Save Our Predator, Menyeimbangkan Ekosistem

Bagi sebagaian oknum, hewan liar merupakan komoditi yang besar dan sangat menguntungkan. Sampai sekarang pun masih banyak hewan liar yang diperdagangkan. Baru-baru ini Kementrian Kehutanan memusnahkan 258 satwa langka dari 48 spesies hewan langka yang diawetkan Manggala Wanabakti, Jakarta. Hal ini membuktikan bahwa masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan alam kita yang semakin lama semakin punah.

Diperlukan sosialisasi kepada masyarakat untuk membudayakan dan tidak menangkap hewan liar hanya untuk kepuasan pribadi. Karena dengan adanya permintaan dari konsumen maka akan berlangsung proses perdagangan. Dan dengan adanya perdagangan satwa liar, pintu gerbang kepunahan satwa-satwa yang ada di Indonesia akan semakinterbuka lebar.

“Faktor paling besar yang mendukung kepunahan adalah perdagangan” ungkap Agus, salah satu pemateri seminar Save Our Predator, Selasa (20/11), dari lembaga WCS (Wild Life Conservation Society).

Seminar Save Our Predator yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) melalui Klompok Study Peksia, kelompok study yang membahas segala suatu tentang burung, dan bekerjasama dengan Suaka Elang, sebuah pusat pendidikan dan konservasi Elang, Komunitas RAIN (Raptor Indonesia) dan WCS ini diselenggarakan di Aula Student Center (SC) lt.3 dan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai jurusan di Universitas Airlangga dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang masih mempunyai keinginan untuk melestarikan alam yang hampir punah ini.

Dalam seminar yang diketuai oleh Ramadani Trisandi mahasiswa ITL angkatan 2010 ini mengusung tema “Hidup Berdampingan dan Harmonis Bersama Hewan Pemangsa”.

 “Banyak berkembang budaya berburu hewan liar disekitar kita, ditambah para pemburu itu tidak berburu untuk kepentingan-kepentingan tertentu hanya untuk kepuasan sendiri saja. Oleh karena perlu ditegaskan sosialisasi ke masyarakat untuk membudayakan dan tidak menangkap hewan liar. Semoga dari seminar ini terbentuk wujud riil cara mengelola dan kesadaran melestarikan alam kita yang semakin lama semakin punah”  jelas Prof Win Darmanto, M.Si, Ph.D, saat memberikan sambutan pembukaan seminar.

Hewan liar atau yang biasa dikenal dengan sebutan predator menempati kedudukan yang paling tinggi dalam rantai makanan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa predator berkedudukan sangat penting dialam semesta ini, yakni sebagai penyeimbang ekosistem.

Oleh karena itu, Gunawan, Direktur dari Suaka Elang menjelaskan tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati suatu spesies dengan habitat aslinya. “Satwa Liar itu tempatnya bukan di rumah atau dikamar, tetapi dialam bebas” tegas Gunawan.

 

Pelepasliaran Satwa Liar

           

Melalui Suaka Elang, Gunawan mulai merintis media pendidikan Konservasi serta rehabilitasi satwa untuk pelepasliaran. Pelepasliaran sendiri memiliki peran penting sebagai salah satu jalan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mengembalikan peran dan fungsi (ekologis dan biologis) dari satwa yang dilepas liarkan.

Banyak proses yang harus ditempuh sebelum dan sesudah pelepasliaran satwa liar. Satwa liar dari pusat penyelamatan satwa yang didapat dari perdagangan satwa liar maupun pemelihara satwa liar akan mendapatkan perlakuan berbeda-beda tergantung dari aspek medis, apakah satwa tersebut akan dilepasliarkan, dipelihara, ataupun ditidurkan (euthanasia).

Jika satwa tersebut memang layak untuk dilepasliarkan, maka sebelumnya perlu dilakukan rehabilitasi terlebih dahulu.

“Seperti contohnya sifat predator yang sebenarnya jika melihat manusia pasti akan menjauh, sedangkan predator yang sudah biasa dipelihara manusia akan sebaliknya dia akan mendekat. Oleh karena itu, sebelum dilepas liarkan perlu dilakukan rehabilitasi untuk mengembalikan sifat predator tersebut.” Jelas gunawan.

Setelah melewati berbagai macam proses rehabilitasi, maka pelepasan dapat dilakukan di habitat dan waktu yang telah ditentukan dengan pemantauan pra pelepasan secara intensif dan antisipasi untuk kemungkinan buruk yang terjadi pada satwa liar yang dilepaskan tersebut hingga satwa liar tersebut benar-benar mampu hidup di alam bebas.eNTe

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s