“Dimanapun Berada Kita Harus Bisa Sukses”

Sebagian besar mahasiswa menggantungkan biaya kuliahnya hanya dengan berpangku tangan pada subsidi orang tua. Tetapi tidak demikian bagi Nurul Laily Qomariyah, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) yang menyandang gelar wisudawan terbaik FKM. Dia mengaku sebagian besar biaya kuliahnya berasal dari hasil kerja kerasnya sendiri.

“Aku udah niat dari awal masuk kuliah buat gak mbebanin orang tua, gak minta duit lagi. Sebisa mungkin, sekuat tenaga. Soalnya, sudah sejak TK sampai SMA, lebih kurang 14 tahun minta uang. Yang kali ini aku tekad buat usaha sendiri.” Ungkap gadis yang lahir di Lamongan, tanggal 18 November 1989 ini.

Nurul mulai bekerja freelance sejak semester 3. Dia menjadi seorang enumerator pada program keluarga harapan (PKH) kementrian sosial di situbondo. Selain itu gadis yang hobi memasak ini juga sering mengikuti penelitian-penelitian di perusahaan konsultan, WJP Consultation and network.

“Aku sering ikut penelitian, selain bisa dapat uang, nilai lebihnya adalah praktek ilmu langsung di lapangan dan menjalin silaturrahmi dengan banyak lapisan masyarakat.” Cerita Anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Yang paling berkesan menurut Nurul adalah pada saat penelitian bersama dosen-dosen Universitas Indonesia (UI) yang bekerjasama dengan World Bank. Penelitiannya tentang study financing HIV/AIDS se Jawa Timur. Mendatangi LSM2 yang tekait HIV/AIDS, termasuk ke Perwakos (persatuan waria kota sby), GAYa Nusantara (perkumpulan para gay), LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender).

“Banyak banget pengalaman yang aku dapat selama bekerja, salah satunya mencoba melihat sesuatu melalui sudut pandang yang berbeda. Jadi pekerjaanku gak full atau part time. Kalau ada job baru kerja, kalau gak ada ya gak kerja. Alhamdullilah cukup untuk biaya kuliah sampai lulus.” Ungkap gadis yang mengangkat judul “Evaluasi tarif produk pelayanan rawat inap terhadap unit cost yang dihitung dengan metode Activity Based Costing (study di Paviliun Marwah, Sakinah dan Roudhoh Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan)” dalam tugas akhirnya.

Karena kesibukan bekerja itulah Nurul mengaku memanfaatkan toleransi jatah bolos 25% pada setiap mata kuliah dengan mengkonversinya menjadi kegiatan lain yang menghasilkan. Meskipun demikian Nurul selalu menerapkan prinsipnya yakni “Dimanapun berada kita harus bisa sukses” jadi dalam pekerjaan maupun dalam perkuliahan pun dia harus tetap bisa sukses. Oleh karena itu untuk mengejar ketinggalannya dalam kuliah, dia tidak pernah terlepas dari bantuan teman-teman sekitarnya, seperti meminjam catatan yang ketinggalan, dan informasi-informasi lainnya.

“Teman adalah hal yang paling berharga. Tanpa mereka aku bukan apa2. Itulah sebabnya waktu ku terbanyak kuhabiskan dengan mereka. Nilai tidak abadi, tapi persahabatan adalah hal yang abadi.”Tegas Nurul.

Nurul juga berbagi tips belajarnya meskipun disibukkan dengan bekerja dia masih mampu meraih IPK 3,89 selama masa kuliahnya. Dia menjelaskan bahwa dalam belajar itu tidak perlu menghafal, tetapi yang terpenting adalah memahami. Kalau memahami konsepnya, ditanya kapanpun dan dalam keadaan apapun pasti masih dapat menjawab dengan benar. Selain itu, belajar bukan untuk ujian dan mendapat nilai yang bagus, tetapi maknai bahwa pelajaran tersebut adalah ilmu yang akan bermanfaaat untuk kita sendiri.

“Anggaplah belajar itu ibarat main game. Kita harus punya strategi yang benar. Dalam belajar, aku tidak pernah berusaha menghapal. Aku hanya membaca dan memahami konsep dan menuliskannya dengan bahasaku sendiri.”Pangkas mantan ketua komisi I (Advokasi dan Aspirasi) BLM FKM UNAIR (2010-2011) ini.eNTe

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s