kelas lain yang aku ambil. Kelas idola itu kelas ISBD (Ilmu Sosial Budaya Dasar). Kelas yang mempelajari kajian masalah sosial, kemanusiaan dan budaya sekaligus pula memberi dasar yang bersumber dari dasar-dasar ilmu sosial yang terintregasi. Dan terlebih kelas yang dipandu oleh Dosen idola. Bukan karena kelas itu tak menggairahkan lagi bagiku. Tapi karena Dosen idola itulah yang telah merenggut mahkota kesucianku saat setelah pelajaran berlangsung. Jum’at keramat.

“Kau benar ibu… Aku salah ibu… Aku kurang hati-hati ibu…”

Disaat asik bermain game online itulah, tiba-tiba datang salah seorang teman dengan membawa sepucuk surat beramplop putih dan berlogo kuning yang akrab aku lihat. Surat dari rektorat. Ini ketiga kalinya aku mendapatkan surat senada yang isinya berbeda namun dengan satu tujuan yang sama. Dan surat ketiga inilah yang berhasil membuatku seketika berhenti dan membiarkan gameku berjalan sendiri hingga waktunya habis dan game over. Surat pertama dan kedua hanya peringatan. Namun sekarang aku benar-benar di DO (Drop Out).

Badanku tiba-tiba lemas. Tulang-tulangku tak kuasa menahan berat badanku lagi. Temankulah yang membaringkan tubuhku di atas kasur. Dalam terlentang aku kembali mengingat segala sesuatu yang terjadi. segala sesuatu yang telah menimpaku.

Satu tahun ini aku sadar aku telah tersesat. Aku telah hilang dari peradapan. Dan masuk kedalam dunia game yang terlihat nyata bagiku dibanding dunia yang sebenarnya. Semua telah terenggut dari kehidupanku. Kini masa depan cerah tak mungkin mau lagi mendekatiku. Bahkan keluargaku. Terutama engkau Ibuku…

“Ibu aku tak berani menghadapmu, aku malu ibu…”

Sore itu juga aku beranikan diri untuk kembali pulang ke kampung halaman. Pulang kembali kepelukan ibu yang entah mau menerimaku lagi atau tidak. Saat yang ada dalam ingatan hanya satu. Ibu…

Tiga tahun sidah cukup membuat kampungku berubah drastis. Jalanan yang semula hanya terbuat dari tanah dan batu makafam agar tidak becek saat hujan kini sudah berubah menjadi aspal yang hitam kelam. Rumah-rumahpun kini sudah semakin bagus dibanding saat pertama kali aku meninggalkan kampung ini.

Tiga puluh menit waktu yang aku habiskan untuk jalan kaki dari jalan raya menuju rumahku. Rumahku dan rumah Ibuku sematawayang. tidak seperti rumah-rumah lain yang penuh dengan perubahan. Rumahku itu tetap, beralaskan tanah kuning dan bertembokkan gedhek. Bahkan kotor tak terawat. Ibuk dimana? Timbul pertanyaan yang mulai bergelayut dalam pikiran.

Pintu rumah tak terkunci. Aku masuk pelan-pelan takut mengagetkan ibu yang mingkin sedang beristirahat. Tapi rupanya kosong. Di dalampun kpndisi rumah sudah tak terawat, perabota meski tertata rapi tapi penuh dengan sarang laba-laba. Ibuk kemana? Kembali pertanyaan itu menghantui.

Lama aku mengitari rumah, datanglah salah seorang Paklek, tetangga depan rumah yang dulu sering menggendongku ke pasar waktu aku masih kecil. Sekwtika aku mencercanya tapi hanya dengan satu pertanyaan. Ibuk dimana paklek?

Bukan langsung menjawab tapi Paklek hanya mempersilahkanku masuk kembali kerumah. dan menceritakan segala yang terjaditerhadap ibuku. Ibu yang sejak aku pergi semakin hari semakin murung, ibu yang sejak aku pergi tak pernah terlihat satu gurat senyum lagi dibibirnya, dan ibu yang akhirnya meninggal dunia tak lama setelah terkena sakit stroke. Satu tahun silam.

Tak ku mengerti mengapa begini||Waktu dulu ku tak pernah merindu||Tapi saat semuanya berubah||Kau jauh dari ku pergi tinggalkanku||Mungkin memang kucinta||Mungkin memang kusesali||Pernah tak hiraukan rasamu dulu…||Aku hanya ingkari||Kata hatiku saja||Tapi mengapa Cinta datang terlambat||Tapi saat semuanya berubah||Kau jauh dari ku pergi tinggalkanku||Mungkin memang kucinta||Mungkin memang kusesali||Pernah tak hiraukan rasamu dulu…||Aku hanya ingkari||Kata hatiku saja||Tapi mengapa kini||Cinta datang terlambat||Mungkin memang kucinta||Mungkin memang kusesali||Pernah tak hiraukan rasamu dulu…||Aku hanya ingkari||Kata hatiku saja||Tapi mengapa kini||Cinta datang terlambat||Cinta datang terlambat…|| ~songlit from Maudy Ayunda’s song~

Ibu… Hatiku seketika remuk. Labih remuk dibandingkan tadi pagi saat menerima surat dari rektorat itu. Aku bersalah ibu… Maafkan aku ibu… ya Allah… Cobaan ini benar-benar sangat berat bagi hamba ya Allah… Kini tak ada sandaran lagi di dunia ini selain berserah diri kepadaMu ya Allah.

Sehari semalam aku tak beranjak kemanapun. Yang aku lakukan hanya memohon ampunan kepada Allah atas apa yang telah aku perbuat. Meski tak ada alasan lagi untuk hidup. Aku sadar, aku masih seorang muslim yang haram melakukan bunuh diri. Ya Allah tunjukkan aku kejalan yang benar dari ketersatan ini ya Allah…

Aku putuskan untuk kembali ke kota metropolitan. Memulai hidup dari nol lagi. Dan memulai menjalani hidup baru dengan penuh ketawakkalan dan ketaatan atas segala kuasa Allah. Serta tak pernah lupa berdoa memohon ampun atas segala dosa yang telah aku perbuat selama ini dan juga do’a agar aku segera dipertemukan lagi denganmu Ibu…

Kaulah ibuku… Cinta kasihku… Trimakasihku… Takkan pernah terhenti… Mesti sempat aku melupakanmu… Meski sempat aku mengacuhkanmu… Hingga tak bisa kupeluk lagi tubuh rentanmu… Kini akan selalu ku kirimkan do’a untukmu… Karena aku yakin takkan pernah ada kata terlambat… Semoga dikehidupan kelak kita takkan pernah terpisahkan seperti di dunia ini…

***

Tulisan diatas hanyalah fiktif belaka, dibuat dalam ajang untuk bersenang-senang bersama Ilmi, Septia, Fiqih, Tutus dan enya.

***

#Selamat hari ibu, ibu yang selama ini dengan penuh cinta dan kesetiaanmu selalu memanjakanku.

#Selamat hari ibu, ibu yang selama ini bersedia menampung segala keluh kesahku.

#dan selamat hari ibu, ibu…

#Aku bersyukur karena sampai detik ini kau masih sedia menemaniku ibu…

Iklan

8 thoughts on “Kaulah Ibuku… #SonglitChallenge1

  1. Ping-balik: Songlit Challenge #1 : Bukan Terlambat, Hanya Angkuh | Tikatiko Tale

  2. Ping-balik: Bukan Terlambat, Hanya Angkuh | Tikatiko Tale

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s