Pemimpin Untuk Indonesia

Pemimpin Untuk Indonesia

Oleh: Nimatut Tamimah[1]

Email: nimatuttamimah@gmail.com

NIM: 080913006

I. PENDAHULUAN

Sejak Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945, sampai sekarang, Indonesia telah dipimpin oleh 6 orang yang berbeda dan dengan karakter yang tak sama.  Soekarno, Suharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Tentu tidak diragukan lagi bahwa keenam sosok diatas adalah orang-orang yang hebat. Orang hebat itu bukanlah orang yang hanya punya bakat, tetapi kebiasaan akan bidang yang ia dalami serta jam terbang dan proses. Tetapi, manusia tetaplah manusia, tanpa mengurangi rasa penghargaan atas reputasi mereka, kita dapat melihat beberapa kejadian sebagai sebuah kekhilafan manusiawi.

Kekhilafan yang muncul sebagai akibat tarik-menarik dari bergeloranya kapasitas ganda yang mereka miliki. Di satu sisi, mereka berkedudukan resmi sebagai pemimpin. Dan disisi lain, mereka menyandang bermacam-macam gelar akademis. Inilah yang dimaksud dengan kapasitas ganda. Mereka memiliki orientasi dalam dua alam berbeda, yang satu berkaitan dengan hal kepemimpinan, yang satu lagi mengacu pada kepiawaian akademis. Sukar untuk mengukur orientasi mana yang lebih mendominasi, karena sifatnya sangat internal, berbada jauh dalam jiwa masing-masing.

Dari Keenam pemimpin selama 67 tahun tersebut Indonesia telah mencapai berbagai macam arah. Mulai dari Indonesia mencapai arah kemajuan, jalan di tempat, hingga kemunduran. Oleh karena itu, untuk selalu membawa Indonesia agar mengalami kemajuan, Indonesia memerlukan seorang pemimpin yang memang bisa membawa Indonesia menjadi sebuah negara maju. Dan seorang pemimpin yang mampu membawa negara Indonesia untuk mencapai arah kemajuan adalah pemimpin yang berhasil.

II. PEMIMPIN

Pemimpin adalah seseorang yang mampu mempengaruhi orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang diinginkan sesuai yang diinginkan.

Pemimpin yang efektif memiliki tugas untuk membawa fungsi atau organisasi yang dipimpinnya untuk dapat mencapai tujuan atau goal yang sudah ditetapkan. Banyak cara yang digunakan oleh pemimpin untuk dapat mempengaruhi bawahannya agar mengikuti apa yang menjadi perintahnya dalam rangka mencapai tujuan tersebut.

Seorang pemimpin hendaknya memiliki pelbagai jenis kecerdasan seperti:

  1. IQ (intelligent questien)
  2. EQ (emotional intelligent)
  3. SQ (spiritual questient)
  4. AQ (adversity questient)

Menurut Tony Busan (2003) bahwa terdapat 10 jenis kecerdasan yang dapat dipelajari oleh calon pemimpin dalam menghadapi abad 21 ini. Pemimpin yang memiliki “multi intelligent” ini kelak dapat dilihat karena tercemindari mutu kepemimpinannya, dimana sikap, prilaku, tindakan, prilaku, serta hati nuraninya menjadi lebih baik dan benar karena dia mempu menggunakan pelbagai jenis kecerdasan seperti dibawah ini:

  1. Kecerdasan Tradisional (IQ), maka dia dapat berpikir baik (good thinking)
  2. Kecerdasan Emotional. EQ (good loving)
  3. Kecerdasan Ragawi (good acting)
  4. Kecerdasan Spiritual (SQ), pemimpin yang “amanah” yaitu yang memuliakan tuhan.

Pemimpin yang memiliki nurani (consciousness) adalah pemimpin yang mengakui keagungan tuhan, ia akan hormat dan takut kepada tuhan, maka ia akan takut berbuat kejahatan. Pemimpin yang takut akan tuhan adalah pemimpin yang tidak berburuk sangka terhadap orang lain, pemimpin yang hormat kepada tuhan adalah pemimpin yang mencintai tuhan dan dengan sendirinya akan mencintai ciptaan tuhan.

