Hidup Untuk Memilih

Edisi Sebelumnya…

Tepuk tangan penonton Wayang Orang BlogCamp Budhoyo gemuruh.

Kiprah Cakil yang lincah dan tehnik menghindari serangan yang dilakukan oleh Arjuno juga ciamik.

Klimaks  perang tanding antara satria bagus dengan raksasa bergigi mancung tampaknya akan segera tiba.

Cakil yang diperankan oleh Mudhoiso tampak menarik keris dari rangkanya. Sementara Rikmo Sadhepo yang ayu gandhes pemeran Arjuno melirik sambil senyum kemayu.

Tusukan keris yang mengarah dada dapat dielakkan oleh Arjuno sambil menyabetkan selendang kearah kepala Cakil. Raksasa bertingkah pencilakan itu muntap. Dengan gerakan bringas diarahkannya keris luk 9 itu ke arah perut Arjuno. Kini satria panengah Pendowo tak buang-buang waktu. Ditangkapnya pergelangan tangan Cakil lalu diputarnya dengan ujung keris mengarah ke tubuh sang raksasa. Cakil berusaha menghindar. Sreeeeet…..ujung keris merobek leher Cakil.

Cakil menjerit keras, lalu ambruk. Arjuno meninggalkan palagan sambil tersenyum. Niyaga mengalunkan gending sampak. Layarpun diturunkan. Tepuk tangan penontonpun cethar membahana.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan bersahut-sahutan dari balik layar yang tertutup.

Inspektur Suzana yang sedang menonton pagelaran wayang orang itu segera lari menuju panggung. Disingkapkannya layar. Tubuh Mudhoiso tergeletak dengan wajah membiru, matanya melotot seolah menahan sakit. Darah mengalir dari lehernya. Dirabanya nadi laki-laki berkostum Cakil itu. Tak ada denyutan lagi. Mudhoiso telah tewas.

***

Lanjutannya…

Inspektur Suzana yang sudah biasa menangani kasus pembunuhan itu dengan sigap langsung menyingkirkan para pemain dan kru Wayang Orang BlogCamp Budhoyo yang mengerumuni jenazah Mudhoiso untuk menjauhi TKP. Inspektur Suzana pun dengan cekatan mengeluarkan kamera poket Nikon Coolpix 3300-nya yang selalu ia bawa kemana-mana itu untuk memotret jenazah Mudhoiso. Setalah TKP selesai diamankan oleh inspektur Suzana, tim forensik pun datang dengan membawa jenazah Mudhoiso.

 ***

Kepergian jenazah Mudhoiso oleh tim forensik diiringi ribuan gelak tangis para sahabat, kru dan penonton Wayang Orang BlogCamp Budhoyo yang sedari tadi menikmati pertunjukan terakhir Mudhoiso. Berbagai macam ekspresi kesedihan tertumpah ruah pada malam itu.

Mudhoiso, tepat di usianya yang ke 44 tahun, berperan sebagai Cakil selama 22 tahun dalam pagelaran Wayang Orang BlogCamp Budhoyo yang telah mendapatkan Rekor Muri karena ke konsistenannya menggelar pertunjukan tiap malam hari, tak pernah disangka akan mengakhiri hidupnya diatas panggung.

***

Tanpa membuang-buang waktu, sambil menunggu hasil penyidikan dari tim forensik, malam itu juga Inspektur suzana mengumpulkan para pemain dan kru yang berinteraksi langsung dengan Mudhoiso, terutama Rikmo Sadhepo yang menjadi salah satu tersangka utama penyebab kematian Mudhoiso.

Rikmo Sadhepo ketika diintrogasi pun terlihat sangat terpukul. Sambil sesenggukan dia berusaha menjawab segala pertanyaan yang dilontarkan oleh inspektur Suzana dengan tegar. Tetapi memang benar kalau orang bilang hati perempuan itu bak benang yang terbuat dari kapas, meskipun terlihat putih, sangat kuat, tapi kapas tetaplah kapas, rapuh. Selama introgasi yang dilakukan oleh inspektur Suzana kepada seluruh kru dan pemain, Rikmo Sadhepo kelihatan pingsan sebanyak tiga kali. Pingsan-sadar, pingsan-sadar, dan pingsan-sadar, begitulah yang terjadi. Rikmo Sadhepo tidak percaya kalau senior yang sangat ia patuhi itu akan meninggal seketika di tangannya.

Dari seluruh informasi yang dikumpulkan oleh inspektur Suzana, Mudhoiso bukanlah tipe orang yang berpotensi memiliki banyak musuh. Bahkan bisa dibilang Mudhoiso bak jelmaan seorang malaikat yang hanya saja bertampang buruk dan terpaksa harus berlakon antagonis.

