Akhirnya Lolos Donor Darah Setelah Lulus

Empat tahun saya kuliah di tanah rantau, sekalipun tak pernah saya melakukan proses donor darah. (Waktu (t) yang saya bahas hanya selama saya berada di tanah rantau bukan dengan sebelumnya karena saya pertama kali mendengar dan mengetahui dengan langsung perihal donor darah hanya pada saat di tanah rantau, kota metropolitan Surabaya, sebelumnya, sama sekali tidak pernah mendengarnya, atau mungkin sengaja tidak mendengarnya.)

Bukan karena saya tidak mau dan bersedia menyumbangkan sebagian darah saya, tapi ketetapan alamlah yang membuat saya tidak pernah donor darah selama rentang waktu tersebut. Terbukti sudah lebih dari hitungan jari saya mendaftarkan diri untuk menjadi salah satu pendonor, namun belum sampai alat tusuk pada kantong darah menempel di lengan saya, saya sudah terlebih dahulu ditolak.

Alasan ditolaknya saya tentunya bukan karena kurangnya berat badan (karena berat badan saya sudah cukup ideal bagi seorang pendonor) melainkan yang lainnya. Mulai dari karena pas saat mau donor darah ternyata datang bulan lah, hidung sedikit tersumbat karena flu lah, tekanan darah rendah lah, kadar Hb rendah lah, pokoknya banyak sekali alesan yang menggagalkan niat baik saya untuk mendonorkan darah. Namun status yang paling sering saya alami adalah kadar Hb yang rendah. Kadar Hb yang minimal bagi seorang pendonor adalah sebesar 12,5 saja sangat sulit untuk saya lampaui. Yang paling menyedihkan itu saat kadar Hb saya sampai pada angka 12,3. padahal cuma kurang 0,2 saja sudah bisa menjadi seorang pendonor tapi tetap harus gagal karena masih belum mencukupi standart. Sakit sekali rasanya saat mengingat kejadian tersebut.

Bahkan saya sempat merasa malu karena kondisi saya tersebut. Saya yang sebagai seorang aktivis kemanusiaan, bahkan seorang penggerak donor darah, mengajak orang lain untuk mendonorkan darahnya, malah sama sekali tidak pernah melakukan donor darah. Naas bukan…

Dan ternyata sampai saat saya telah berhasil menyelesaikan masa studi selama empat tahun, keajaiban itu muncul. Ceritanya bermula dari saya yang sudah pulang ke kampung halaman selama kurang lebih satu bulan, ternyata diharuskan kembali mengunjungi bumi perantauan karena suatu hal. Maka kembalilah saya ke bumi perantauan untuk menyelesaikan suatu hal tersebut.

Ditengah-tengah saya menyelesaikan suatu hal di bumi perantauan tersebut, salah satu sahabat (sebut saja Septi) memberikan info diselenggarakannya acara donor darah pada hari itu. Hati kecil saya kembali tertarik untuk mencoba, meskipun sudah bersiap-siap legowo kalau-kalau ditolak (lagi), apalagi saat itu kebetulan juga saya sedang puasa Asyuro (puasa pada tanggal 10 bulan Muharram). Sungguh suatu keajaiban kalau saya berhasil lolos untuk menjadi pendonor.

Akhirnya saya yang ditemani oleh Septi yang juga berniat untuk donor berangkat ke tempat penyelenggaraan donor darah, yang kebetulan saat itu berada di SC Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga, almamater tercinta.

Sampai di tempat penyelenggaraan donor darah, saya dan Septi pun registrasi. Dan lagi-lagi saya harus mengisi formulir berwarna biru yang ditujukan bagi para pendonor yang masih pertama kali akan mendonorkan darahnya. Tak lebih dari satu menit saya selesai mengisi blangko formulir tersebut karena hampir tanpa melihatpun saya sudah hafal isinya, dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan didalamnya.

