Monochromacy

Aku memang bukan orang tua yang sempurna, bahkan mendekatinya pun aku  tak pantas. Tapi merupakan sebuah naluri bagi seluruh orang tua di dunia ini jika memiliki harapan yang besar akan anaknya. Demikian pula aku. Aku yang sekali lagi tidak sempurna.

22 minggu itu serasa berjalan sangat lambat. 154 hari masa penantian yang penuh dengan kekhawatiran. 3696 jam hanya untuk memikirkan satu hal. 221760 menit berlalu hanya untuk selalu berharap dan berdoa atas kemurahan dan kebesaran-Nya. Semoga janin dalam kandungan istriku itu tidak berjenis kelamin perempuan.

Setelah kesekian kalinya pergi ke dokter kandungan akhirnya pagi ini aku akan mendapatkan satu hasil, satu keputusan dan satu jawaban atas penantianku selama ini.

***

“Dalam janin anda sama sekali tidak tampak gambaran skrotum, testis, bahkan penis, jadi selamat pak, bu, kemungkinan besar anak anda berjenis kelamin perempuan” ungkap dokter USG tersebut.

***

Monochromacy (buta warna total) yang aku derita sejak dalam kandungan inilah yang membuatku serasa hidup tanpa kehidupan. Hidup hanya dengan nuansa hitam putih yang membuatku selalu merasa berada dalam TV jaman dahulu. Ditambah sekarang. Mengetahui anakku yang akan lahir dengan jenis kelamin perempuan. Hidupku serasa semakin berdosa karena menghadirkannya dimuka bumi ini. Bagaimana tidak, Ayah yang buta warna total akan mewariskannya pada seluruh anak perempuan tapi tidak pada anak laki-lakinya.

***

Sejak saat itu, saat keputusan yang tak pernah diharapkan itu, kini penantian kembali menghampiriku. Penantian yang tak beralaskan. Harapanku kini hanyalah datangnya sebuah Ma’unah (pertolongan/bantuan) dari-Nya bagi bakal calon gadisku. Semoga gadis kecilku kelak akan terbebas dari turunan penyakitku. Semoga gadis jelitaku kelak akan terbebas dari lingkungan TV hitam putih jaman jadul ini. Semoga.

***

Artikel ini terposting dalam rangka meramaikan A Week Piclit Challenge yang diikuti oleh EnyaIlmiFiqihSepti, dan Tutus. Tantangan kali ini diberikan oleh Septi

Iklan

14 thoughts on “Monochromacy

  1. atut suka banget cerita sedih ya? 😦 aish … pengaruh foto hitam-putih ini. tai tut kayaknya kalimat terakhir yang: terbebas dari lingkungan TV hitam putih jaman jadul, berasa inkonsistensi soalnya dari awal sudah pakai bahasa baku dan ada kata jadul nyempil di sana.

  2. Ping-balik: cermin | Tuaffi's Weblog

    • jangan gitu mi’,
      kali aja bapakmu juga suka nulis blog, sangking gak ada yang tau ja,
      terbukti dari anaknya yang juga suka nulis blog, hehehe 😛

  3. Ping-balik: A Week Piclit Challenge #3 : Tidak Mungkin | UNTUKMU DAN AKU JUGA

  4. Ping-balik: Rahasia | septiadiah's weblog

  5. Ping-balik: A week Piclit Challenge #4 : I’m Sorry | UNTUKMU DAN AKU JUGA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s