Stop TB Partnership dalam Millenium Development Goals dengan Adjuvan GEM (Gram-positive Enhancer Matrix)

Perkembangan dalam dunia kesehatan sangat berpengaruh terhadap tingkat kesehatan dan kehidupan masyarakat disuatu negara. Semakin tinggi tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dalam dunia kesehatan suatu negara, akan semakin tinggi kualitas hidup masyarakatnya. Begitu pula sebaliknya, tingkat perkembangan ilmu pengetahuan yang rendah akan berpengaruh pada kondisi masyarakatnya.

Sebagai negara yang berkembang, Indonesia ikut berupaya meningkatkan  perkembangan dunia kesehatan dengan menggalakkan program Stop TB Partnership dalam Milenium Development Goals (MDG’s). Yang menjadi konsentrasinya adalah pencegahan terhadap penyakit Tuberkulosis. Hal ini dikarenakan  lebih dari setengah juta penduduk Indonesia setiap tahunnya masih berpotensi terinfeksi penyakit Tuberkulosis.

Melalui lomba karya tulis ilmiah (LKTI) yang diadakan oleh Dinkes UPT RS Paru Jember dalam rangka memperingati “Hari Tuberkulosis Sedunia” tanggal 24 Maret 2012, tiga mahasiswa Farmasi UNAIR ikut berpartisipasi menuangkan gagasannya sebagai terobosan baru di dunia kesehatan untuk pencegahan wabah penyakit Tuberkulosis. Mereka bertiga adalah Arannya Puspita D, Anindi Lupita Nasyanka, dan Citrina Rakhmaningrum.

Pada LKTI ini, mereka menulis karya tulis yang berjudul “GEM (Gram-Positive Enhancer Matrix) Lactococcus lactis sebagai Adjuvan Antigen Mycobacterium tuberculosis untuk Pengembangan Vaksin Tuberkulosis Peroral”. Karya tulis ini dibimbing langsung oleh Bapak Drs. Achmad Toto Purnomo, M.Si., Apt..

Karya tulis yang bertujuan untuk membuktikan bahwa teknologi GEM Lactococcus lactis dengan antigen Mycobacterium tuberculosis ini dapat menjadi alternatif vaksin tuberkulosis per-oral yang efektif, aman, dan nyaman digunakan jika dibandingkan dengan vaksin yang sebelumnya dilakukan dengan melalui rute parental (dengan jarum suntik). Vaksin dengan rute parenteral beresiko tidak aman karena dapat melukai kulit yang merupakan salah satu bagian dari pertahanan tubuh. Idealnya, vaksin haruslah mudah pemberiannya, tidak disuntikkan (karena menyakitkan), aman, memiliki daya lindung yang tinggi, tanpa efek samping, dan pemberiannya bisa sekali untuk seluruh penyakit.

Berdasarkan asas penelitian yang diterapkan di Fakultas Farmasi yakni Stabil, aman, efektif, acceptable, penggunaan GEM Lactococcus lactis sebagai adjuvan vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guérin) dengan teknologi Antigen Delivery System (ADS) yang merupakan pengembangan dari vaksin tuberkulosis ini lebih unggul dari segi kemudahan penggunaan, efektifitas terapi, kestabilan dan kemudahan penyimpanan.

Gagasan pengembangan GEM Lactococcus lactis sebagai adjuvan antigen Mycobacterium tuberculosis ini dapat dikembangkan di Indonesia. Hal ini dapat berlangsung jika terjalin komitmen antara pemerintah dan tenaga kesehatan yang bersangkutan terhadap pentingnya gagasan ini.

“Penelitian ini akan dilanjutkan kalau ada yang mensponsori dananya, karena untuk penelitihan seperti ini membutuhkan kurang lebih 10 tahun sampai berhasil membuat vaksin yang siap disebarkan ke masyarakat” ungkap Nindi

Karya tulis yang mereka buat disela-sela kesibukan kuliah dan organisasi ini membawa mereka bertiga berhasil menggondol Juara 1 LKTI tingkat nasional tersebut. Mereka mengaku bahwa menulis karya tulis adalah hobi mereka bertiga. Terbukti, selama menjadi mahasiswa Farmasi angkatan 2009, mereka telah mengantongi berbagai penghargaan dari penulisan karya tulis ilmiah. Salah satu contoh, Juara III PKM-GT Segitiga Emas pernah diraih oleh Nindi dengan karya ilmiahnya yang berjudul “Potensi Bromelain dalam Ekstrak Nanas (Ananas comusus) sebagai Immunomodulator Alternatif Terapi Pengobatan untuk Kanker Payudara”.

“Ketika kita menemui suatu fenomena baru, kita sangat tertarik dengan hal baru tersebut. Dan dengan latar belakang keilmuan yang kita punya, ada keinginan untuk memberikan kontribusi yang bisa kita tawarkan sebagai solusi untuk fenomena baru tersebut. ketika kita bikin karya tulis seperti ini, rasa curiosity kita akan membuat wawasan kita akan semakin berkembang. Jadi membuat karya ilmiah itu sesuatu yang menarik.” Ungkap Citrin panjang lebar.eNTe

Nb: Untuk Info yang lebih komplit monggo dibuka di Warta Online

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s