Hari Terakhir Denganmu

Entah sejak kapan saya suka menamai benda-benda yang lumayan berharga dalam hidup saya. Mulai dari netbook yang saya beri nama si “Ben”, HP yang saya beri nama “Ready boss”, motor Supra Fit yang saya beri nama “Silvery Blue”, kamera yang saya beri nama “The Golden Six”, dan sekaligus tas kameranya yang saya beri nama “Jeliteng”. Dari berbagai nama tersebut tentunya mempunyai arti dan makna tersendiri bagi saya, tapi kali ini saya rasa belum saatnya untuk bercerita tentang nama. Kali ini yang akan saya ceritakan adalah tentang peristiwa hilangnya si “Jeliteng”.

Saya lupa kapan tepatnya terakhir kali memakai Jeliteng sebelum hari ini. Biasanya saya jarang atau bahkan hampir tidak pernah menggunakan Jeliteng ini untuk suatu perjalanan jauh, atau ketika mau meng-hunting poto karena sudah menggunakan tas batik dari Jogja yang lumayan simple modelnya dan enak dipakai. Tetapi hari ini, ketika saya berkeliling kota Gresik bersama beberapa rekan saya, dengan kesengajaan dan kesadaran, Jeliteng telah tersimpan rapi beserta isinya dalam tas jinjing saya. Dan ditengah perjalanan, ternyata Jeliteng luput dari genggaman tangan yang sebari tadi memegangnya dengan erat.

DSCN3268

Tas Kamera yang tinggal kenangan si “Jeliteng”

Entah suatu pertanda atau apa, ditengah perjalanan menuju bukit Lengis, ketika saya dibonceng di atas motor, dan ketika saya memegang tas kamera tersebut, hati kecil saya bergelitik, serta pikiran saya berangan,”Waduh gimana ya kalau Jeliteng jatuh di tengah jalan, eman dong 60 ribu rek,” batin saya menghemat karena uang bulanan yang tak kunjung turun. Setelah hampir sampai di depan gang masuk bukit Lengis yang terletak di daerah Segoromadu Gresik, rekan yang membonceng saya tadi mengemudi terlalu kencang motornya, sehingga kami agak sedikit kebablasan melewati gang. Akhirnya dengan terpaksa saya harus turun terlebih dahulu dan rekan saya tersebut akhirnya putar balik karena jalan raya yang kami lewati adalah jalan searah. Sekejap saya telah melupakan Jeliteng yang sebari tadi berada di pangkuan saya.

 Sesampai di bukit Lengis tujuan kami, akhirnya saya baru tersadar bahwa Jeliteng telah raib dari pegangan dan tidak berada dalam tas jinjing saya. Saya langsung tersadar bahwa sebelum masuk gang tadi saya telah meninggalkan Jeliteng diatas jok motor rekan saya. Sendirian. Otomatis dan pasti Jeliteng telah terjatuh >.< . Karena jarak antara bukit Lengis dan gang tadi lumayan jauh, saya hanya berfikir “Yah sudah, nanti saja pas pulang baru menyisir Jeliteng sepanjang perjalanan dari jalan raya sampai gang tadi. Kalau memang tidak ketemu ya memang sudah takdirnya hilang (pasrah),  untungnya saja The Golden Six (Kameranya) tadi saya pegang, jadi gak ikutan ilang (bersyukur)”.

Setelah puas meng-eksplore bukit Lengis yang hijau ditengah gersangnya kota Gresik, dan juga berpoto-poto ria sambil gaya levitasi, khirnya kami bersiap untuk pulang. Dan memang sesuai dengan perkiraan, meskipun sepanjang perjalanan saya memicingkan mata untuk mencari Jeliteng, tapi tetap Jeliteng tidak ketemu jua. Hari inilah akhir perjumpaan kita jeliteng, semoga kau ditemukan oleh seseorang yang lebih perhatian dibanding saya, dan semoga orang yang menemukanmu bisa lebih memanfaatkan kamu dibandingkan dengan saya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s