Misteri Penciptaan Alam Semesta

Sepanjang sejarah, manusia selalu ingin tahu bagaimana alam semesta yang tak bertepi ini berawal. Kemanakah ia menuju? Bagaimana hukumnya menjaga tatanan keseimbangannya bekerja?

Selama ratusan tahun para ilmuan dan pemikir telah melakukan banyak penelitian tentang hal ini dan hanya menemukan sedikit sekali teori.

Gagasan umum pada abad ke-19 adalah alam semesta ini adalah kumpulan materi dengan ukuran tak hingga yang telah ada sejak dulu kala dan akan terus ada selamanya. Selain meletakkan dasar berpijak bagi paham materialis, pandangan ini menolak keberadaan pencipta dan menyatakan bahwa alam semesta tidak berawal da tidak berakhir.

Matrealisme adalah paham yang meyakini materi sebagai satu2nya keberadaan bulat, dan menolak keberadaan apapun selain materi. Berakar pada kebudayaan yunani kuno dan mendapat penerimaan yang meluas diabad ke-19, cara pandang ini menjadi terkenal dalam bentuk paham matrealisme Dialek Di A Karl Marks.

Para penganut paham matrealisme meyakini model alam semesta tak hingga sebagai dasar paham atheis mereka. Misalnya dalam bukunya “Principes Fondamentaux of Philosophie (1980)” (Filsuf matrealism) oleh Georges Politzer mengatakan alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan dan ia menatakan “Jika ia diciptakan, ia sudah pasti diciptakan oleh tuhan dengan seketika dari suatu ketiadaan” (hal.84)

Ketika Politzer berpendapat alam semesta tidak diciptakan dari ketiadaan ia berpijak pada model alam semesta statis abad ke-19 dan menganggap dirinya sedang mengemukakan sebuah pernyataan ilmiah. Namun, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dia bad ke-20 akhirnya meruntuhkan gagasan kono yang dinamakan matrealisme ini. Telah ditemukan bahwa alam semesta tidaklah tetap sebagaimana dugaan kaum matrealisme, malah sebaliknya, ia terus berkembang.

Selain itu, berbagai pengamatan dan perhitungan telah membuktikan bahwa alam semesta memiliki permulaan dan ia diciptakan dari ketiadaan melalui suatu ledakan raksasa. Kini fakta ini telah diterima diseluruh unit pengetahuan. Dan penemuan fakta-fakta penting ini dibuktikan melalui ragam pengamatan dan penemuan revolusioner.

Pada tahun 1929 di Observaterium Moneelseum di California, Ahli astronomi Amerika bernama Edwin Hubble membuat salah satu penemuan terbesar disepanjang sejarah astronomi. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia menemukan bahwa mereka memancarkan cahaya merah sesoroy dengan jaraknya. Ini berarti bahwa bintang-bintang ini bergerak menjauhi kita. Sebab menurut hukum fisika yang diketahui spektrum sumber cahaya yang sedang bergerak mendekati pengamat cenderung ke warna ungu, sedangkan yang menjauhi pengamat cenderung berwarna merah.

Selama pengamatan oleh Hubble, cahaya bintang-bintang cenderung berwarna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang terus menerus menjauhi kita.

Jauh sebelumnya Hubble telah membuat penemuan penting lain, bintang dan galaksi bergerak tak hanya menjauhi kita, tapi juga menjauhi satu sama lain. Satu-satunya yang dapat disimpulkan dari suatu alam semesta dimana segala sesuatunya bergerak menjauh satu sama lain adalah alam semesta ini terus menerus mengembang.

Agar lebih mudah dipahami, alam semest dapat diumpamakan sebagai permukaan balon yang terus mengembang, sebagaimana titik dipermukaan ablon yang bergerak menjauhi satu sama lain ketika balon membesar, benda-benda diruang angkasa juga bergerak menjauhi satu sama lain ketika alam semesta terus mengembang.

