Rekonstruksi Koperasi untuk kemajuan Indonesia

Sistem ekonomi liberal mulai dilaksanakan setelah pemerintah kolonial Belanda menghentikan pelaksanaan “Cultuur Stelseel (sistem tanam paksa) pada masa penjajahan. Sejak saat itu para penanam modal/usahawan Belanda berlomba menginvestasikan dananya ke Hindia Belanda (nama Indonesia ketika masih dijajah Belanda). Bangsa Belanda melakukan praktik penindasan, pemerasan dan pemerkosaan hak tanpa prikemanusiaan, sehingga kemudian kehidupan sebagian besar rakyat di bawah batas kelayakan hidup.

Sementara para pengijon dan lintah darat memanfatkan kesempatan dan keadaan mereka sehingga makin banyak yang terjepit hutang yang mencekik leher. Dari keadaan itulah timbul keinginan untuk membebaskan kesengsaraan rakyat dengan membentuk koperasi. Koperasi yang diperkenalkan pertama kali di Indonesia oleh R. Aria Wiriatmadja di Purwokerto, Jawa Tengah pada tahun 1896 berupa koperasi kredit, dengan tujuan membantu rakyatnya yang terjerat hutang dengan rentenir.

Koperasi tersebut lalu berkembang pesat dan akhirnya ditiru oleh Boedi Oetomo yang atas jasa beliaulah sehingga sektor perkoperasian ini dimanfaatkan para kaum pergerakan nasional untuk mengusir para penjajah keluar Indonesia hingga mencapai kemerdekaan. Sehingga pada bulan Juli 1953 diadakan kongres koperasi ke II di Bandung yang mengangkat Boedi Oetomo sebagi bapak Koperasi Indonesia.

***

Pada masa awal Indonesia merdeka, dibawah kepemimpinan Soekarno, perekonomian Indonesia mengalami krisis moneter. Krisis ini terjadi akibat kebijakan dari presiden Soekarno yang mengandalkan sistem perekonomian dengan cara meningkatkan peredaran uang sebesar-besarnya sehingga mengakibatkan inflasi penurunan nilai uang dan diiringi dengan semakin meningkatnya harga barang.

Berbeda dengan system perekonomian yang dipakai oleh presiden Soeharto, beliau berani menanggung resiko dengan cara “ngutang” sebesar-besarnya kepada berbagai pihak, mulai dari negara-negara yang berkembang sampai badan IMF (International Monetary Fund) dalam mengatasi masalah perekonomian yang terjadi pada masa kepemimpinan Soekarno. Dengan system ini peredaran uang di Indonesia semakin berkurang dan diikuti dengan penurunan harga barang, perekonomian di Indonesia pun stabil kembali. Oleh karena itu pak Soeharto dijuluki sebagai bapak pembangunan dan mampu bertahan menjabat sebagai presiden selama 32 tahun. Tetapi pada akhir kepengurusannya perekonomian Indonesia kembali mengalami krisis moneter untuk yang kedua kalinya yang dikarenakan perbedaan kurs mata uang rupiah dengan dolar yang sangat tinggi pada saat itu $1 nilainya hampir sama dengan  Rp 11.000,-. Hal ini disebabkan karena perekonomian di Indonesia sama sekali tidak mengalami kemajuan, hanya saja dari solusi yang diberikan oleh pak Soeharto dengan hutang kepada luar negri itu hanya untuk menutupi krisis yang sebelumnya dan semakin memperburuk keadaan dengan hutang yang menumpuk dan sampai sekarang masih belum bisa terlunasi.

Sejak saat itu perekonomian Indonesia mengalami kemunduran, dari kepemimpinan presiden oleh Pak Habiebie dan dilanjutkan oleh Gus Dur, perekonomian Indonesia masih belum mampu diperbaiki. Bahkan masyarakat semakin dibayang-bayangi dengan hutang luar negeri yang semakin menjerat perkembangan perekonomian di Indonesia.

Baru ketika Megawati mulai menjabat menjadi presiden, perekonomian Indonesia sedikit mengalami kemajuan dengan sistem Kabinet Gotong Royongnya. Dengan menjual beberapa kekayaan Indonesia seperti PT. Freeport yang ada di Jayapura. Meski menuai banyak Pro Kontra dari berbagai pihak, tetapi dari tindakan tersebut hutang Indonesia mulai sedikit berkurang. Selain itu presiden Megawati  juga melakukan penekanan terhadap Koperasi dan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), tingkat inflasipun mulai menurun.

Selama dua kali masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudoyono (SBY) ini, Perekonomian Indonesia kembali sedikit mengalami kemunduran dibandingkan pada saat sebelumnya. harga barang-barang pokok semakin mahal, kurs dolar meningkat, bahkan perekonomian Indonesia di bandingkan dengan Negara-negara lainpun masih kalah jauh, dan yang paling terlihat adalah banyaknya ketimpangan yang terjadi dikalangan masyarakat. Dimana masyarakat yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Bahkan pembagian daerah perekonomianpun kurang merata. Seperti daerah yang tingkat industri dan perekonomian tinggi masih terfokus pada daerah-daerah tertentu, tetapi di daerah pelosok banyak masyarakat menengah kebawah yang system perekonomiannya masih belum terpantau dan terjamah oleh pemerintahan. Berbagai cara telah dilakukan oleh Presiden SBY, seperti salah satunya dengan pembagian BLT (Bantuan Langsung Tunai), yang sedikit bisa mengurangi penderitaan masyarakat menengah kebawah. Hanya saja masyarakat menengah kebawah masih belum merasakan dampak jangka panjangnya jika hanya menerima uang mentahannya saja yang hanya bisa digunakan untuk kebutuhan makan untuk beberapa hari atau menutupi beberapa hutangnya saja.

***

Dari berbagai siklus perekonomian yang terjadi di Indonesia sampai saat ini yang kita rasakan bersama, seharusnya kita bisa mengambil hikmah betapa besarnya jasa sebuah koperasi yang mampu merubah perekonomian Indonesia. Mulai dari sebelum Indonesia merdeka sampai Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaannya. Profil koperasi yang sangat berbeda dengan model-model ekonomi kapitalistik yang semata-mata mengutamakan keuntungan ini mampu memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Total Koperasi Indonesia yang tersebar di seluruh Indonesia sebanyak 149.793 Koperasi, jumlah yang tidak sedikit. Secara Jumlah Koperasi Indonesia memang cukup fenomenal tetapi secara kualitas masih jauh dibawah usaha2 kapitalis. Bahkan dari hasil klasifikasi jumlah Koperasi Indonesia berkualitas di tahun 2008 hanya sebanyak 42.267 Koperasi.

Seandainya saja Koperasi yang berada dibawah naungan Kemenkop UKM ini mampu untuk diberdayagunakan dan tersebar merata diberbagai pelosok, mulai dari koperasi desa sampai koperasi simpan pinjam. Maka tidak menutup kemungkinan perekonomian di Indonesia akan mampu bersaing diranah internasional.

Dengan sistem yang sedikit dibenahi dan dengan kerja keras dari berbagai segmen yang berkompeten yang mau berkorban untuk turut serta mengembangkan koperasi di pelosok-pelosok negri tidak akan ada lagi kata krisis yang akan menghantui negri ini. Contohnya saja jika kita menengok ke PT. PLN yang mampu menerangi Negara kita tercinta ini sampai pelosok dengan arus listriknya, kenapa tidak koperasi mampu menerangi perekonomian sampai ke daerah-daerah pelosok?

Iklan

4 thoughts on “Rekonstruksi Koperasi untuk kemajuan Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s