Ayam dan Aku

Fajar mulai menyingsing,
Ayam-ayampun mulai berkokok meramaikan kembali dunia yang sepi.
Aku pun mulai terbangun,
Dan kembali tersadar bahwa aku telah dilahirkan di dunia ini sebagai seorang manusia.

Kenapa baru sekarang aku menyesal untuk bangun dari tidurku?
Kenapa aku mulai menyesal menjadi seorang manusia?
Kenapa aku tak dilahirkan sebagai seekor ayam yang semakin riang menyambut paginya tanpa memikirkan apa yang terjadi kemarin. Sebelum terlelap dalam tidurnya.

Apakah harapanku mengada ada?
Berharap akan melupakan semua yang terjadi saat bangun esok.
Berharap sebuah ganjalan dihati ikut memuai seiring mimpi yang mengambang.
Dan berharap tidurku mampu merubah dimensi kehidupan yang telah aku kawal.

Aku mulai iri denganmu ayam.
Mengapa kau tak pernah merasakan sakit dalam ulu hatimu?
Dan sejenak berhenti berkokok di pagi butamu.
Ataukah aku yang salah mengartikanmu, Ayam?

Mungkinkah kau juga pernah merasakannya?
Merasakan sakit saat hatimu mulai ditusuk dengan sesuatu yang tumpul?
Ah… aku rasa tidak.
Bahkan kau tetap lahap memakan dedak dalam batokmu tanpa sedikitpun mendongakkan kepala.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s