Sebenarnya fakta ini secara teori telah ditemukan lebih awal. Albert Einstein yang diakui sebagai ilmuan terbesar abad ke-20, berdasarkan perhitungan yang dibuatnya dalam fisika teori telah menyimpulakan bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Tetapi ia mendiamkan penemuannya ini hanya agar tidak bertentangan dengan model alam semesta statis yang diakui luas waktu itu. Dikemudian hari Einstein menyadari tindakan ini sebagai kesalahan terbesar dalam kariernya.

Apa arti dari mengembangnya alam semesta? Mengembangnya alam semesta berarti bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur kemasa lampau, maka ia akan terbukti berasal dari satu titik tunggal.

Perhitungan menunjukkan titik tunggal ini yang berisi semua materi alam semseta haruslah memiliki volum ke 0 dengan kepadatan tak hingga. Alam semesta telah terbentuk melalui ledakan titik tunggal bervolume 0 denga kepadatan tak hingga.

Ledakan raksasa yang menandai permulaan alam semesta ini dinamakan Big Bang dan teorinya dikenal dengan nama tersebut (Juni 1999, Feature Physics in the New Millenium).

Perlu diketahui bahwa volume 0 merupakan pernyataan teoritis yang digunakan untuk memudahkan pemahaman. Ilmu pengetahuan dapat mendefinikan konsep ketiadaan yang berada diluar batas pemahaman manusia, hanya dengan menyatakannya sebagai titik bervolume 0. Sebenarnya sebuah titik tak bervolume berarti ketiadaan. Demikianlah alam semesta muncul menjadi ada dari ketiadaan. Dengan kata lain, ia telah diciptakan. Fakta ini yang baru ditemukan Fisika Modern pada abad ke-20 telah dinyatakan dalam al-Qur’an 14 abad yang lampau.

“Dia pencipta langit dan bumi” Q.S Al-Anam:101.

Teori big bang menunjukkan semua benda dialam semesta pada awalnya adalah satu wujud dan kemudian terpisah-pisah. Kenyataan ini yang dikemukakan oleh teori big bang sekali lagi telah dinyatakan dalam al-Qur’an pada 14 abad yang lalu saat manusia memiliki pengetahuan terbatas tentang alam semesta.

“dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasannya pada langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu kemudian akmi pisahkan antara keduanya” Q.S Al-Anbiyaa’:30.

Ini diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui bigbang, atau ledakan raksasa dari satu titik tunggal dan membentuk alam semesta kini dengan cara memisahkan satu dengan yang lain.

Mengembangnya alamsemesta adalah salah satu bukti terpenting yang menunjukkan alam semesta diciptakan dari ketiadaan. Meski tak diketemukan oleh ilmu pengetahuan pada abad ke-20, Allah telah memberi tahu kita dengan Al-Qur’a yang diturunkan 1400 tahun yang lalu.

“Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan kami, sesungguhnya kami benar-benar meluaskannya” Q.S Adz-Zariyat:47.

Big Bang merupakan petunjuk nyata bahwa alam semesta telah diciptakan dari ketiadaan dengan kata lain, ia diciptakan oleh Allah. Inilah alasan mengapa para astronom meyakini paham matrealis senantiasa menolak bigbang dan mempertahankan gagasan alam semesta tak hingga. Alasan penolakan ini terungkap dalam perkataan Artur Eddington, salah satu fisikawan matrealism terkenal yang menyatakan. “Seacara filosofis, gagasan tentang permulaan tiba-tiba dari tatanan alam yang ada saat ini sungguh menjijikkan bagi saya.” (1980)

Seorang matrealism lain, astronom terkemuka saat itu, Sir Fred Hoyle adalah termasuk yang paling terganggu oleh teori big bang.

