Mentari, Awan, dan Bunga…

Mentari,
Sinarmu menghangatkanku,
Menghangatkan dinginnya udara pagi,
Memberikan kehidupan bagiku,
Membuat indah mahkotaku,

Mekar,
Membuat segar mata yang memandang,
Memberi arti dalam hidup,
Hari-hari berlalu tanpa rasa jemu,
Berharap kau kan selalu bersinar

Detik ini,
Mengapa aku tak mampu,
Tak mampu merasakan hangatnya sinarmu,
Mungkinkah kini kau mulai bosan?
Bosan membagikan hangatnya sinarmu untukku?

Asal kau tau,
Aku takkan pernah bosan menerima kehangatanmu,
Meskipun terkadang sinarmu tak terasa hangat lagi,
Atau bahkan membakar kelopakku,
Haruskah aku berhenti berharap,
Dan membiarkan tubuhku ini layu,
Kering tak berkembang,
Lapuk terkena angin,

Ragu,
Keraguan itu tak beralas,
Akankah aku terus memelihara,
Keraguan yang absurd,
Naïf bila aku mempercayainya,

Sadar,
Aku baru sadar,
Kau takkan pernah berhenti,
Berhenti membagikan sinarmu untukku,
Karna kau telah memegang janjimu,
Janji untuk selalu menyinariku,

Awan,
Hanya awan gelaplah yang berusaha menghalangi,
Menghalangi pancaran sinarmu untukku,
Dan membuatku sadar
Sadar akan arti penting sebuah janji.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s