Hari Kemenangan???

Akhirnya bulan Ramadhan telah mencapai penghujungnya. Tibalah waktunya memasuki bulan baru, bulan yang dinamakan bulan Syawal.

Berdasarkan sidang Istbat yang dipimpin Langsung oleh menteri agama, Bapak besar Surya Darma Ali, 1 Syawal 1434 H akan bertepatan pada esok hari tanggal 8 Agustus 2013 M. Maka datanglah hari yang biasa disebut dengan Idul Fitri, dan diidentikkan dengan Hari Kemenangan. Mengapa lebaran Idul Fitri sering digaung-gaungkan dengan sebutan hari kemenangan? Bukankah kata “Kemenangan” hanya cocok digunakan dalam bahasa peperangan bagi yang mampu mengalahkan lawannya dengan telak? Lalu, siapakah lawan kita? Dan yang terakhir, apakah kita benar-benar pantas untuk menyebut hari esok sebagai hari kemenangan?

Untuk menjawab pertanyaan pertama tentang disebutnya hari kemenangan, ada dua kemungkinan yang paling mungkin diantara berbagai kemungkinan. Kemungkinan yang pertama didasarkan pada makna Idul Fitri yang mengisyaratkan tentang kembalinya ke keadaan fitrah. Fitrah sendiri memiliki makna “asal kejadian”, “kesucian”, atau “agama yang benar”. Dari makna kata tersebutlah diharapkannya para umat muslim dapat mendapatkan ajaran agama yang benar hingga mendapatkan keridhaan dan kemenangan dalam menuju jalan-Nya. Sedangkan kemungkinan yang kedua diperoleh dari satu kalimat yang sangat sering, atau bahkan selalu diucapkan pada saat Idul Fitri yakni “minal aidzin wal faizin” yang secara gamblangnya berarti “semoga kita termasuk orang-orang yang kembali memperoleh kemenangan”.

Lalu kata kemenangan yang cocok digunakan pada saat peperangan itu berarti kita juga sedang memperoleh kemenangan dari sebuah peperangan? Jawabannya: Iya, Tidak, dan Bisa jadi.

Iya, karena selama satu bulan terakhir para umat  muslim telah melakukan peperangan yang sangat dahsyat. Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa peperangan yang paling berat adalah perang melawan hawa nafsu. Dan, selama satu bulan terakhir, berbagai macam nafsu telah bertarung dalam jiwa masing-masing umat muslim. Mulai dari nafsu lahiriah maupun batiniah. Dan bagi merekalah yang mampu melawan segala nafsu itu yang berhasil memenangkannya dan berhak mendapatkan kemenangan pada Idul Fitri.

Tidak, hanya bagi mereka, para umat yang mengaku muslim, namun sama sekali tidak pernah merasakan nikmatnya peperangan selama bulan Ramadhan. Bahkan boleh disebut mereka itu termasuk golongan yang kalah. Kalah oleh hawa nafsu mereka sendiri. Golongan tersebut hanya menang pada mulut mereka saja, hanya ikut-ikutan mendompleng kaum yang memperoleh kemenangan, tanpa benar-benar merasakan kemenangan yang sesungguhnya. Hampa, hambar, dan tanpa perubahan yang berarti dan berasa. Dan hanya sekedar meramaikan suasana lebaran yang menyelimuti jagat semesta ini tanpa mendapatkan pengaruh yang berarti dalam pribadinya sendiri.

Bisa jadi, karena masih ada, atau bahkan masih banyak kaum-kaum yang dalam pandangan spiritualnya telah mengalami kemenangan, namun masih mendapatkan sedikit kendala dalam kehidupannya berekonomi dan bersosial. Lalu apakah mereka pantas dan layak untuk ikut menyambut datangnya hari kemenangan?

Kembali lagi pada bahasan hari kemenangan. Hari raya umat muslim. Hari “kembalinya” pada keadaan fitrah, bukan hari “menjadi” ke keadaan fitrah. Dikatakan kembali karena kita hanya kembali pada garis start, dan tidak menutup kemungkinan untuk kembali melewati kerasnya kehidupan yang menantang dan menguji kita untuk berhasil melewatinya.

Jadi, apakah di hari kemenangan kita memang diharuskan mempunyai baju baru? Apakah kita harus membeli segala perlengkapan lebaran dengan harga yang semakin berlipat ganda dibandingkan hari biasanya? Tidak. Yang diharuskan pada hari kemenangan bagi kita adalah kembali mempersiapkan diri kita, mulai dari lahir sampai batin untuk menempuh kembali peperangan baru yang mungkin lebih keras dari pada peperangan yang sebelumnya. Semoga kita siap dan mampu. Bismillah….

***

Terakhir, Taqobbala Allahu minna wa minkum, Shiyaamana wa shiyaamakum, minal aa’idin wal faaizin, kullu ‘aamin wa antum bikhoirin.

Saya secara pribadi dan keluarga besar bani Mahfudh mengucapkan selamat lebaran 1434 H, mohon maaf lahir dan batin…

 

Iklan

5 thoughts on “Hari Kemenangan???

  1. Ping-balik: Lebaran, Salaman? | Navigasi Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s