Dipertengahan abad ke-20 Hoyle mengemukakan teori yang disebut sebagai “Steady state” yang mirip dengan teori alam semesta tetap abad ke-19. Teori steady state menyatakan bahwa alam semesta berukuran tak hingga dan kekal sepanjang masa dengan tujuan mempertahnkan paham matrealism, teori ini sama sekali bersebrangan dengan teori bigbang yang mengatakan bahwa alam semesta memiliki permulaan.

Mereka yang mempertahankan teori steady state telah lama menentang teori bigbang. Namun ilmu pengetahuan justru meruntuhkan pandangan mereka.

Pada tahun 1948 George Gamow, muncul dengan gagasan baik tentang bigbang. Ia mengatakan, setelah pembentukan alam semesta melalui ledakan raksasa, sisa radiasi yang ditinggalkan oleh ledakan ini haruslah ada di alam, selain itu radiasi ini harusnya tersebar merata disegenap penjuru alam semesta. Bukti yang seharusnya ada ini pada akhirnya diketemukan pada tahun 1965. Dua peneliti bernama Alrnot Benziaz, dan Robert Wilson menemukan gelombang ini tanpa sengaja. Radiasi ini yang disebut Latar Cosmik tidak terlihat memancar dari satu sumbu tertentu akan tetapi melingkupi keseluruhan luar angkasa. Demikianlah diketahui bahwa radiasi ini adalah sisa radiasi peninggalan dari tahap awal Bigbang. Benziaz dan Wilson dianugrahi Nobel untuk penemuan mereka.

Pada tahun 1989 NASA mengirimkan suatu satelit Cobel keluar angkasa untuk melakukan penelitian tentang radiasi Latar Cosmis. Hanya perlu 8 bagi Cobel menit untuk membuktikan perhitungan Benziaz dan Wilson. Cobel telah menemukan sisa ledakan yang terjadi di awal pembentukan alam semesta. Dinyatakan sebagai penemuan astronomi terbesar sepanjang masa, penemuan ini jelas membuktikan teori bigbang.

Bukti penting lain bagi bigbang adalah jumlah Hidrogen dan Helium diluar angkasa. Dalam berbagai penelitian diketahui bahwa konsentrasi Hidrogen Helium dialam semesta bersesuaian dengan perhitungan teoritis konsentrasi Hidrogen Helium sisa peninggalan peristiwa Bigbang. Jika alam semesta tak memiliki permulaan dan jika ia ada sejak jaman dulu kala, maka unsure Hidrogen ini seharusnya habis sama sekali dan berubah menjadi Helium.

Segala bukti meyakinkan ini membuat teori bigbang diterima oleh masyarakat ilmiah. Model Bigbang adalah titik dan akhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam semesta.

Dennis Sciama yang mempertahankan teori Steady state bersama Fred Hoyle yang selama bertahun-tahun menjelaskan posisi akhir yang telah mereka capai setelah semua bukti teori bigbang terungkap. Sciama mengungkapkan “ia mempertahankan teori steady state bukan karena ia menganggapnya benar, melainkan karena ia berharap bahwa inilah yang benar.” Sciama selanjutnya mengatakan, ketika bukti mulai bertambah ia harus mengakui bahwa permainan telah usai, dan teori steady state harus ditolak.

Profesor George Eble dari Universitas California juga menerima kemenangan akhir Bigbang dan menyatarkan bahwa bukti yang kini ada menunjukkan bawa alam semesta bermula milyaran tahun silam melalui peristiwa bigbang. Ia mengakui tidak mempunyai pilihan lain kecuali menerima teori bigbang.

Dengan kemenangan Bigbang, mitos materi kekal yang menjadi asal berbijak paham matrealism terhempaskan kedalam tumpukan sampah sejarah. Lalu keberadaan apakah sebelum bigbang? dan kekuatan apa yang memunculkan alam semesta? sehingga menjadi ada dengan ledakan raksasa ini saat alam tersebut tidak ada.

