Catatan Senja

Sebelum memulai catatan ini, saya akan mengawali catatan ini dengan memberikan sedikit gambaran kepada sang pembaca bahwa setiap hal yang telah saya perbuat, saya peroleh, dan saya rasakan dalam kehidupan ini merupakan suatu gema kehidupan. Dimana apa yang telah kita lakukan, kita kerjakan, baik itu kepada alam, lingkungan, maupun orang lain, semua akan terpantul kembali kepada kehidupan yang akan kita jalani. Kedepan.

Saya  akan memulai catatan ini disaat datangnya suatu senja yang telah merubah nasib saya menjadi 180o dari keadaan semula. Saat senja mulai menampilkan meganya yang kemerah-merahan, saat sang surya mulai menenggelamkan diri, disaat itulah datang sepucuk sinar harapan merangsak masuk dari cela-cela relung hati yang gelap.

Tidak seperti biasanya yang enggan untuk menerima telpon di saat adzan Maghrib berkumandang. Seperti saat saya menuliskan catatan ini. Ternyata telpon itu berasal dari PD Pontren Kementrian Agama RI. Telpon itu mengabarkan suatu berita penting yang tak mungkin terlupa sepanjang hayat. Berita tentang diterimanya saya menjadi salah satu penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB). Yah, seorangpun tak akan pernah menyangkanya.

Jika mengingat waktu tes PBSB di Asrama Haji Sukolilo dulu, saya benar-benar merasa sangat bersyukur bisa diterima sebagai salah satu penerima PBSB. Mungkin semua itu hanya nasib baik saja dan juga suatu keberuntungan saja. Bagaimana tidak, saya sempat berpikir tidak akan bisa lolos seleksi PBSB ini setelah tahu begitu banyaknya saingan yang juga berlomba-lomba memperebutkan tiket kuliah gratis di perguruan tinggi negri ini. Di Jawa Timur saja sebanyak 752 santri terdaftar sebagai peserta tes PBSB, belum lagi peserta yang dari luar Jawa Timur, bahkan luar Pulau Jawa. Satu hal yang semakin membuat saya pesimis adalah saat tes PBSB itu saya mendapatkan tempat duduk yang paling depan dengan nomor urut 244. Entah itu suatu keberuntungan atau keapesan bagi saya, bahkan melihat kearah depan saja saya sudah langsung bertatapan dengan mata sang pengawas. Tapi sekali lagi saya hanya bisa bersyukur kepada Allah dan mengucap kata Alhamdulillah berkali kali bisa menjadi salah satu dari penerima PBSB dan dapat menempuh jenjang pendidikan S1-Fisika di Universitas Airlangga.

***

Hari Minggu, 14 Juni 2009, saya menginjakkan kaki untuk yang pertama kalinya dibumi perantaun. Dari keadaan yang dikenal “kolot”, “culun”, tidak tahu menahu dunia luar pesantren, disini saya akan menjalani kehidupan baru dengan hidup di kota besar, kota Ibu Kota Provinsi Jawa Timur, Kota Surabaya. Bertumpuk-tumpuk pertanyaan telah tersimpan dalam otak. Pantaskah saya berada disini? Apakah jurusan yang saya ambil ini sudah tepat? Apakah yang akan saya lakukan selama kuliah disini? Apakah Cuma belajar? Atau masih ada kegiatan lain yang bisa dikerjakan? Apakah saya akan mendapatkan banyak teman? Prestasi apa yang harus saya raih? Dan masih banyak pertanyaan yang lainnya.

Ternyata dunia perkuliahan berbeda sekali dengan sekolah, apalagi dengan dunia pesantren yang fullday non-stop sekolah, ngaji, diniyah, dari pagi sampai malam. Banyak sekali waktu senggang yang bisa dipergunakan untuk melakukan beranekaragam kegiatan di dunia perkuliahan. Tergantung pribadi masing-masing mahasiswa untuk memanfaatkan waktu luang tersebut karena kuliah itu ibarat tempat dimana kita bisa menjadi siapapun yang diinginkan sesuai cita-cita. Dan cita-cita saya? Belum sempat terfikirkan sampai status mahasiswa baru Universitas Airlangga tersanding dibelakang nama. Dan mulai merintislah saya untuk mencari jati diri yang sebenarnya. Jati diri kehidupan.

