Pertemuan Dengan Sang Kekasih

Bagi seorang muslim salah satu ibadah wajib yang selalu kita lakukan setiap hari adalah sholat. Melaksanakan ibadah shalat harus diawali dengan sebuah pengetahuan tentang hal – hal yang menyertainya. Pengetahuan yang mendalam tentang syarat dan rukun sholat (termasuk adab lahir maupun batin) menjadi hal mutlak, bila ingin mengarungi samudera shalat. Karena amal yang sedikit jika dibarengi ilmu pengetahuan akan lebih baik daripada amal banyak tetapi penuh dengan kebodohan. Dalam hadis disebutkan:

“Kelebihan seorang alim  (ilmuwan) terhadap seorang abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang.” (HR. Abu Dawud)

Wudhu merupakan tahap pendahuluan dalam proses “penyucian yang agung” dengan menggunakan “air yang merupakan rahasia kehidupan dan hidup itu sendiri” laksana proses penyucian yang dilakukan oleh malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW, dengan menggunakan air suci “zamzam” beliau membelah dada Rasul hingga hilang segala hasud dan dengki, bahkan terisi dengan berbagai ilmu, iman dan hikmah. Proses penyucian dalam wudhu tak sekedar siraman air yang tanpa makna, namun hakikatnya melebihi dari ritualnya itu sendiri, karena wudhu yang sebenarnya merupakan proses pembersihan jiwa dari segala noda dan cela yang kita lakukan, nafsu – nafsu dunia yang telah memperalat tangan,
wajah, kepala dan kaki kita.

Setelah bersih dari segala noda barulah kita diperbolehkan  menghadiri sebuah undangan suci pertemuan yang maha agung dari segala keagungan (Adzan).

Sebagai hamba suci hati bergejolak untuk mendatangi panggilan undangan tersebut, sekalipun dengan “merangkak” karena begitu menggelora keinginan rindunya, untuk mendatangi pertemuan dengan Sang Kekasih (Sang Kholiq).

Dengan berpakaian “tawadhu” dan membuang pakaian-pakaian “kesombongan” hambapun tertatih–tatih melangkah ke halaman tempat pertemuan dengan penuh kegelisahan akan tertolaknya penghadapannya dan rasa malu yang begitu tinggi, atas ditutupinya keburukan–keburukan perangai dan tindak lakunya, dengan pakaian “hijab malakut” oleh Sang Kekasih, sehingga orang lain tidak mengetahui kejelekannya.

Kemudian, ditengah keputusasaan dan harapan akan rakhmat dan kasih sayang yang begitu agung dari Sang Kekasih, hamba mulai berdiri dengan lurus, menghadapkan wajahnya kepada Sang Kekasih dan menutup semua kekerdilan–kekerdilan dibelakangnya, hanya satu menatap Sang Maha Agung dari Segala Keagungan Yang Ada, hingga terbukalah pintu pertama saat lisan terbata–bata berucap, “Allahu Akbar (Allah Maha Besar)”. Hamba melangkah dengan penuh rasa malu, dan tawadhu karena melihat keagungan yang belum pernah tergambarkan oleh dirinya.

Hambapun terus menerus memuji–muji Sang Kekasih, karena telah memberi “perkenan-Nya” untuk masuk, karena sesungguhnya “tanpa perkenan-Nya” hamba termasuk golongan setan yang terkutuk. Hambapun tersungkur jatuh tak tersadarkan diri, karena begitu ngeri yang tanpa batas melihat kengerian di hari “yaumid diin”, kemudian Sang Kekasihpun melimpahkan “limpahan rakhmat-Nya” hingga hamba diberi kemampuan untuk memohon supaya digolongkan ke dalam “orang-orang yang beruntung dan bukan golongan orang – orang yang sesat”

Demikianlah, hamba terus melangkah dan melangkah sampai “mendengar dan menyaksikan” semua sujud dan tasbihnya semua makhluk di langit dan bumi hingga hambapun terjatuh dan terjatuh lagi karena tidak sanggup melihat keagungan dan keluasan yang hamba saksikan.

Disadur dari As-sholah perjalanan Menuju Allah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s