Minal ‘aidin Wal Faizin Bukan Berarti Minta Maaf!

Tak terasa bulan yang penuh berkah akan segera meninggalkan kita, sebagai gantinya, hari kemenangan akan tiba menghampiri kita. Seluruh umat muslim berbondong-bondong menyongsong hari kemenangan dengan berbagai persiapan. Mulai dari membenahi diri untuk menjadi pribadi baru yang lebih baik, menyiapkan segala persiapan rumah tangga, membeli baju baru, membuat jadwal pulang kampung, dan yang tak pernah ketinggalan adalah menyiapkan kartu ucapan “Selamat Lebaran”.

Berbagai macam kalimat ucapan “Selamat Lebaran” mulai masuk ke dalam inbox HP kita sejak malam takbiran sampai satu bulan penuh di Bulan Syawal. Kebiasaan mengucapkan kalimat ucapan “Selamat Lebaran”pun sudah mulai menjadi tradisi sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Dua kalimat ucapan selamat lebaran yang biasa digunakan sejak jaman para Sahabat Nabi dan kerap kita dengarkan hingga sekarang adalah:

1. Taqobalallaahu minnaa wa minkum yang artinya adalah semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian. Maksudnya adalah menerima amal ibadah kita semua selama bulan Ramadhan.

2.  Shiyamana wa shiyamakum yang artinya semoga juga puasaku dan kalian diterima.

Lalu bagaimana dengan kalimat: Minal ‘aidin wal faizin? yang juga sering kita dengar, dan kita lihat? Menurut Quraish Shihab dalam bukunya Lentera Hati, kalimat ini mengandung dua kata pokok: ‘aidin dan faizin (Ini penulisan yang benar menurut ejaan bahasa indonesia, bukan aidzin,aidhin atau faidzin,faidhin. Kalau dalam tulisan bahasa arab: من العاءدين و الفاءيزين )

Yang pertama sebenarnya sama akar katanya dengan ‘Id pada Idul Fitri.  ‘Id itu artinya kembali, maksudnya sesuatu yang kembali atau berulang, dalam hal ini “perayaan” yang datang setiap tahun. Sementara Al Fitr, artinya berbuka, maksudnya tidak lagi berpuasa selama sebulan penuh. Jadi, Idul Fitri berarti “hari raya berbuka” dan ‘aidin menunjukkan para pelakunya, yaitu orang-orang yang kembali. (Ada juga yang menghubungkan al Fitr dengan Fitrah atau kesucian, asal kejadian)

Yang kedua kata Faizin berasal dari kata fawz yang berarti kemenangan. Maka, faizin adalah orang-orang yang menang. Menang di sini berarti memperoleh keberuntungan berupa ridha, ampunan dan nikmat surga. Sementara kata min dalam minal menunjukkan bagian dari sesuatu.

Sebenarnya ada potongan kalimat yang semestinya ditambahkan di depan kalimat minal ‘aidin wal faizin ini, yaitu ja’alanallaahu (semoga Allah menjadikan kita). Jadi selengkapnya kalimat minal ‘aidin wal faizin bermakna (semoga Allah menjadikan kita) bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah).

Jadi, pada setiap Ucapan “Selamat Lebaran” yang biasanya berbunyi minal ‘aidin wal faizin meskipun diikuti dengan kalimat mohon maaf lahir batin, ia tidak mempunyai makna yang serupa. Bahkan sebenarnya merupakan tambahan doa untuk kita yang patut untuk diaminkan.

Kurang dan Lebihnya Wallahu a’lam bish-shawab. Dan Allah Mahatahu/lebih tahu yang benar/yang sebenarnya…

Oleh karena itu kepada semua rekan-rekan yang seiman dan seperjuangan, saya secara pribadi dan juga mewakili keluarga besar mengucapkan:

Selamat hari raya idul fitri 1433 H

Taqobalallaahu minnaa wa minkum

Shiyamana wa shiyamakum

minal ‘aidin wal faizin

Mohon maaf lahir dan batin… 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s