***

Selama menempuh semester pertama, banyak sekali versi, pandangan dan pendapat dari lingkungan sekitar kampus untuk menempuh dunia perkuliahan.

Ada yang bilang “Kuliah itu pokoknya lulus dapat ijasah, dapat nilai bagus. Kuliah itu yang penting ya belajar, gak usah ikut yang aneh-aneh”. Pernyataan tersebut sempat meruntuhkan dinding idealisme saya yang sedang mencari jati diri. Ditambah lagi menjadi seorang mahasiswa PBSB di Universitas Airlangga yang bukan hanya sekedar status kebanggan semata, tapi juga sebuah tanggung jawab besar. Status “Santri Berprestasi”, suatu status ganda yang tanggung jawabnya tak hanya untuk pribadi, maupun keluarga, tapi juga kepada pesantren yang mendelegasikan saya, serta Kementrian Agama yang menanggung seluruh biaya pendidikan saya sehingga membuat saya semakin terkungkung dengan pernyataan tersebut. Sederet faktor pendukungpun berjajar rapi, mulai dari banyak tugas dari dosen, banyak laporan praktikum, jurusan yang sedikit tidak sesuai; seakan mendorong persepsi bahwa saya harus belajar, dan terus belajar agar kelak kemudian mendapat nilai bagus. Lulus dengan nilai yang memuaskan. Meskipun dipaksakan.

Seiring berjalannya waktu akhirnya saya menemukan versi lain tentang kuliah yang sesuai dengan hati nurani saya.

Ada yang bilang “kuliah itu waktu untuk membuat ‘brand’ atau merk dalam diri. Ingin dikenal sebagai apa atau seperti apa kelak. Kuliah adalah tempat panggung untuk menampilkan yang terbaik dari yang kita punya”

Akhirnya saya memilih untuk ikut aktif berorganisasi tanpa mengesampingkan kegiatan belajar yang memang menjadi kewajiban. Mulai dari organisasi penetas yang pertama kali saya kenal, Community of Santri Scoolars of Ministry of Religious Affair (CSS MoRA) Unair. Saya aktif berkecipung didalamnya hingga menjabat menjadi pengurus selama dua tahun berturut-turut. Mulai semester dua sampai semester lima sebagai Bendahara Organisasi. Dari berbagai pengalaman disinilah saya mulai mendapatkan kesadaran bahwa kuliah memang dituntut untuk sukses dalam dunia akademik, tapi juga harus didukung dengan soft skill yang tinggi.

Selain aktif dalam organisasi CSS MoRA Unair, saya juga aktif dalam kegiatan kepalangmerahan, mengabdikan diri untuk kemanusiaan dalam Unit Kegiatan Mahasiswa  Korp Sukarela-Palang Merah Indonesia (UKM KSR-PMI) Unair hingga saya juga menjabat sebagai komandan atau ketua di periode tahun 2011. Banyak pengalaman yang saya peroleh mulai dari menangani korban kecelakaan secara langsung sampai mengevakuasi mayat yang tenggelam di Kali Mas. Bentuk pengabdiannya bisa beraneka macam, dan saya rasa melalui hal yang berinteraksi langsung dengan masyarakat merupakan suatu bentuk kepedulian kita sebagai mahasiswa yang juga merupakan bagian dari anggota masyarakat.

***

Selama aktif ber-organisasi-pun alhamdulillah prestasi akademik saya tetap tidak kalah dengan mahasiswa lain yang Kupu-Kupu (Kuliah pulang-Kuliah pulang) hanya untuk belajar dan tidak mau disibukkan dengan aktivitas mengabdi untuk masyarakat. Saya dapat mengatur waktu lebih detail untuk menyelesaikan berbagai macam deadline yang menumpuk dengan berorganisasi.

