Fenomena Lautan Manusia di “Malam Selawe”

Salam hangat rekan-rekan…
Siapa yang belum tau “Malam Selawe” angkat Lappy….

Wah ternyata banyak juga ya,,, memang acara ini tidak sefamous konser Lady Gaga atau Justin Bieber :D, tapi jangan salah, pengunjng Malam Selawe gak kalah banyaknya sama penonton Konsernya Justin Biber.


Pengunjung yang berjubel mengalir sepanjang jalan Sunan Giri pada malam selawe.

Malam Selawe (25) adalah kegiatan tahunan, semacam bazar besar-besaran yang bertempat di sepanjang jalan Sunan Giri. Mulai dari perempatan kebomas sampai pertigaan Sekarkurung semua jalan di blokade pada sore hari tanggal 24 Romadhon, sampai subuh pagi tanggal 25 Romadhon untuk dijadikakn tempat menggelar acara Malam Selawe tersebut.

Entah dimulai darimana tradisi mengagendakan acara Malam Selawe tiap tahun ini. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin saja salah satu penyebabnya ada kaitannya dengan malam Lailatul Qodar, malam dimana diturunkannya Al-Qur’an dari Lauful Makhfud menuju ke Baitul Izza sebelum turun ke Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Lho kog bisa??

Yah, ini cuma asumsi saya sendiri sih, mungkin pada jaman dahulu kala, para warga Pegiren (Orang Giri.red) berbondong-bondong berburu tirakat tiap malam untuk menemuhi malam yang istimewa, malam seribu bulan atau setara dengan 83 tahun lebih 4 bulan.

Seperti yang kita ketahui, Nabi Muhammad SAW pernah memberikan klu dalam hadistnya, bahwa malam Lailatul Qodar akan turun di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Dan klu yang selanjutnya adalah malam Lailatul Qodar akan turun pada malam yang ganjil. Jadi dapat disimpulkan bahwa malam Lailatul Qodar akan turun di 10 hari terakhir yang ganjil, yakni malam 21, 23,25, 27 dan 29.

Dari sinilah mungkin orang Pegiren yang tiap malam ganjil tirakat, begadang ย untuk dapat menemui Malam Lailatul Qodar merupakan salah satu peluang bisnis bagi seseorang yang ahli dalam bidang wirausaha. Dengan memfasilitasi makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh orang pegiren yang begadang, akhirnya perlahan-lahan muncullah kios-kios kecil penjual makanan dan minuman yang semakin lama semakin menjamur. Dan seiring bergulirnya waktu, kebiasaan itu bergeser fungsi sehingga tidak hanya kios makanan dan minuman yang tumbuh, sehingga muncullah fenomena yang bernama Malam Selawe. Mungkin malam selawe diambil karena angka 25 merupakan angka median dari angka-angka ganjil dari sepuluh terakhir tersebut. Wallahua’lam ๐Ÿ˜€

Berbagai macam dagangan yang tersedia di acara Malam Selawe ini beragam, mulai dari baju lebaran, alat rumah tangga, mainan anak, makanan, minuman, sepatu, sandal, binatang (kelinci, ular, tikus, dll), cincin, jam tangan, dll semua tersedia. Pengunjungpun tak kalah beragam, tua muda, laki-laki perempuan, tinggi pendek, kurus gemuk, kaya miskin, berdatangan dari berbagai penjuru kota.

Tidak ada satu acara yang spesial, yang ada hanyalah kesibukan para penjual yang menjajakan dagangannya serta pembeli yang menawar harga semurah-murahnya di Malam Selawe ini.


Anak-anak yang bergembira ditengah lautan manusia di Malam Selawe

Nah,,, Sejak merantaunya saya di kota Surabaya 3 tahun yang lalu, baru tahun ini saya tidak ketinggalan ikut meramaikan acara Malam Selawe ini, tentunya bersama keluarga besar. :mrgreen: Kebetulan kampung rumah saya (Kawisanyar) menjadi jalur perdagangan Malam Selawe, jadi tinggal jalan kaki ยฑย 50 meter ย dari rumah saja sudah bisa menikmati pemandangan Malam Selawe tanpa harus bersusah payah naik motor atau lyn lagi.

Apalagi ditambah tahun ini hadir satu keluarga baru di rumah saya >> si kecil Fatir (Keponakan saya) umurnya baru 9 bulan. Dengan memakai baju tawon dan topi tawon yang saya belikan 2 minggu lalu di PGS (Pusat Grosir Surabaya)ย dia sudah stand by sejak sore dan siap untuk berjalan-jalan.


Si Kecil Fatir dan Bapaknya

Setelah magrib dan semua selesai berbuka puasa (kecuali saya), saya langsung capcus menggendong si Kecil Fatir, dan mengajaknya jalan-jalan. Eh setelah beberapa meter dan setelah membeli peci kecil ukuran anak-anak dan topi ABRI, dia malah sudah tidur terlelap dengan nyenyaknya..

Yah terpaksa pulang dah padahal baru pukul 20.15 WIB…ย ๐Ÿ˜ฆ

Setelah sampe rumah eh dia malah bangun lagi, yah sudah biar si Kecil diajakin kedua orang tuanya, dan saya jalan-jalan sendiri kembali menikmati pemandangan lautan manusia. Kalau tadi yang dilihat ย bareng-bareng sama mbak ipar adalah baju, gamis, krudung, kali ini setelah sendiriannsengaja saya menghampiri stand binatang binatang liar yang tadi belum sempet melihat (takut si kecil nangis). hehehe, bebas berekspresi, ๐Ÿ˜€


Ayo tebak ini binatang apa??


Kalau ini ular yang habis makan tikus putih

Setelah puas, akhirnya saya putuskan untuk kembali pulang, Eh tiba-tiba tanpa planning bisa ketemu adek kelas saya di Fakultas yang sedang beristirahat tepat didepan Gang kampung saya.


Ini adek kelas saya itu, namanya Romdon, dari Cirebon.

Katanya pusying melihat banyaknya kepala yang seliweran bak lautan Manusia tersebut, dan ini adalah pengalaman pertama dia datang ke acara Malam Selawe ini. Akhirnya saya pungut pulang dah, hehehe…

Setelah beristirahat dan ngadem, dia bertekat mau melanjutkan perjalanan mengikuti arus manusia di Malam Selawe yang kurang lebih mencapai 3 Km. start dari perempatan kebomas menuju ke Pertigaan Sekarkurung. Wow ๐Ÿ˜€ (saya yang orang pribumi aseli saja tidak pernah menempuh jarak sejauh itu selama Malam Selawe)

Iklan

12 thoughts on “Fenomena Lautan Manusia di “Malam Selawe”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s