III. PEMIMPIN UNTUK INDONESIA

Seorang pemimpin dapat dikatakan berhasil apabila pemimpin tersebut mampu menghabiskan waktunya untuk membangun kerjasama di semua fungsi organisasi dan berbicara dengan orang lain secara informal tentang pentingnya projects dan priorities. Seperti yang pernah disampaikan oleh Ki Hajar Dewantoro dalam falsafah tentang kepemimpinan dalam hidupnya, “Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karya, tut wuri handayani”, yang artinya sebagai pemimpin kita mesti di depan memberi teladan, di tengah mebangun kemauan, dan di belakang mendorong tim. Begitu banyak buku tentang kepemimpinan yang beredar dipasaran, namun inti dari semua buku kepemimpinan tersebut tetap mengandung falsafah bernafas Jawa tersebut.

Oleh karena itu untuk mendukung falsafah bernafas jawa tersebut dibutuhkan salah satu dari elemen kunci kepemimpinan yakni influence (pengaruh). Pertimbangan utama dari pemimpin adalah mempengarui orang lain untuk melakukan hal-hal yang diperlukan dalam mencapai goal yang spesifik dan pertimbangan lainnya adalah dengan membangun hubungan pribadi dengan para pengikutnya berdasarkan kepercayaan, harapan/rasa ketergantungan dan kepedulian yang sebenarnya satu sama lain.

Disamping itu terdapat pula pemimpin yang memiliki karakter simbolis yang menitikberatkan pada visi, kultur, dan nilai-nilai untuk mempengaruhi orang lain dalam memimpin organisasi.

Seperti yang pernah dilakukan mantan presiden Indonesia yang keempat, Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, pernah menyelamatkan Siti Zaenab, TKI asal  Bangkalan Madura, dari hukuman mati tahun 1999. Ketika ada informasi yang masuk ke telinga Gus Dur, waktu itu akan ada eksekusi. Kemudian keluarga Zaenab diundang langsung ke Istana oleh Gus Dur.

Untuk mencegah hukuman mati, Gus Dur mengirim surat dan juga langsung menelepon Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud. Gus Dur hanya menelepon sekali saja, dan ditanggapi dengan baik karena waktu itu Gus Dur dalam komunikasinya tidak panjang lebar. Gus Dur langsung ke inti permasalahan, komunikasi itu layaknya kepala negara atas mandat konstitusi dan agama. Gus Dur langsung ke substansinya. Gus Dur tahu karena peran raja di Arab Saudi adalah sangat sentral. Untuk itu, sebagai kepala negara waktu itu, Gus Dur melakukan hal yang tepat. Di Arab, otoritas raja adalah segala-galanya. Kalau raja memberikan maaf, maka putusan eksekusi bisa dicegah.

Begitulah seharusnya seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang harusnya melindungi dan mencurahkan seluruh perhatiannya kepada para anggotanya tidak peduli strata sosial maupun ekonomi yang disandang anggota. Selain itu pemimpin juga harus mampu mempengaruhi orang lain agar dapat mencapai goal yang dituju dengan skill berkomunikasi yang tepat, tegas, dan lugas.

IV. PENUTUP

Indonesia memerlukan seorang pemimpin yang memang bisa membawa Indonesia menjadi sebuah negara maju. Dan seorang pemimpin yang mampu membawa negara Indonesia untuk mencapai arah kemajuan adalah pemimpin yang berhasil. Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang menghabiskan waktunya untuk membangun kerjasama di semua fungsi organisasi dan berbicara dengan orang lain secara informal tentang pentingnya projects dan priorities.

Disamping itu terdapat pula pemimpin yang memiliki karakter simbolis yang menitikberatkan pada visi, kultur, dan nilai-nilai untuk mempengaruhi orang lain dalam memimpin organisasi. Untuk dapat mempengaruhi orang lain agar dapat mencapai goal yang dituju, seorang pemimpin juga harus didukung dengan kemampuan skill berkomunikasi yang tepat, tegas, dan lugas.

V. PUSTAKA

Daft L. Richard, 2010, Era Baru Managemen, Jakarta: Salemba Empat.

Hakim Rusman, 2001, Cermin Kepemimpinan, Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Kartono Kartini Dr., 2004, Pemimpin dan Kepemimpinan: Apakah Kepemimpinan Abnormal Itu?, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Matondang, Dr., M.H., SE., MA., 2008, Kepemimpinan Budaya Organisasi dan Manajemen Strategik, Yogyakarta: Graha Ilmu.


[1] Mahasiswa Prodi S1-Fisika Universitas Airlangga. Tugas Mata Kuliah Managemen Organisasi
Iklan

2 thoughts on “Pemimpin Untuk Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s