Wisdom “Pergi”

Masalah cinta terkadang memang rumit untuk dibahas. Siapapun pasti akan berbeda-beda dalam mendeskripsikannya. Tidak hanya aku, kau, ataupun dia, tapi semua makhluk yang hidup dalam dunia fana ini.

Banyak yang bilang, termasuk aku, bahwa setiap manusia pasti akan dipasang-pasangkan sesuai dengan pribadinya sendiri. Wanita yang baik akan mendapatkan lelaki yang baik, dan wanita yang tidak baik akan mendapatkan lelaki yang tidak baik pula.

Lalu, saat mengetahui dan mempercayai hal tersebut, masihkah kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan cinta yang katanya sejati? Bukankah cinta sejati itu akan datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat? Cinta sejati itu tidak pernah tersesat karena “sesuatu”. Dan “sesuatu” itu bukanlah GPS atau kompas, tapi sesuatu itu adalah pemahaman yang baik tentang bagaimana mengendalikan perasaan.

Ada empat pokok hal yang harus dipegang saat seorang merasa galau akan cintanya atau sedang merasa jatuh cinta pada seseorang.

Yang pertama adalah kekuatan “Tidak bilang”

Dengan kekuatan tidak bilang, kita akan semakin mengetahui seberapa besar dan yakin cinta kita (padanya), karena semakin lama kita mampu untuk mempertahankan cinta kita (padanya), berarti semakin layak cinta kita tersebut untuk dipertahankan. Mbak Sinta Yudisia (sang penulis) pernah memaparkan bahwa, seseorang itu paling lama akan merasakan suka terhadap seseorang maksimal 3 bulan. Selebihnya, Wallahua’lam.

Yang kedua adalah Hakikat Menunggu.

Tentang hakikat menunggu ini, Bang Tere Liye (sang novelis) juga pernah menceritakan sebuah cerita yang bertokoh utama “Bambang”. Bambang mendapatkan amanah dari Ibunya agar tidak pergi kemana-mana saat menunggui ibunya belanja di pasar.

Bambang pun memiliki tiga pilihan untuk menyikapinya. Yang pertama Bambang terus mengomel, sambil terus menatap pintu masuk pasar, berharab ibunya segeea keluar. Apa yang didapatkan Bambang? Dia pasti akan merasa waktu menunggu 2 jamnya itu sangat lama dan membosankan. Berbeda jika Bambang sabar menunggu selama 2 jam dan yakin bahwa ibunya pasti akan segera keluar dari pasar, maka bambang akan merasakan bahwa waktu menunggunya pun pasti akan serasa cepat dan kurang dari 2 jam. Dan yang terakhir apabila Bambang menunggu ibunya dengan memperhatikan sekitarnya, melihat kesibukan para penjual yang mondar-mandir di depannya, berfikir akan apa yang mereka lakukan, maka Bambang tak akan merasakan masa-masa penantiannya dan tiba-tiba 2 jam terlewati dengan cepat tanpa terasa.

Seperti cerita Bambang, dalam kehidupan nyata pun jodoh itu pasti akan datang juga seperti Ibu Bambang yang pasti akan datang. Dari ketiga cerita Bambang tersebut bisa dilihat, lebih baik menghabiskan waktu untuk menunggu dengan cara yang ketiga karena kita bisa memaksimalkan hidup kita untuk hal-hal yang positif bagi orang banyak sekaligus melewati masa-masa penantian dengan tanpa terasa.

Yang ketiga adalah Hakikat berharap.

Kita tidak akan pernah tau siapa yang terbaik buat kita dan juga mana yang tidak baik bagi kita. Terkadang meskipun kita sudah menganggapnya baik, belum tentu itu merupakan yang terbaik bagi-Nya. Begitupun sebaliknya.

Oleh karena itu alangkah baiknya jika kita terus berharap kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, tempat semua pengharapan bermuara, agar kita diberi yang terbaik.

Dan yang terakhir dan yang paling menentukan adalah Wisdom  “Pergi”.

Kadang kala, dengan kita pergi secara bijaksana, maka kita akan semakin tahu apakah cinta kita benar-benar sejati untuknya atau hanya sekedar lewat. Dengan pergi dan melakukan hal yang dapat bermanfaat bagi orang banyak dan orang sekitar kita, membuat hidup kita semakin bijaksana dan terlepas dari ke-galau-an.

***

So… Jatuh cinta itu wajar. Tapi dengan catatan kita harus tetap berusaha kembali menyibukkan diri dengan hal-hal yang positif seperti berkumpul dengan keluarga dan teman agar tidak terkung-kungkung dalam ke-galau-an dan mendapatkan hasil/jawaban yang terbaik dari-Nya. Amin..

#Artikel ini terposting dalam rangka meramaikan A Week Piclit Challenge yang diikuti oleh Enya, Fiqih, Septia, Tutus, dan Ilmi. Penantang kali ini adalah Tutus.

Iklan

2 thoughts on “Wisdom “Pergi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s