Santri Lakon Bukan Penonton

Perkembangan sosial media (pop culture.red) belakangan ini semakin mempermudah kita dalam memperoleh berbagai informasi, pengetahuan, serta berita terbaru atau ter-update secara cepat dan meluas. Kemudahan untuk mendapat informasi tersebutlah yang menjadi boomerang bagi penggunanya. Pop Culture memiliki banyak dampak positif maupun negatife yang ditimbulkan. Pop culture merupakan sebuah fasilitas untuk memenuhi kebutuhan sekaligus tantangan yang harus diwaspadai, karena informasi yang mudah di akses tersebut bukan hanya berupa informasi yang positif saja, tetapi banyak juga informasi negatif yang sangat mudah diakses.

Ada sebuah statement yang menggebrak fenomena tersebut “Penjajahan jaman dahulu adalah penjajah yang bernama Kolonial, tapi sekarang penjajah terbesar kita yang terbesar kita bernama Pop culture

Oleh karena itu pop culture menjadi sebuah perbincangan yang hangat bagi berbagai kalangan. Tua muda, laki-laki perempuan, kaya miskin, siswa guru, santri dan kyai, semua tak ketinggalan memperbincangkan tentang perkembangan sosial media.

Tak ketinggalan pula para Mahasantri penerima PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) seseluruh nasional ikut berpartisipasi memperbincangan perkembangan Pop culture dalam lingkungan pesantren dalam Halaqoh dengan tema “Pesantren dan Pop culture”. Halaqoh yang diikuti lebih dari seratus mahasantri dari berbagai universitas terkemuka di seluruh Indonesia tersebut merupakan bagian dari serangkain acara Festival Nasional Santri Nusantara “Gerakan Menulis Nasional Santri Indonesia Menulis”. Halaqoh yang diadakan di Stikes Tambak Beras Jombang tersebut didampingi langsung oleh Muhammad Makhrus dari Komunitas Matapena.

Mahrus dalam halaqoh tersebut memberikan sedikit gambaran tentang fenomena perkembangan pop culture yang telah berlangsung belakangan ini dalam dunia kepesantrenan. Terdapat empat point masalah yang sangat penting untuk dibahas oleh para mahasantri seluruh nusantara tersebut. Pertama, bagaimana mempertahankan nilai-nilai pesantren dalam menghadapi tantangan global. Kedua, bagaimana pesantren mengadopsi nilai-nilai modern dan dalam rangka menjawab tantangan perubahan zaman? Ketiga, bagaimana seorang santri mampu menggunakan fasilitas –fasilitas media sosial sebagai wahana untuk menyampaikan gagasan? Keempat, langkah kongkrit apa yanh musti diambil oleh santri dan element pesantren untuk menjawab tantangan ini?

Untuk menjawab keempat point masalah tersebut para mahasantri dalam halaqoh yang berasal dari berbagai bidang keahlian mulai memeras otak dan tenaga untuk menentukan pernyataan sikap dan option plan yang tepat dilakukan untuk menanggapi keempat permasalahan diatas.

Salah satu pokok pembahasan yang timbul sebelum menyelesaikan berbagai permasalahan diatas adalah pengertian tentang nilai-nilai kepesantrenan. Nilai-nilai pesantren adalah karakteristik atau ciri khas yang dapat mendefinisikan seseorang langsung dapat dianggap sebagai seorang santri. Beberapa nilai-nilai pesantren adalah tawadhu’, tasamuh, amal ma’ruf nahi mungkar, dan masih banyak lagi. Lebih dari itu yang paling penting lagi adalah adanya beban moral yang melekat dalam diri seorang santri, dimana santri yang dianggap telah menempuh ilmu agama yang mendalam mau tidak mau dituntut untuk mampu mennjawab segala persoalan yang ada secara tepat ketika berinteraksi langsung dengan masyarakat umum.

Seiring berkembangnya pop culture yang marak dalam kemajuan teknologi mau-tidak mau menuntut dunia pesantren juga mampu untuk beradaptasi dengan baik terhadap fenomena tersebut.  Salah satu trik yang dapat diterapkan oleh pesantren dalam menghadapi permasalahan tersebut adalah dengan cara memberikan fasilitas yang cukup dan juga dibarengi dengan pengetahuan secara mendalam terlebih dahulu kepada para santri tentang baik dan buruknya pop culture yang sedang berkembang tersebut.

“Alangkah lebih baik jika para santri diberi pembekalan terlebih dahulu tentang dampak positif dan negative pop culture sebelum para santri tersebut tahu dengan sendirinya, takutnya santri tersebut akan sulit dikontrol sejauh mana perkembangan pengetahuannya hingga kemudian jatuh terperosok kedalam keburukan.” Kata salah satu peserta halaqoh.

Selanjutnya baru diberikan peraturan yang tegas kepada para santri tentang tatacara baik penggunaan maupun pemakaian media sosial yang tersedia. Selain itu juga dilakukan penge-block-kan terhadap situs-situs yang dirasa merugikan bagi santri dan terlebih bagi pesantren.

Selain fasilitas, pembekalan, dan peraturan yang diberikan kepada santri, pesantren juga seharusnya memfasilitasi dan mendorong para santrinya untuk aktif mengikuti kegiatan yang positif dalam pop culture. Salah satu kegiatan positif tersebut adalah dengan mengadakan beberapa kompetisi, seperti lomba blog, lomba desain web, dsb. Hal ini selain dapat mencegah santri terjengkal dalam sisi negative pop culture, juga dapat meningkatkan kreatifitas para santri untuk berpartisipasi dalam kompetisi tersebut.

“Seorang santri seharusnya didukung untuk menjadi lakon, bukan hanya menjadi seorang penonton.” Ungkap salah seorang peserta halaqoh yang lain.

Terakhir, untuk mempertahankan nilai-nilai kepesantrenan yang harus selalu melekat dalam diri para santri, dibutuhkan kerjasama antar pesantren dengan berbagai pihak baik yang bersangkutan secara langsung maupun yang bersangkutan secara langsung. Contohnya pihak pemerintah, masyarakat, dan yang paling terpenting adalah pihak keluarga. Sekali lagi dapat ditekankan bahwa sekali menjadi santri, selamanya akan menjadi santri karena tidak pernah ada yang namanya mantan maupun alumni santri.eNTe

Iklan

7 thoughts on “Santri Lakon Bukan Penonton

  1. Hmm… bener banget, budaya pop culture memang menjadi penjajah, tapi di sisi lain bisa menjadi pencerah. tergantung si pemakai. Jadi yang menajdi poin di sini bukan pop culturenya tapi pemakainya, khususnya para santri. Seiring berkembangnya zaman akses informasi bebas menjadi ciri khas pop culture, maka dari itu, baikdan buruknya tinggal si pemakai yang mengarahkan. Pembekalan pada para santri tidaklah cukup, juga harus ada praktik nyata bagaimana para santri menjalani pop culture tanpa kehilangan identitas ke-santriannya.
    🙂 Nice pos Guys!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s