Teka-teki kematian Mudhoiso membuat inspektur Suzana tak dapat menikmati malamnya dengan mata terpejam. Dia berusaha mengambil segala kemungkinan benang merah yang terjadi atas nasib naas Mudhoiso yang meninggal karena kelalaian Rikmo Sadhepo yang salah mengambil keris. Tetapi sekuat tenaga berusaha pun, inspektur Suzana tetap tidak menemukan sesuatu yang ganjil. Kejadian naas meninggalnya Mudhoiso adalah murni kecelakaan.

***

Esok harinya, kematian Mudhoiso yang spektakuler itu membuat seluruh surat kabar seantero Indonesia menjadikannya topik utama, tak hanya itu diberbagai stasiun TV  pun menjadikan berita tersebut sebagai Headline News. Seketika, sosok Mudhoiso yang sebelumnya jarang dikenal dalam dunia entertainment kini melejit bak kembang api dimalam tahun baruan.

Seluruh elemen masyarakat pun tak henti membicarakan kematian Mudhoiso. Mulai dari para pedagang kaki lima yang menggosipkan kematian Mudhoiso dengan berbagai macam persepsinya, Ibu-ibu rumah tangga yang memperbincangkan kematian Mudhoiso di sela-sela menyuapi makan anaknya, para guru negeri yang mengenang kelincahan Mudhoiso sebagai Cakil dalam jam makan siangnya, para mahasiswa dan muda-mudi yang tak henti-hentinya memasang status tentang Mudhoiso di berbagai  jejaring sosial medianya, hingga para anggota parlemen pun membahas kematian Mudhoiso di saat makan malamnya bersama kehangatan keluarga. Kini, Mudhoiso benar-benar terkenal.

***

Rukmina, ibu Mudhoiso yang selama empat tahun terakhir setelah ditinggal  mati suaminya hanya tinggal berdua dengan Mudhoiso, anak semata wayangnya, kini harus tinggal sendirian. Di tengah keluarganya, Mudhoiso adalah tipe pribadi yang pendiam, santun, dan berbicara seperlunya. Hal itulah yang membuat Rukmina yakin kalau Mudhoiso tidak mungkin mempunyai seorang musuh dan dengan sengaja berniat untuk menghabisi nyawanya.

Sebulan terakhir sebelum meninggal, Mudhoiso memang bertingkah agak aneh dirumahnya. Begitulah yang dirasakan Rukmina. Tidak seperti biasa, Mudhoiso yang selalu makan teratur, kini jarang-jarang makan. Mandinya yang biasanya membutuhkan waktu hanya 5 menit cukup kini harus menghabiskan waktu lebih dari 15 menit di dalam kamar mandi. Tidak hanya itu, Mudhoiso juga sering lupa letak peralatan sehari-hari yang ada di dalam rumahnya padahal sebagian besar yang biasa menyimpan perkakas-perkakas rumah adalah Mudhoiso. Dan yang paling mengherankan adalah setiap dua hari sekali Mudhoiso tidak tidur dirumahnya, dengan alasan tidur di sanggar, padahal selama 22 tahun terakhir, semalam apapun pertunjukan berlangsung Mudhoiso tidak pernah tidur di sanggar.

***

Seminggu setelah pemakaman Mudhoiso datang seorang lelaki tua yang agak aneh seumuran Rukmina. Selanjutnya lelaki itu tinggal selamanya bersama Rukmina. Entah siapa, dari mana asalnya, dan mengapa lelaki itu tinggal di rumah Rukmina, para masyarakat sekitar tidak ada yang mengetahui alasannya. Konon kabarnya yang bersumber dari masyarakat sekitar tersebar desas-desus laki-laki tersebut sekarang menikah dengan Rukmina.

***

Seminggu sekali, lelaki yang dikenal sebagai suami Rukmina tersebut terlihat selalu pergi ke Rumah sakit, menemui psikiater Sudani, psikiater muda yang menangani lelaki tersebut.

“Bagaimana kabarnya pak Mudhoiso?”

“Alhamdulillah baik pak, tapi rasanya wajah saya agak sedikit panas kalo terkena matahari langsung.”

“Oh, gak papa pak, perlu sedikit adaptasi aja agar sel-sel kulit yang baru bisa bermetabolisme dengan sel-sel kulit asli Bapak. Trus kabarnya Pak Madi bagaimana Pak? kog sudah gak pernah lagi konsultasi,”

“Oh Pak Madi kena kecelakaan Pak, beliau meninggal seketika pas pentas.”

“Wah kasihan sekali ya Pak, padahal Pak Madi baru saja merintis kehidupan baru menggantikan dunia Pak Mudhoiso.”

“Ya begitulah hidup Pak, dimana dalam kehidupan ini kita harus memilih, karena kematian Madi itulah yang membuat Mudhoiso terkenal, dan itu yang aku inginkan. Tapi kini sebagai gantinya aku harus menggantikan hidup Madi” Sambil nyengir menahan sakit.

-end-

Iklan

6 thoughts on “Hidup Untuk Memilih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s