Berani melangkah keluar dari zona nyaman merupakan kunci utama untuk dapat mengetahui siapa dan bagaimana jati diri kita. Langkahkan kaki beralaskan keikhlasan. Mencoba menemukan apa yang terbaik dalam diri dan mengekspresikannya dalam hal positif, karena sesungguhnya Allah menciptakan ummatnya dengan potensi untuk dapat berprestasi.

Prestasi memang bukan tujuan utama sebagai mahasiswa, melainkan buah-buah manis yang seharusnya bisa dirasakan dalam tiap hal yang dilakukan oleh mahasiswa. Berusaha untuk selalu bertindak tanpa memikirkan hasil, karena apapun hasilnya itu adalah sebuah prestasi yang harus selalu mendapatkan penghargaan dan tempat tersendiri di dalam hati.

Jadi teringat dengan sebuah statement tentang prestasi. “Berprestasi itu bukan hanya unggul di satu bidang, tapi juga memiliki keseimbangan di bidang lain”.

***

Selepas masa jabatan dari berbagai organisasi telah selesai, dapat dilihat telah banyak hiasan yang telah terbingkai di CV (Curriculume Vitae) dengan berbagai kreativitas dan aktivitas yang telah saya lakukan dengan berorganisasi. Tapi tak cukup dengan itu saja, saya masih belum puas hanya menghiasinya dengan pengalaman organisasi. Saya mulai mencoba berkenalan dengan dunia jurnalistik. Dunia yang telah sejak awal kuliah menjadi bidikan saya hanya saja sampai semester lima masih teralihkan oleh dunia organisasi dengan berbagai tanggung jawabnya.

Selama ini meskipun menulis bukanlah bakat saya, tapi menulis merupakan salah satu passionbagi saya. Passion untuk mendokumentasikan perjalan hidup serta membagi-bagikan informasi yang mungkin berharga dan bermanfaat untuk orang lain dengan tulisan. Tanpa bakatpun saya yakin menulis merupakan hal yang bisa diasah seiring banyaknya latihan. Hasil yang didapat akan lebih bermakna ketika dibarengi dengan ikhtiar yang luar biasa. Mulai dari mengikuti berbagai workshop dan seminar saya bekali diri untuk mengembangkan passion tersebut. Menulis.

Setelah benar-benar bebas dari berbagai amanah dan tanggung jawab organisasi saya memberanikan diri untuk mengirimkan surat lamaran magang di sebuah surat kabar kampus, Warta Unair. Dan alhamdulillah, setelah melalui berbagai tahap penyeleksian saya termasuk salah satu yang lolos dari sekian pendaftar.

Sampai senja saya menulis catatan ini, saya masih aktif menjadi wartawan kampus. Dari dunia baru ini saya mendapatkan lebih banyak pengalaman dan kesempatan di dunia tulis menulis. Saya mendapatkan tempat untuk menyebarkan segala informasi yang bermanfaat bagi para pembaca. Seperti apa yang telah disabdakan, “Sampaikanlah walau satu ayat”.  Dan itu telah saya coba tekuni.

Menjadi wartawan kampus. Banyak tuntutan yang harus saya penuhi sebagai wartawan kampus. Salah satunya adalah mahir fotografi. Dan ternyata, tanpa disangka dan tanpa di-nyana dunia fotografi mampu mengalihkan perhatian saya. Benar-benar mengasyikkan. Hingga suatu kesempatan saya dapat perkompetisi dengan berbagai pecinta fotografi dan menjadi pemenang pula dalam lomba “Fotografi on The Spot” yang diikuti oleh berbagai kalangan, mulai mahasiswa, pelajar, sampai pecinta fotografi profesional se Surabaya.

***

Apakah saya sudah merasa menjadi orang yang sukses? Sudah, sebagai upaya bersyukur atas segala hal yang telah saya peroleh sampai saat ini, karena Allah berjanji dalam firmannya akan menambahkan nikmatnya bagi orang yang bersyukur. Dan belum, karena saya masih memiliki banyak cita-cita yang masih harus saya raih lagi. Namun apapun yang akan terjadi, setidaknya saya ingin menjadi orang yang bermanfaat. Karena sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s