Meminjam istilah Artur Eddington pertanyaan ini jelas merujuk pada fakta yang secara filosofis menjijikkan bagi kaum matrealism yakni keberadaan pencipta.

Filsuf Atheis terkenal Anthony Flew berkata “Sayangnya pengakuan adalah baik bagi jiwa, karenanya, saya akan memulai dengan pengakuan bahwa kaum Atheis Stratonisian terpaksa dipermalukan oleh kesepakatan kosmologi zaman ini, sebab tampaknya para ahli kosmologi tengah memberikan bukti ilmiah bahwa alam semesta memiliki permulaan.”

Banyak ilmuan yang secara tidak buta menempatkan dirinya sebagai atheis telah mengakui peran pencipta yang maha perkasa dalam penciptaan alam semesta.

Pencipta ini harusnya dzat yang telah menciptakan materi dan waktu, namun tidak terikat oleh keduanya. Ahli Astrofisika terkenal Hugh Ross mengatakan “Jika permulaan waktu terjadi bersamaan dengan permulaan alam semesta. Sebagaimana pernyataan teorema ruang, maka penyebab terbentuknya alam semesta pastilah sesuatu yang bekerja pada dimensi waktu yang sama sekali tak bergantung dan lebih dulu ada dari dimensi waktu alam semesta. Kesimpulan ini member tahu bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri, Tuhan tidak pula berada alam semesta.” Creator and the Cosmos 1993, hal.112.

Begitulah materi dan waktu diciptakan oleh pencipta yang tidak terikat oleh keduanya. Pencipta ini adalah Allah, dialah penguasa langit dan bumi.

Sebenarnya bigbang telah menimbulkan masalah yang lebih besar bagi kaum matrealism  daripada pengakuan filsuf atheis Anthony Few. Sebab bigbang tak hanya membuktikan alam semesta diciptakan dari ketiadaan tetapi ia juga diciptakan secara sangat rencana, tersusun rapid an teratur.

Bigbang terjadi melalui ledakan suatu titik yang berisi semua materi dan energi alam semesta, serta penyebarannya ke segenap penjuru ruang angkasa dengan kecepatan sangat tinggi. Dari materi dan energi ini muncullah suatu keseimbangan luar biasa yang melingkupi berbagai galaksi bintang, matahari, bulan, dan benda angkasa lainnya.

Hukum alampun terbentuk yang kemudian disebut Hukum Fisika yang seragam diseluruh penjuru alam semesta dan tidak berubah. Hukum fisika yang muncul bersamaan dengan Bigbang tak beruba sama sekali selama lebih dari 15 milyar tahun. Selain itu hukum ini didasarkan atas perhitungan yang sangat teliti sehingga penyimpangan satu millimeter saja dari angka yang ada sekarang akan berakibat pada kehancuran seluruh bangunan dan tatanan alam semesta.

Semua ini menunjukkan bahwa suatu tatanan sempurna muncul setelah bigbang. Namun ledakan tidak mungkin memunculkan tatanan sempurna, semua ledakan yang diketahui cenderung berbahaya, menghancurkan, dan merusak apa yang ada. Jika kita diberi tau tentang kemunculan tatanan yang sangat sempurna setelah suatu ledakan, kita dapat menyimpulkan bahwa ada campur tangan cerdas dibalik ledakan ini. Dan setelah serpihan yang berhambur akibat ledakan ini telah digerakkan secara sangat terkendali.

Pernyataan Sir Fred Hoyle yang akhirnya harus menerima teori bigbang setelah bertahun-tahun menentangnya, mengungkapkan hal ini dengan jelas. “Teori Bigbang menyatakan bahwa alam semesta berawal dari suatu ledakan tunggal. Tapi sebagaimana diketahui, ledakan hanya menghancurkan materi berkeping-keping. Sementara Bigbang secara misterius telah menghasilkan dampak yang berlawanan, yakni materi yang saling bergabung dan membentuk galaksi-galaksi.”

