Tinggalkan Sistem SKS Menjadi Sistem Schedule


“Tidak menyangka bisa menjadi wisudawan terbaik FKM karena awalnya hanya ingin mengejar target lulus Juli. Tiba-tiba diberi tahu teman kalo jadi wisudawan terbaik.” ungkap Putu Desi Ariani dengan berbunga-bunga.

Desi bercerita bahwa semula cara belajar yang dianutnya hampir sama dengan kebanyakan mahasiswa lain yaitu sistem SKS (Sistem Kebut Semalam), baru belajar ketika mau menghadapi ujian saja. Sistem itu dianut Desi ketika  awal-awal  kuliah, namun dia merasa susah sekali mencerna pelajaran yang diperoleh selama kuliah dengan sistem tersebut. Oleh karena itu, mulai semester 4 Desi merubah system belajarnya menjadi system schedule, setiap hari Desi harus belajar apa dan sampai mana pelajaran yang telah diperolehnya.

Selain sistem belajar, Desi memiliki motivasi yang membuatnya berhasil meraih IPK 3,86 selama studinya yakni perjuangan dari kedua orang tuanya.

“Saya melihat begitu besar pengorbanan orang tua saya yang selalu mengusahakan hal  yang terbaik untuk anaknya terutama masalah pendidikan sehingga saya merasa saya harus bisa membuat mereka bangga dan senang, meskipun belum bisa membalas secara materi setidaknya keberhasilan masa sekolah saya merupakan bukti bahwa saya bersungguh-sungguh.” tutur gadis yang mempunyai motto hidup Always try from zero to hero ini panjang lebar.

Desi lulus sebagai Sarjana Kesehatan Masyarakat dengan Judul Skripsi Analisis Hubungan dan Besar Resiko Antara Pengetahuan, Sikap, dengan Tindakan Bersarkan Indikator Surveilans Perilaku HIV/AIDS Pada WPS (Wanita Pekerja Seksual). “Topik skripsi ini sebenarnya berasal dari dosen pembimbing saya, jadi saya sangat berterima kasih kepada beliau bapak Arief Hargono., drg., M.Kes.”ungkap gadis yang pernah menjabat sebagai ketua II UKMKHD (Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Hindu Darma) ini.

Skripsi yang membahas tentang perilaku para WPS di daerah Dolly dan Jarak terhadap HIV/AIDS ini harapannya dapat mengurangi penyebaran virus HIV/AIDS pada para WPS karena sebagian besar virus HIV/AIDS itu ditularkan melalui perilaku khusus mereka yaitu dari hubungan seks yang sering bergantian tanpa menggunakan kondom.

Hasil penelitian gadis kelahiran 4 desember 1989 ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan tindakan mereka tentang HIV/AIDS masih rendah meskipun sikapnya baik, hal ini tentu saja harus diwaspadai karena risiko mereka untuk terkena HIV/AIDS cukup tinggi. Jika mereka terkena HIV/AIDS dan masih berjualan seks pasti mereka akan menularkan ke orang lain apalagi 1 hari tamunya ada 3-5 orang.

Harapan Desi setelah selesai penelitian yang telah dilakukan ini adalah instansi-instansi yang terkait bisa melakukan monitoring perilaku HIV/AIDS pada WPS sehingga bisa didapatkan gambaran tentang metode atau solusi yang harus dilakukan untuk pencegahan terjadinya penularan virus HIV/AIDS secara masal.eNTe

Iklan

2 thoughts on “Tinggalkan Sistem SKS Menjadi Sistem Schedule

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s