Saul dan Agama Masehi

Satu orang muslimpun tidak ada yang meragukan lagi bahwa Rosulullah Al-Masih putra Mariam adalah penyeru ajaran agama tauhid yang murni. Malahan seruan tersebut merupakan seruan semua Nabi yang disampaikan pada umat-umat mereka. Al-Masih mengatakan bahwa dia hanyalah hamba, Nabi dan Rosul-Nya.

Dalam Al-Qur’an disebutkan dalam surat Al-Maidah tentang dakwah Al-Masih:

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Qs.5:72)

Dalam Surat Ali Imran, Allah menyebutkan mukjizat-mukjizat yang diberikan-Nya kepada Al-Masih:

Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) daripada Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (Qs.3:50-51)

Dalam surat Maryam, Al-Masih memberitahukan tentang dirinya dan firman-Nya:

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,” (Qs.19:30)

Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. (Qs.19:36)

Pada bagian akhir surat Al-Maidah, Allah bertanya kepada Al-Masih pada hari kiamat untuk menunjukkan kekeliruan kaum Masehi:

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?.” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (Qs.5:116)

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (Qs.5:117)

            Berdasarkan ayat-ayat tersebut di atas, tidak ada keraguan lagi bahwa Al-Masih telah menyerukan kepada kaumnya tentang ajaran tauhid. Para pengikutnya telah dididik dan belajar secara langsung kepadanya. Tetapi setelah Al-Masih meninggalkan mereka, para pengikutnya itu mengubah ajaran tauhid menjadi ajaran tiga tuhan.(Trinitas). Hukum pahala dan siksa yang diajarakn oleh Al-Masih (dan semua nabi) telah diganti dengan aqidah tebusan dosa. Paham tiga tuhan dan tebusan dosa telah menjadi prinsip keimanan yang utama. Sebaliknya mereka telah meninggalkan hukum pahala dan dosa, dan ajaran tauhid.

            Yang menjadi pertanyaan sekarang: Mengapa bisa terjadi perubahan terhadap ajaran Al-Masih? Bagaimana mereka bisa sepakat untuk menggunakan aqidah tiga tuhan dan tebusan dosa?

            Dengan karunia Allah, para ahli telah berhasil mengungkapkan sebab dari peristiwa itu sehingga terungkaplah kebenaran yang sesungguhnya. Banyak ulama’ melakukan kajian secara teliti terhadap agama Masehi dan sejarahnya. Mereka telah mengungkapkan secara panjang lebar disertai penjelasan seluruh dalil. Dalam uraian singkatnya dijelaskan sebagai berikut:

            Berdasarkan hasil kajian yang teliti terhadap sejarah agama masehi dapat diketahui bahwa Allah telah mengutus Isa As sebagai nabi dan rosul. Al-Masih telah melaksanakan misi kenabiannya kepada umatnya, bani Isra’il (Yahudi). Al-Masih telah mengajarkan risalah Allah dan menurunkan mukjizat-mukjizat yang jelas seperti disebutkan dalam Al-Qur’an.

            Penguasa saat itu telah menuduhnya sebagai tukang sihir dan pendusta. Mereka mengganggu dan menghinanya, kemudian mengajukannya kepada mahkamah agama mereka. Al-Masih dijatuhi hukuman mati dengan cara disalib. Maka berlangsunglah hukuman itu di bawah kekejaman penguasa Romawi. Penyaliban Al-Masih berlangsung sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku saat itu. Setelah melakukan penyaliban, mayatnya dimakamkan. Mereka merasa puas karena telah berhasil melenyapkan seorang “Ahli Sihir” dan “Pembohong” yang mengaku sebagai Nabi.

Orang-orang masehi telah percaya pada omongan orang Yahudi yang memusuhi Al-Masih, sampai Al-Masih dihukum dengan cara disalib. Penyaliban itu sendiri dianggap sebagai penebusan dosa. Penjelasan hal ini terdapat dalam kitab injil yang asli seperti juga yang terdapat dalam Al-Qur’an. Firman Allah dalam Al-Qur’an menjelaskan bahwa Al-Masih telah diangkat-Nya ke langit. Mereka tidak membunuh Isa, tapi yang mereka bunuh (salib) adalah orang yang diserupakan dengannya. Menurut sebagian riwayat, yang mereka bunuh itu adalah seorang munafik penghianat yang menjadi mata-mata.