Tidak ada keraguan jika suatu tatanan sempurna muncul melalui suatu ledakan maka harus diakui bahwa campur tangan pencipta berperan disetiap saat dalam ledakan ini. Hal lain yang terbentuk luar biasa yang terbentuk dialam menyusun peristiwa bigbang ini adalah penciptaan alam semesta yang dapat dihuni. Persyaratan bagi pembentukan suatu planet yang layak huni sungguh sangat banyak dan rumit. Sehingga mustahil beranggapan bahwa pembentukan ini bersifat kebetulan. Setelah melakukan perhitungan tentang kecepatan mengembangnya alam semesta Paul Devies, professor teori fisika terkemuka mengatakan bahwa kecepatan ini memiliki ketelitian yang sungguh tak terbayangkan. Devies berkata “Perhitungan jeli menempelkan kecepatan pengembangan ini sangat dekat dengan angka kritis dengana danya alam semesta akan terlepas dari  gravitasinya dan mengembang selamanya. Sedikit lebih lambat dan ala mini akan runtuh, sedikit lebih cepat dari keseluruhan materi alam semesta sudah berhamburan sejak dulu. Jelasnya Bigbang bukanlah sekedar ledakan zaman dulu, tapi ledakan yang terencana dengan sangat cermat”.

Fisikawan terkenal Profesor Stephen Hawking mengatakann dalam bukunya A Brief History of Time bahwa alam semesta dibangun bersasarkan keseimbangan yang lebih akurat dari yang bisa kita bayangkan. Dengan merujuk pada kecepatan mengembangnya alam semesta Hawking berkata “Jika kecepatan pengembang ini dalam satu detik setelah bigbang berkurang meski hanya sebesar satu/seratus ribu juta-juta, alam semesta ini akan telah runtuh sebelum pernah mencapai ukurannya yang sekarang”

Paul Devies juga menjelaskan akibat tak terhindarkan dari keseimbangan dan perhitungan yang luar biasa akuratnya ini. “adalah sulit menghindarkan kesan bahwa tatanan alam semesta sekarang, yang terlihat begitu peka terhadap perubahan angka sekecil apapun, telah direncanakan dengan sangat teliti, kemunculan serentak angka-angka yang tampak ajaib ini, yang digunakan alam sebagai konstanta-konstanta dasarnya,  pastilah menjadi bukti paling menyakitkan adanya perancangan alam semesta” (God and The New Physics 1983 Hal.189)

Berkenaan dengan kenyataan yang sama ini professor astronome Amerika George Greenstein “The Symbiotic Universe-Life and The Cosmos in Unity (1988)” mengatakan “ketika kita mengkaji semua bukti yang ada, pemikiran yang senantiasa muncul adalah bahwa kekuatan supranatural pasti terlibat”

Singkatnya, saat meneliti tatanan mengagumkan dialam semesta akan kita fahami bahwa keberadaan dan cara kerjanya bekerja pada keseimbangan yang sangat peka dan tatanan yang terlalu rumit dijelaskan melalui peristiwa kebetulan. Sebagaimana dimaklumi, tidaklah mungkin keseimbangan dan tatanan luar biasa ini terbentuk dengan sendirinya dan secara kebetulan melalui suatu ledakan raksasa. Menentukan tatanan semacam ini menyusul ledakan seperti bigbang adalah suatu bukti nyata adanya penciptaan supernatural. Rancangan dan tatanan tanpa tara dialam semesta ini tentulah membuktikan keberadaan pencipta beserta ilmu dan keagungan dari makna yang tak terbatas. Yang telah menciptakan materi dari ketiadaan dan yang berkuasa mengaturnya tanpa henti. Penciptaan ini adalah Allah, tuhan seluruh sekalian alam.

Sumber: Buku Penciptaan Alam Semesta, karya Harun Yahya.

Iklan

3 thoughts on “Misteri Penciptaan Alam Semesta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s