Setelah mengisi formulir, sampailah di pos pemeriksaan tekanan darah, dan saya dinyatakan lolos, Alhamdulillah. Sampailah di pos yang selalu menolak niat baik saya untuk donor darah, pos pemeriksaan kadar Hb, dan ternyata saya juga dinyatakan lolos, Amazing…

Betapa bahagianya saya saat itu, bagaimana tidak, sudah empat tahun lebih saya selalu gagal di pos ini, tapi sekarang baru dinyatakan lolos, sumpah serasa ma’unah itu bener-bener ada dari Allah SWT. Saat itu kadar Hb saya 12,6. Saya langsung jingkrak-jingkrak di tempat dan memamerkannya ke Septi yang antri di belakang saya dan sudah di tolak hanya sampai di pos berat badan. Padahal saat itu berat badannya sudah 47 kg, tapi mungkin karena postur tubuhnya yang tetap kecil, sehingga menghawatirkan kalau sampai-sampai ada apa-apanya seandainya dia diloloskan donor darah.

Saya menikmati detik-detik pertama kalinya darah keluar dari lengan kanan saya. ternyata memang benar kata orang-orang yang sering donor darah, tidak terasa sakit sama sekali. Tidak sampai 15 menit 350c cc darah segar telah keluar dari tubuh saya. Petugas dari Unit Transfusi Darah (UTD) yang bertugas yang tak lain alumni Universitas Muhammadiyah Surabaya akhirnya menyuruh saya duduk terlebih dahulu sebelum langsung berdiri dari tidur. Alasannya karena tau bahwa saya sedang puasa dan takutnya nanti tidak kuat, pusing dan akhirnya pingsan.

Namun apa yang terjadi sama sekali diluar perkiraan. Saya masih sehat bugar, tidak sedikitpun pusing terasa. Saya dan septi yang sedari tadi menunggu, akhirnya kembali pulang ke kosan teman lainnya, sebut saja Ilmi, (dulu tempat kos saya juga).

IMG_20131114_140026

lengan kanan saya dengan handsaplas yang menutupi lubang bekas darah keluar.

IMG_20131114_124645Bingkisan yang saya peroleh setelah donor darah. Isinya ada mie instan, biskuat, susu ultramilk, dan trakhir obat multi vitaminm dan penambah darah.

Setelah sholat ashar tepat saya berangkat pulang, kembali ke kampung halaman tercinta. Catatan saat itu kondisi, setelah donor darah, tubuh saya masih normal, tak ada perubahan yang aneh meski merasakan sedikit kemeng di lengan kanan bekas luka tusukan. Barulah setelah sampai di rumah, setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dengan mengendarai sepeda motor sendiri, setelah sungkem dengan emak bapak, dan setelah menyapa ponakan yang kebetulan main kerumah, tubuh rasanya linglung, dan langsung menuju kamar tidur, langsung tepar di atas kasur. Baru-baru bangun setelah mendengar adzan maghrib, lalu buka puasa bersama emak.

***

Sepenggal catatan:

1. Kemungkinan saya baru bisa lolos setalah lulus adalah karena pola makan saya yang lebih teratur di kampung halaman dari pada saat di bumi perantauan. Sehingga berdampak pada kadar Hb darah.

2. Selain itu bisa jadi juga karena saat itu bertepatan dengan tanggal 10 Muharram, yang mana konon katanya segala kesulitan akan dimudahkan oleh Allah Swt. Berdasarkan kisah-kisah, banyak para Nabi, sahabat, dll yang pernah saya baca, menceritakan bahwa segala kesulitan-kesulitan yang dihadapi beliau-beliau itu dapat terselesaikan tepat pada tanggal 10 Muharram. Contohnya: Nabi Yunus yang keluar dari mulut ikan paus, Allah meneeima taubat Nabi Ibrohim As, dll.

Iklan

2 thoughts on “Akhirnya Lolos Donor Darah Setelah Lulus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s