Teduh

Kemarin Kyai Adiwijoyo meninggal. Suasana Kehilangan menyelubungi seluruh atmosfer Pondok Pesantren Giri Kedaton. Neng Isma menangis di kamar dalam pelukan Nyai Sumirah. Begitu juga Para Santri dan Santriwati Pondok Pesantren Giri Kedaton lainnya. Sekilas kulihat raga Kyai tersembunyi dari balik kain batik di dalam Masjid. Sedang apa Kyai sekarang? Mungkin masih duduk-duduk di tempatnya semula, menunggu malaikat mengantarnya ke tempat yang lebih teduh.

***

Di serambi. Kursi tempat Kyai Adiwijoyo menghabiskan sisa hidupnya dengan berdzikir, tiada henti memutar tasbih yang tak pernah lepas dari genggaman. Kosong. Tak ada seorangpun yang menduduki kursi itu lagi. Entahlah, siapa tahu diam-diam Kyai Adiwijoyo masih duduk di sana.

Di kursi yang setelah dibersihkan dari sawangnya, dimandikan, dan dibedaki oleh Neng Isma lalu digotong Gus Sadi ke sini. Pagi, siang, sore dihabiskan Kyai Adiwijoyo untuk melihat lalu lalang para santri, kadang terlihat para santri berkerjabakti di pelataranku, orang-orang sopan yang tersenyum padanya. Tiada seorangpun yang menemaninya, hanya kalender lama bergambar jembatan merah Surabaya di ujung tembok teras. Layaknya bayi yang setelah dimandikan lalu didudukkan untuk menunggu giliran menyusu pada Ibunya.

Kalender lama yang dicantolkan pada tubuhku dengan paku yang menancap pada tubuhku yang terbuat dari kayu. Gambar jembatan merah masa lalu, saat Belanda masih menguasai. Kuteliti tiap lekukan di dalamnya. Bangunan jembatan. Orang-orang bercaping. Perahu mungil. Dan Surau.

***

Neng Isma bersandar di pangkal kusenku. Tepat di samping kalender lama bergambar jembatan merah. Melamun. Menerawang jauh. Mengingatkan segala sesuatu tentang Kyai Adiwijoyo.

Sekarang masih dalam masa berkabung tapi aku merasa sebaliknya. Tetap merasakan sejuknya sore hari bersama Kyai Adiwijaya dengan senyuman teduhnya duduk di kursi itu. Neng Isma sudah barang pasti tidak merasakannya. Ah, terserah saja. Biarkan dia tetap dalam kenangannya.

***

Serambi, 1967

Suatu petang datang seorang santri. Dia bernama Anang. Usianya baru 16 tahun. Sambil menunduk dan sungkem kepada Kyai Adiwijoyo. Tak lama Anang menceritakan panjang lebar tentang masalahnya dengan seorang santri lain yang tak lain dan tak salah adalah saudara kembarnya. Agung namanya.

***

Anang seorang santri yang taat. Tak pernah sekalipun ia tinggalkan puasa sunnah Senin Kamis. Sholat malamnya rutin. Mengajinyapun sangat tartil. Sedangkan Agung, dia hanya menjalankan seluruh kewajiban sebagai seorang muslim saja. Sholat lima waktu. Memang menjadi adat di Pondok Pesantren Giri Kedaton tidak pernah memaksa para santrinya untuk menjalankan ibadah sunnah.

Satu hal yang tidak pernah dilakukan oleh Anang tetapi dilakukan oleh Agung adalah mengisi waktu senggangnya ditengah kesibukan sekolah dengan berkebun. Jangan ditanyakan seberapa banyak tanaman dalam pondok pesantren yang dirawat oleh Agung. Hampir semuan spesies dirawatnya.

Termasuk deretan-deretan pohon rambutan yang mengelilingi pelataranku. Menjagaku selalu dalam keadaan teduh.

Anang mengadu kepada kyainya tersebut karena merasa tak sanggup lagi mengemban kewajiban untuk mengingatkan saudaranya agar lebih serius dalam menuntut ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah SWT selama di pondok pesantren ini. Tak hanya sekali dua kali Anang menegur Agung. Agung tetap pada keadaannya. Tak bergeming. Tetap melakukan aktifitasnya sehari-hari dengan berkebun.

***

Kyai Adiwijoyo hanya tersenyum. Teduh. Sambil menyodorkan teko berisi air putih dan gelas.

“Coba Nang kamu minum dulu air dalam teko itu.”

Karena merasa sedang disuruh oleh Kyai pembesar di pesantren ini, Anang serta merta langsung menuangkan air dalam teko ke dalam gelas. Kemudian meneguknya langsung habis.

“Nah sekarang kamu minum airnya yang terlebih dahulu kamu tuangkan ke gelasnya bukan. Kenapa kamu tidak langsung meminumnya dari teko? Bukankah tujuannya sama-sama untuk memasukkan air dalam teko ke dalam kerongkongan kamu.”

Anang tanpa suara, membisu dalam kebingungan.

