Calon Suamiku

Hal yang paling saya sukai saat berkumpul dengan keluarga saya adalah saat senggang sambil nonton tipi (yang bener tipi nonton kita) saling berbagi cerita bersama, seperti saat ini. Kali ini yang paling mendominasi pembicaraan adalah Mas Hanip, kakak laki-laki tepat diatas saya. Dengan logatnya yang lucu dan gokil dia bercerita tentang percakapan di pabrik tempatnya bekerja:

(saat bosnya datang menghampiri para pegawai)

Anak buah A : “Bos, utang duite po’o bos”

Bos : “Utang opo, duet nak dompet wae kari seket ewu kog di utang pisan!”

Anak buah A : ” Halah bos, sing ndek dompet kari seket ewu, tapi sing nak ATM lak sik akeh seh bos,,, “

B0s : ” mbasio akeh, wong ATM ku lho sing nyekel bojoku! aku gak ngerti blas”

Anak buah A : ” Walah bos, kog cek melase, bojoku wae gak ngerti nek aku nduwe ATM”

Bos : ” Walah mbasio bojomu ngerti yo percuma, wong ATM yo gak tau onok isine kog!”

(Bos itu langsung ngelonyor pergi sambil menahan tawa, membiarkan para anak buahnya menertawakan si Anak buah A)

:mrgreen:

Dan masih banyak cerita lain yang membuat hangat suasana malam yang dingin dan sunyi ini,,,

Begitulah kakak saya, selalu “keren” dimata saya, dengan semangatnya yang membara, selalu menghadapi terjalnya jalan kehidupan ini dengan canda tawa riangnya yang khas.

Benar-benar beruntunglah seseorang yang akan mendapatkan kakak saya tersebut #promosi,,, :mrgreen:
Hingga saya sempat untuk berandai-andai mendapatkan seorang suami yang setipe dengan kakak saya tersebut.

Maka, tangan ini serasa gatal untuk membuat sebuah cerpen tentangnya, tentang kakak saya, dan tentang saya.

Monggo disimak ya,,, 😀

Calon Suamiku

Kini pemuda itu benar-benar telah berubah . Dibandingkan Tiga tahun yang lalu, ketika dia yang tak pernah bosan setiap hari mengirimiku SMS puisi, yang bagiku benar-benar indah dan romantis. Meskipun aku sadar bahwa puisi tersebut pasti bukan karangannya sendiri, aku kenal betul bagaimana seleranya terhadap puisi sangatlah buruk, tapi aku tetap menikmati tiap bait puisi dalam inboxku dan senantiasa aku salin kembali ke buku dengan sampul biru laut yang memang aku khususkan untuk kumpulan puisi yang ia kirimkan padaku dan aku yakin bahwa puisi tersebut mewakili perasaan dan isi hatinya, yang kini masih sering aku buka untuk sekedar  mengingatnya kembali.

Tapi kini pemuda itu benar-benar telah dewasa, lebih memilih apa yang menurutnya paling benar. Dia memutuskan pada usianya yang ke 22 tahun untuk menempuh tahun pertama sebagai mahasiswa baru S1 dengan jurusan Bahasa Inggris disalah satu Universitas swasta di Gresik dengan semangat yang benar-benar membara untuk bisa merubah strata dan derajat keluarganya. Meskipun orang tuanya yang hanya mengais rezeki dari jualan tempe mentah yang mereka buat sendiri dan dijual keliling oleh sang bapak, tapi ia telah bersumpah untuk tidak akan meminta uang sepeserpun kepada mereka dalam menempuh pendidikannya.

Bahkan dengan kerja keras dari pekerjaannya sebagai tim karyawan mekanik, disalah satu pabrik penghasil tower, upah yang selain digunakan untuk membiayai pendidikan, juga dia sisihkan untuk menutupi kebutuhan dapur dan sekolah kedua adiknya. Benar-benar berubah dari dia yang dulu hanya memakai upah bulanannya untuk memenuhi keinginan-keinginannya yang harus segera dipenuhi. Entah itu berupa DVD player baru, gonta-ganti HP baru, mengganti pelk motor Supra Fitnya dengan pelk bintang, dan yang tak pernah luput dia juga sering membelikanku hadiah-hadiah yang dapat menyenangkan hatiku meskipun aku tidak pernah memintanya sehingga membuat aku semakin jatuh hati dengannya.

Karena pekerjaan yang menuntutnya bekerja mulai jam 8.00 WIB sampai jam 16.00 WIB untuk hari aktif (Senin sampai Jum’at), sehingga ia harus mengambil kelas kuliah sore yang memang disediakan oleh Universitas bagi para mahasiswa yang bekerja. Tapi kelas sore yang dimulai jam 16.00 WIB-18.00 WIB sedangkan jam 16.00 WIB dia baru keluar dari pabrik membuat dia sering telat. Meskipun ada beberapa dosen tertentu yang memperbolehkan masuk untuk mengikuti pelajaran pertama, tapi tak jarang dia tidak diperbolehkan masuk mengikuti pelajaran pada jam pelajaran pertama karena telat lebih dari 15 menit.

