Menengok Kota Lama Grissee

Sebagai seorang warga Gresik, rasanya kurang afdhol kalau belum mendalami sejarah-sejarah yang tertoreh di bumi kejayaan ini. Oleh karena itu, ditengah kesibukan di bumi perantauan Surabaya,  kami (saya dan kedua rekan saya) menyempatkan diri untuk menengok peninggalan-peninggalan kota lama Gresik dengan bangunan-bangunan kunonya yang masih terawat hingga saat ini.

Kali ini, tujuan kami adalah menjelajah kampung Kemasan yang berada di sepanjang Jalan Nyi Ageng Arem-arem. Kampung tersebut dinamai kampung Kemasan karena pada Tahun 1853 di perkampungan ini berdiri rumah yang dibangun oleh seorang turunan China yang bernama Bak Liong. Bak Liong mempunyai keterampilan, membuat kerajinan dari emas. Dari keterampilannya yang juga merupakan usaha ini, nama Bak Liong menjadi terkenal. Banyak orang yang datang untuk memesan atau memperbaiki perhiasannya. Sejak itu kawasan ini dinamakan Kampung Kemasan (tukang emas).

Gaya arsitektur rumah-rumah di kampung Kemasan beragam, ada yang bergaya kolonial (Belanda), Otina, Melayu dan Jawa yang sekarang usianya rata-rata 100 tahun lebih. Pada masa tersebut, kota Gresik merupakan pusat transaksi perdagangan antara pedagang Islam (Gujarat), pedagang keturunan Cina, serta para Kolonial. Kondisi inilah setidaknya yang kemudian membawa pengaruh dari gaya-gaya bangunan di kawasan Kampung Kemasan. Karena mereka juga mendirikan bangunan untuk dijadikan tempat tinggal, bahkan tempat bisnis untuk menjalankan roda transaksi perdagangan.

Bangunan-bangunan rumah  cagar budaya yang ada di kampung Kemasan tersebut mayoritas masih terawat dengan baik sampai saat ini karena bangunan-bangunan tersebut masih dihuni oleh pemiliknya. Selain itu, bangunan-bangunan rumah tersebut juga masih dilestarikan ke-otentikan-nya sampai sekarang tanpa mengalami perombakan. Para pemiliknya sadar dan sengaja melestarikan bangunan rumahnya karena bangunan-bangunan tersebut merupakan aset yang sangat berharga sebagai bukti sejarah.

Bangunan di kawasan kampung Kemasan yang paling menonjol yang menjadi bidikan kami kali ini adalah rumah tinggal Gajah Mungkur milik H. Djaelani. Dinamakan rumah tinggal Gajah Mungkur ini karena tepat di halaman depan terdapat sebuah patung gajah yang memungguni (memungkuri) jalanan. Banyak arsitektur yang merasa bingung dan heran dengan bangunan rumah tinggal Gajah Mungkur ini karena arsitekturnya yang unik, campuran dari beberapa gaya, mulai dari gaya Minang, Belanda, Cina, dll.

DSCN3319

Rumah tinggal Gajah Mungkur sisi kanan

DSCN3320

Rumah tinggal Gajah Mungkur sisi kiri

DSCN3321

DSCN3322

Patung Gajah yang membelakangi jalan

Selain Rumah tinggal Gajah Mungkur, terdapat rumah yang juga lumayan unik, Rumah Merah. Rumah ini unik karena adanya jembatan penghubung antara dua rumah pada lantai ke tiganya. Pemilik asli rumah ini orang islam. Bisa dilihat sendiri bahwa diatas pagar gerbang rumahnya bertuliskan “PA ASNAR BH OEMAN”. Meskipun dari depan sedikit tampak kurang terawat, namun bagian dalam bangunan ini masih cukup terawat dan menjadi tempat hunian yang cukup nyaman.

DSCN3327

Rumah Merah

DSCN3325

Jembatan penghubung antar dua rumah

DSCN3329

Pintu gerbang rumah Merah yang bertuliskan “PA ASNAR BH OEMAN’

Sejenak setelah mengelilingi kawasan kampung Kemasan, kami merasa kembali berada dalam atmosfer masa silam. Disaat bangsa Belanda yang masih menjajah bangsa kita, tetapi kita masih tetap bisa menunjukkan ke-jaya-annya. Puas rasanya hati ini melihat begitu banyak sisa peninggalan bangunan kuno bersejarah yang masih kokoh berdiri.eNTe

DSCN3323

Bangunan lain yang ada di kawasan kampung Kemasan

Iklan

3 thoughts on “Menengok Kota Lama Grissee

  1. Foto nomor 8 bukan bangunan di Kampung Kemasan, tapi terletak di jalan utama jl. Nyai Ageng Arem Arem. Sedangkan kampung Kemasan sekarang dijkenal dengan jl. Nyai Ageng Arem Arem gang III.

    • oh gitu ya?
      aku kurang paham nih, pas kesana tak pikir ya jl. nyai ageng arem-arem itu kampung kemasan, maklum masih amatiran.
      makasih atas koreksinya 😀

      • Ok Bung. Saya usul ada baiknya penulis juga menjelajah beberapa daerah sekitar Kampung Kemasan yang juga banyak terdapat rumah2 kuno yang tidak kalah eksotis. Diantaranya jl. Abdul Karim gg.7 (Karangpoh), jl. KH. Zubair (Pulopancikan), jl. Raden Santri (Bedilan, termasuk beberapa rumah yg masuk gang). Mungkin karena di daerah2 tersebut tidak ada tokoh yang mempromosikan segencar Komunitas Mataseger yg bermarkas di Kampung Kemasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s