“Coba sekarang kamu bayangkan pernahkan kamu berfikir apa yang telah diperbuat saudaramu? Disaat kamu khusu’ dalam ibadahmu apa yang diperbuat saudaramu?”

“Hanya bermain-main dengan tanaman-tanaman kyai. Bahkan waktunya selalu dia habiskan hanya untuk itu.” Tetap masih dalam kebingungan.

“Pernah suatu kali saya menjumpai saudaramu saat sedang menyiram tanaman di belakang ndalem.  Yang dia hadapi memang benar-benar fokus. Bahkan mungkin dia tak akan pernah tau kedatangan saya seandaianya saya tidak memegang pundaknya. Dia sering bercerita tentang kehebatan sebuah tanaman yang terus menerus memberikan kehidupan di alam semesta. Dan kehebatan itu bersumber dari Allah SWT. Yang selalu Agung ingat akan selalu kebesarannya. Sekarang biarkan dulu Agung berkembang sesuai dengan jalannya.”

Kyai Adiwijoyo mengakhiri perbincangannya dengan Anang tetap dengan senyumannya. Teduh.

***

Serambi, 1991

            Sudah lama saya tidak berjumpa dengan mata itu. Bukan. Tepatnya, sudah lama mata itu bersembunyi di balik selimut teduhnya. Sulit sekali untuk dicari, tapi tetap ketemu. Kini, tanpa dicari mata itu muncul kembali.

Mata itu tak pernah asing bagiku, mata penuh dengan kesantunan tapi tetap terselimuti dalam kewibawaan. Anang. Dia masih tetap seperti dahulu. Sering berkunjung ke ndalem. Menemui Kyai Adiwijoyo.

            Tetap dengan senyumnya Kyai Adiwijoyo menyambut kedatangan Anang. Teduh. Kali ini merupakan kunjungan Anang yang ke 5 kali setelah ia meninggalkan pondok pesantren karena telah lulus dari Sekolah Menengah Akhir (SMA). Mungkin ia telah disibukkan dengan berbagai macam kesibukan. Kampus, Kantor, Keluarga.

            Seorang anak tunggal yang ia miliki diajak berkunjung kesini. Kali ini ia menceritakan tentang anaknya kepada Kyai Adiwoyo. Anaknya telah memilih untuk menjadi seorang jurnalis. Dan mulai menginjak dunia perkuliahan di jurusan sastra. Kebebasan. Itulah yang diterapkan Anang dalam mendidik anaknya. Kebebasan yang tetap berinspirasi. Dan inspirasi itu adalah Agung.

***

            Setelah keluar dari pesantren Giri Kedaton, Agung melajutkan hidupnya dengan bekerja di sebuah pabrik gula. Sambil bekerja dia tidak hanya berdiam diri di rumah. Dia melanjutkan sekolah menempuh pendidikan sarjananya di Universitas Airlangga. Jurusan Biologi. Itu yang dia incar.

            Selama dibangku perkuliahanpun ia tetap aktif mengikuti segala macam organisasi yang ia anggap sesuai dengan jati dirinya. WANALA (Mahasiswa Pecinta Alam). Bahkan pada tahun ke dua ia dilantik sebagai ketua organisasi tersebut.

            Berbagai macam kegiatan pelestarian alam semesta ia lakukan. Tanpa sadar ia telah ikut menyukseskan suatu program. Pelepasliaran suaka liar.

***

Agung mendirikan suatu suaka Satwa. Khusus sebagai tempat rehabilitasi hewan liar. Hewan liar yang biasa dikenal dengan sebutan predator menempati kedudukan yang paling tinggi dalam rantai makanan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa predator berkedudukan sangat penting dialam semesta ini, yakni sebagai penyeimbang ekosistem.

            Melalui Suaka satwa, Agung mulai merintis media pendidikan Konservasi serta rehabilitasi satwa untuk pelepasliaran. Pelepasliaran sendiri memiliki peran penting sebagai salah satu jalan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mengembalikan peran dan fungsi (ekologis dan biologis) dari satwa yang dilepas liarkan.

***

Jakarta, 1991

Agung sekarang telah menjadi seorang Menteri Pertanian dan Perhutanan. Dia sukses menjadikan Negara Indonesia yang kaya akan Sumber Daya Alam ini hingga Indonesia menjadi salah satu pengimpor tebu terbesar di dunia.

Menjadi seorang pemimpin. Tanpa pernah mengesampingkan tugasnya sebagai santri untuk selalu mengabdi kepada rosul dan pemerintahannya, dia terus berjuang dan berjuang untuk kelestarian alam semesta. Alam di Indonesia.

            “Seorang selamanya akan menjadi santri. Takkan pernah ada kata alumni santri” kata-kata yang selalu didengungkan Agung untuk saudaranya. Anang.

***

Kesenanganku merasakan sejuknya semilir angin sore hari hancur ketika Guntur mulai menggemakan suaranya. Melanglangbuana di angkasa. Menjulurkan kilatnya ke suatu tempat yang jauh disana. Entah dimana.

Hujan rintik-rintik akhirnya menggenapkan suasana duka sore hari di Pesantren Giri Kedaton.

Iklan

2 thoughts on “Teduh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s