Indonesiaku Sayang, Mahasiswamu Berjuang

Tahun  2012 ini, The Times Higher Education  Suplement telah memilih 200 universitas terhebat di dunia. Sepuluh terhebat adalah California Institute of Technology, Harvard University. Stanford University, University of Oxford, Princeton University, University of Cambridge, Massachusetts Institute of Technology, Imperial College London, University of Chicago, University of California Berkeley.

Yang mengagumkan adalah masuknya universitas tetangga terdekat kita, yaitu National University of Singapore dengan urutan ke-40, dan Nanyang Technological University dengan urutan ke-169. Urutan tersebut diperoleh dari skor yang diperoleh dalam beberapa hal, yaitu penilaian oleh sejawat (peer reviewing), jumlah dosen asing, jumlah mahasiswa asing, rasio dosen-mahasiswa, dan citation yakni karya tulis dosen yang dikutip di forum dunia. Kelima hal ini mencerminkan keunggulan dalam pengajaran, penelitian dan reputasi internasional.

Perguruan tinggi negara kita tidak mampu memasuki peringkat tersebut meskipun penduduknya menenpati urutan terbesar keempat. Salah satu penyebabnya adalah karena jumlah karya ilmiah dari Perguruan Tinggi Indonesia secara total masih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, hanya sekitar sepertujuh. Hal inilah yang menjadi salah satu bidikan para pejabat Dikti Mendikbud saat ini untuk meningkatkannya. Sehubungan dengan itu terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012 akan diberlukan ketentuan yang mewajibkan para sarjana harus menghasilkan makalah yang terbit di jurnal ilmiah sebagai persyaratan lulus. Suatu gebrakan yang membuat heboh para penuntut ilmu program sarjana.

Selain itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh menyampaikan bahwa kewajiban publikasi ilmiah sebagai syarat lulus S1 itu juga sangat perlu untuk memicu peningkatan kualitas akademis. Tapi apakah hal tersebut semudah membalikkan telapak tangan? Semua membutuhkan proses. Suatu proses yang panjang yang akan mampu menghasilkan suatu produk yang diinginkan.

Para mahasiswa program sarjana tidak seharusnya diwajibkan membuat jurnal yang harus dipublikasikan. Karena program sarjana hanyalah belajar untuk menjadi seorang peneliti, bukan sebagai peneliti yang sesungguhnya. Apalagi dengan fasilitas untuk mengembangkan diri dan meng up-grade kemampuan yang serba terbatas karena dianggap enteng dan kurang penting, tidak sepenting stadion olah raga, atau laboratorium mikrobiologi. Sulit sekali mendapatkan jurnal-jurnal ilmiah yang gratis. Padahal dalam menciptakan karya tulis bukan hanya aspek kuantitas yang harus ditinjau, tetapi kualitasnya.

Yang seharusnya diwajibkan untuk produktif dalam menghasilkan karya tulis ilmiah dan mampu dipublikasikan adalah Dosen. Salah satu kewajiban seorang dosen selain mengajar adalah meneliti. Dan dari penelitian itulah para dosen harusnya membudayakan menulis laporan ilmiahnya dalam bentuk karya tulis.

Pemerintah seharusnya mereview ulang, sasaran yang harus dituju untuk meningkatkan jumlah karya tulis ilmiah negara Indonesia. Seandainya setiap dosen yang ada di Indonesia produktif dalam menghasilkan karya tulis ilmiah. Indonesia tidak akan bernah kalah dengan negara Malaysia maupun Singapura. Bukankah dosen di Indonesia lebih banyak dibandingkan dosen di negara Malaysia dan Singapura??

#Referensi: Alwasilah, A. Chaedar, 2007, POKOKNYA MENULIS, kiblat, Bandung

Iklan

12 thoughts on “Indonesiaku Sayang, Mahasiswamu Berjuang

  1. Ping-balik: Sebuah Kisah Klasik Dan Masa Depan | Gandi Fauzi

  2. Kakak,, #eh, 😛
    Peraturan itu sudah direvisi, untuk nembus jurnal ilmiah itu sangat sulit, dosen pun belum tentu bisa, dan jurnal ilmiah di Indonesia itu masih minim.

    Kalau gak salah peraturan barunya, mahasiswa diwajibkan meng-upload ke online, cukup itu saja, ga harus ke Jurnal ilmiah… 🙂

    tapi yo podo ae ribet, 😆

  3. ha? mahasiswa suruh bikin jurnal ilmiah? ya setau saya memang yang harus wajib itu dosen. tingkatan s1 menurut saya tingkatannya bukan bikin jurnal, tapi lebih ke belajar dari jurnal jurnal ilmiah yang ada.
    hadu.. skirpsi aja yang dari jurnal ilmiah aja susah, apalagi bikin jurnal ilmiah,,, bukannya saya pesimis tapi emang gak masuk akal aja mahasiswa s1 bikin jurnal ilmiah sementara juga banyak tekanan agar cepat lulus dari berbagai pihak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s