Dia memikirkan berbagai cara untuk bisa mengikkuti pelajaran dengan efektif. Mulai dari ijin pulang lebih awal ke pihak perusahaanya tetapi ia tidak pernah mendapatkan tolelir dari pihak perusahaan, “masih banyak pengangguran yang menginginkan posisi atau pekerjaanmu sekarang jadi kalau memang kamu tidak serius dan hanya main-main, mendingan kamu mengundurkan diri saja, toh perusahaan gak bakal kesulitan mencari karyawan baru yang lebih berkompeten dari pada kamu” kata Pak Yosep, direktur perusahaanya.

Diapun bernegosiasi dengan tiap dosen pada matakuliah jam pertama. Yang namanya dosen pasti pemikirannya berbeda-beda, dari beberapa dosen ada yang mengizinkannya masuk dan memberikannya dispensasi dengan syarat dia menerima tugas membuat paper berupa artikel tiap pertemuan, ada yang menyuruh untuk mengumpulkan resume catatan pelajaran tiap pertemuannya, dan ada yang bebas tanpa syarat. Tinggal satu dosen yang benar-benar tidak mengizinkan dia masuk, dan juga tidak memperbolehkan dia mengikuti ujian padahal mata kuliah dosen tersebut adalah matakuliah wajib. Otomatis dia mulai  sedikit kehilangan semangatnya karena meskipun ngulang tahun depan pun dia tetap tidak akan bisa mengikuti pelajarannya. Dia sekarang hanya bisa pasrah dan yakin bahwa Allah selalu mengirimkan malaikatnya untuk mengepakkan sayapnya dijalan orang-orang yang menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh.

Hari-harinya kini disibukkan dengan bekerja dari pagi sampai sore, kuliah dari sore sampai maghrib, dan dari maghrib sampai malam selalu dia habiskan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya dan belajar, tak jarang sampai larut malam atau bahkan sampai begadang hanya gara-gara tugasnya yang menumpuk tanpa tolelir dan paginya dia harus tetap bekerja seperti biasa. Begitu setiap hari jadwalnya yang selalu ia jalankan tanpa pernah mengeluh atau terlihat lelah sedikitpun. Bahkan tiap pagi setelah sholat subuh berjama’ah dan mengaji dia selalu membantu orang tuanya untuk mengepack tempe yang akan dikelilingkan oleh bapaknya.

Berbeda untuk hari sabtu dan minggu karena kuliahnya libur, tapi pada hari sabtu kerjaannya masih tetap aktif meskipun hanya sampai jam 2 siang dan baru bisa tidur siang. Tapi sabtu malam dia  yang dulu dengan rutinnya selalu menemuiku, entah hanya sekedar bercakap-cakap diteras rumahku sampai larut malam, atau terkadang juga pergi keluar yang pastinya dengan seijin ayahku terlebih dahulu, dan meskipun satu-satunya tujuan kita adalah pergi ke Alun-alun kota untuk membeli jagung bakar dan kita makan bersama-sama sambil menikmati pemandangan yang ada. Kini dia selalu pergi untuk mengaji kitab-kitab seperti Fathul Qorib, Fathul Mu’in. Nashoikhul Ibad, Ubudiyah, al-Adzkar, dll yang rutin selalu dia ikuti di Pondok pesantren dekat rumahnya setiap malam minggu.

Dan hanya hari minggu, hari dimana dia bisa istirahat, bertemu dengan teman-teman SMAnya dulu yang benar-benar akrab untuk kumpul sambil ngobrol-ngobrol di warung kopi, pergi jogging pagi, atau jalan-jalan ke Surabaya untuk melepaskan penatnya. Terkadang juga dia pergunakan hari minggu untuk lembur agar mendapatkan upah lebih. Sungguh berbeda dengan dia yang aku kenal dulu, yang telihat kurang bisa menghargai waktunya.

Dari perubahannya yang drastis itu aku semakin menaruh harapan dan kagum padanya. Mungkin dialah sosok yang aku cari sebagai pendamping hidupku selama ini. Meskipun kini diantara kita tidak ada lagi hubungan apapun, karena dia telah memilih untuk berpisah dan memilih hidupnya yang kini telah ia perjuangkan. Tapi aku benar-benar sangat berharap kepadaMu ya Robb, “jikalau Engkau memang menakdirkan aku untuk menikah, maka keinginanku hanyalah menikah dengannya”.

Iklan

16 thoughts on “Calon Suamiku

    • hehehe,,
      iya2 maap pake bahasa jawa,,
      bingung soalnya yang mau nransletin ke bahasa indo, takut gak cocok, 😀
      intinya itu anak buahnya mau minta utang ke bosnya, trus bosnya bilang kalau gak punya uang, n ATMnya yg pegang istrinya,
      anak buahnya jadi ngeledekin bosnya, kog kasihan banget, sambil bilang kalo istri anak buahnya itu aja gak pernah tau kalau suaminya punya ATM
      eh bos nya malah ngeledekin si anak buah percuma saja istri anak buah itu tau, toh ATMnya gak pernah ada isinya, hehehe
      #pusing ya?? :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s