            Penyaliban itu telah memutuskan akar dakwah Al-Masih. Namun para pengikutnya yang mukhlis tetap gigih menyebarkan dakwah ke setiap penjuru daerah. Berkat pengorbanan dengan mengirimkan juru-juru dakwahnya, ajaran Masehi mendapatkan simpati secara meluas. Dibalik keberhasilan itu, tiba-tiba muncul seorang tokoh Yahudi bernama Saul. Dia seorang musuh bebuyutan agama Masehi sejak masa Al-Masih. Dia mengganggu setiap orang yang menerima dakwah, mengadu domba dan mengintimidasi.

            Perubahan sikap yang drastis tiba-tiba terjadi pada diri Saul, dari permusuhan menjadi pendukung. Tanda Tanya besar para pengikut setia Al-Masih dijelaskan sebagai berikut:

“ Suatu saat saya pergi ke Damsyik untuk berperang melawan pengikut Masehi. Di tengah jalan tiba-tiba muncul cahaya memenuhi langit dan bumi. Aku mendengar suara Al-Massih datang dari langit. Dia berbicara kepadaku dengan bahasa Ibrani: “Hai Saul, mengapa engkau menggangguku?” kemudian dia menyeru kepadaku agar beriman dan mengabdi pada agamanya. Kemudian aku beriman keepadanya setelah melihat mukjizat ini. Demikian aku mulaiberkonsentrasi untuk mengabdi dan menyeru pada agamanya”

            Saul kemudian mengubah namanya menjadi Paulus. Dia pergi menemui sahabat-sahabatAl-Masih dan menceritakan apa yang telah dialaminya. Namun para sahabat itu tidak semuanya percaya, karena mereka melihat bagaimana kejamnya sikap Saul yang pernah dilakukan kepada orang-orang beriman. Mereka meragukan perkataan Saul kecuali Barnabas. Barnabas percaya dan meyakinkan para pembantu Isa. Demikian Saul (Paulus) mulai bisa bergabung dengan para sahabat yang menerima pernyataannya.

            Karena kelicikannya, akhirnya Paulus diakui sebagai pemimpin. Dengan kedudukan tersebut dia menjadi pelopor dan teladan umat Masehi yang awam. Setelah itu dia mulai melakukan rencana semula, yaitu mengadakan perubahanterhadap prinsip-prinsip dasar agama Masehi. Dia berkeyakinan bahwa untuk menjauhkan kaum Masehi dengan sumber agama yang murni yaitu dengan mengagung-agungkan pribadi Al-Masih sampai apda tingkat ketuhanan. Dia menjadikan Al-Masih sebagai putra Allah, sekutu Allah, bahkan identik dengan Allah itu sendiri. Adapun tentang hakekat penyaliban dikatakan: “Sesungguhnay penyaliban Al-Masih itu adalah untuk menebus dosa-dosa semua orang yang berimandan menahan siksa yang nyaris menimpa mereka. Al-Masih menjadi perantara menuju keselamatan, karena penyaliban itu adalah penebusan dosa-dosa yang mereka lakukan.”

            Dari sanalah awal gerakan Paulus. Anak panahnya telah mengenai sasaran tengan tepat. Aqidah ketuhanan tentang Al-Masih putra Allah, tiga tuhan, dan tebusan dosa tersiar dengan cepatnya. Para pengikut setia ajaran Al-Massih yang murni berusaha untuk membendung dakwah Paulus. Namun usaha yang mereka lakukan tidak banyak membawa hasil. Belum sampai satu abad sejak meninggalnya Al-Masih, kebanyakan kaum Masehi telah meninggalkan ajaran yang murni dan menjadikan agama syirik ciptaan Paulus sebagai agama mereka. Aqidah tiga tuhan dan tebusan dosa menjadi aqidah utama menggantikan aqidah tauhid dan hukum pahala dan siksa.

Sumber:

1.  Kitab Idhaarul Haq karya Rahmatullah Hindi Kiranuwiy (yang hijrah ke Mekkah). Terjemahannya dalam dalam judul Dari Injil ke Al-Qur’an dilakukan oleh As-Syeikh Muhammad Taqiy Utsman, putra As-Syeikh Mufti Muhiddin Syafi’.

2.   Buku Revolusi Iran Dalam Timbangan Islam karya Asy Syekh Muhammad Mandur Nu’mani yang diterjemahkan oleh Zeyd Husein Alhamid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s