Senyumku Yang Terakhir

Masih teringat jelas saat kau yang selalu mengajakku untuk menemanimu bermain. Kau yang selalu mengharapkanku untuk mencium kedua pipimu. Dan kau yang selalu memaksaku untuk melakukan segala kehendakmu, mulai dari berjalan, bicara, bahkan untuk mulai mamanggilmu, Mama.

Tak hanya itu, aku masih mengingat dengan jelas saat kau yang selalu memandikanku saat aku merasa gerah diwaktu pagi dan sore. Kau yang selalu menyuapiku saat aku lapar. Dan kau yang selalu meninabobokkan aku sebelum tidurku.

Kau yang membuatku terus melewati hariku yang penuh tantangan. Kau yang membuatku terus maju untuk menggapai segala anganku. Dan kau yang selalu mamacuku untuk melakukan apa yang terbaik yang harus aku lakukan.

Tapi kini, aku harus melepas segalanya. Melepas segala ingatanku tentangmu. Dan melepas senyuman terakhirku untukmu. Bukan karena aku yang tak tau akan terimakasih. Bukan pula karena aku durhaka padamu. Tapi karena kau yang begitu tega melepasku untuk selamanya.

Tulisan terakhir ini akhirnya terposting setelah tulisan Enya, Ilmi, Fiqih, Tutus, dan Septi memposting tulisannya masing-masing untuk meramaikan A Week Piclit Challenge

Iklan

16 thoughts on “Senyumku Yang Terakhir

  1. itu piclit emang harus berbau satra ya Tut!? gue mau ikut dong! gaya komedi atau yang nggak jelas boleh kan? loe kan tahu sendiri gue nulisnya gimana. inginnya nulis serius atau tegang eh! malah jatuhnya jadi lucu.
    eh! itu kata “kau melepasku” bisa diartikan si iu meninggal kan?? soalnya mana ada ibu melepas anaknya begitu aja!

  2. Ping-balik: A Week Piclit Challenge | a little space

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s