Sejak Saat Itu..

Dan kitapun tak akan pernah tau sampai seberapa jauh roda waktu ini akan berputar…

Saya sudah pernah mengalaminya. Dan sayapun juga sudah pernah merasakan seberapa pahitnya kehidupan disana. Namun, rasa pahit itulah yang ternyata membuat saya kini mampu berdiri dengan tegak tanpa bantuan topangan sebilah kayu.Masih teringat dengan jelas saat pertama kali saya menginjakkan kaki di bumi yang gersang ini. Saat itu sempat terfikir dalam benak saya, “Akankah ada masa depan di bumi yang gersang nan tandus ini? Mengapa saya yang harus terdampar dan berada di lingkungan yang sama sekali tidak memiliki potensi untuk maju ini? Bukankah seharusnya saya masih layak untuk berada di tempat yang lebih layak dari pada tempat ini?” Sambil sedikit mengabaikan kuasa Tuhan, saya hanya menjalani hari-hari yang berat dengan kegiatan-kegiatan yang berat dan penuh dengan keterpurukan.

Tak pernah sedikitpun saat itu bagi saya untuk merajut angan. Bermimpipun saya takut untuk memulainya. Hingga datanglah suatu malam yang menunjukkan kepada saya seberapa besarnya kuasa Tuhan pada segala ciptaan-Nya. Malam yang akan selalu berarti dan selalu terkenang hingga malam-malam berikutnya bagi saya. Maka mulai muncullah kepercayaan saya akan keberadaan Tuhan yang maha kuasa. Kepercayaan tentang suatu masa depan yang akan aku jalankan. Dan indahnya arti sebuah kerja keras dan pengorbanan bagi saya.

Sejak saat itu telah saya putuskan untuk meninggalkan gelapnya dunia. Meninggalkan kehidupan yang penuh dengan kemalasan. Dan meninggalkan keterpurukan yang tak berarti. Urat takut yang saya miliki telah terputus sejak saat itu. Dan tak hanya itu, urat malupun tak mau ketinggalan untuk dimusnahkan. Meski orang sekitar belum menyadarinya, namun tekat itu telah membara dalam kalbu. Hingga membakar seluruh masa lalu yang sudah tak layak untuk dikenang. Satu tekat untuk menjadi seorang yang akan maju, seorang yang penuh dengan kebanggaan karena telah membuat sejarah baru yang kan selalu dikenang sampai akhir hayat.

Tak perduli apa kata lingkungan sekitar. Hari-hari yang saya lalui sejak saat itu semakin terarah. Jalan yang harus saya lalui semakin terbuka dengan lebar. Meski tak hanya sekali dua kali harus melewati dalamnya kubangan maupun tajamnya kerikil yang menghalang. Dan tetesan darah maupun air mata tak jarang menghiasi.

Kini, setelah sekian lama mengarungi perantauan dalam mencari jati diri, dapat saya rasakan betapa banyaknya serpihan-serpihan manfaat yang tumbuh dari sebuah biji tanah gersang itu. Manfaat dari sebuah kerja keras dan pengorbanan. Serta berkah dari sebuah kesabaran dan ke-tawadhu’-an.

Dan adalah sebuah pilihan ketika saya sendiri yang akhirnya memutuskan untuk kembali memasuki lingkungan yang dulu pernah membesarkan saya itu. Dalam keadaan yang telah berubah. Dan dalam sudut pandang yang berbeda. Yang dahulu saya masih sebagai pelaku, kini saya akan menjadi sebuah sistem. Sebuah sistem dengan satu komitmen bulat untuk membesarkan mereka yang sekarang sedang berada sama seperti tempat saya dulu, sebagai seorang pelaku.

***

#Pengabdian tanpa batas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s