Pemuda Tanpa Harapan

Pagi ini aku jalani hidup seperti biasanya, sarapan pagi dengan nasi sisa kemarin malam, kemudian berangkat ke sekolah dengan bekal Lima lembar kertas HVS bekas foto copyan yang rusak, yang aku lipat dan aku masukkan di saku belakang celana, barangkali ada sedikit hal yang perlu dicatat, Serta satu buah pena kesayangan yang aku selipkan di saku baju seragamku yang bagian belakangnya sedikit keluar, tanpa membawa tas, banyak orang berkata aku terlihat seperti seorang preman dan tidak pernah berniat untuk sekolah. MA Masyhudiyah, itu nama sekolahku, mungkin  sekolah ini adalah satu-satunya sekolahan yang aku kenal seumur hidupku. Karena disinilah aku bersekolah mulai dari MI, MTs, sampai MA saat ini.

Menurutku tuduhan orang-orang yang mengatakan bahwa aku tidak punya niat untuk bersekolah disini itu salah besar. Seandainya aku benar-benar tidak berniat sekolah disini, pasti dari dulu aku sudah tidak berada di bangku kesayanganku saat ini. Bangku yang berada di pojokan kelas paling belakang, aku memang suka duduk di bangku ini karena berada di bangku ini aku merasa sangat nyaman mengikuti pelajaran demi pelajaran, tanpa dilihat dan disoroti oleh teman-teman sekelasku yang mayoritas berpemikiran kolot. Selalu memandang orang hanya dari segi fisiknya saja dan merasa terganggu dengan kehadiran seseorang yang menurut mereka aneh sepetiku dengan seluruh jemari tanganku yang tidak berkembang dengan normal ini, yang selalu mereka soroti dengan wajah khas mereka yang terkesan risih akan kehadiran seorang yang cacat sepertiku.

Benar-benar tertekan berada di lingkungan sekolahan seperti ini, tapi satu-satunya hal yang membuatku masih betah berada di sekolahan ini adalah keinginan ibuku yang besar melihatku bisa bersekolah. Karena aku selalu ingat saat ibuku dengan tongkat kayunya yang sudah tidak layak pakai lagi, ditambah bagian bawahnya yang kropos karena terlalu lama dipakai itu menaiki gunung menuju sekolahanku yang memang terletak di atas bukit, untuk menemui kepala sekolahku dan selalu memohon untuk tetap menerimaku sebagai muridnya, karena hampir setiap tahun ajaran baru guru-guru di sekolahku itu merekomendasikan aku untuk bersekolah di SLB karena cacat yang aku sandang. Dan setiap tahun itu pula ibuku mampu untuk membujuk kepala sekolahku untuk tetap menerimaku.

Alasan ibuku tetap menyekolahkanku disini mungkin karena merupakan sekolahan termurah yang ada di kota pudak ini,  atau bahkan sekolah termurah yang ada di Indonesia dan juga memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan. Tak ayal hal itu dapat dilihat karena mayoritas temanku adalah buangan dari sekolah-sekolah negri yang tidak menerima mereka karena tidak lolos seleksi dan sudah tidak bisa masuk ke sekolahan swasta lainnya karena waktu pendaftaran telah habis baik gelombang satu maupun gelombang dua. Hanya sekolah Madangkara Jaya inilah yang masih mau menampung mereka atas dasar kemanusiaan. Dan agar anak-anak usia pelajar masih bisa mengenyam bangku pendidikan dengan gampang.

Aku heran dengan tingkah laku teman-temanku yang setiap hari selalu berpakaian serba matching dengan assesoris-assesoris yang mahal yang sengaja mereka pakai untuk dipamerkan, bahkan hampir setiap hari kebanyakan dari mereka bergonta-ganti tas dan sepatu yang serasi tapi yang aku herankan malah mereka tidak pernah mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh dan aku perhatikan mereka juga jarang mencatat pelajaran yang di berikan oleh guru-guruku, hanya pelajaran PPKN saja yang catatan mereka rapi, mungkin karena guru PPKN di kelasku cukup killer dan selalu mengoreksi hasil catatan mereka setiap ulangan dan juga dimasukkan sebagai nilai tambahan di raport. Jadi mereka terpaksa mencatat dengan rajin. Tas mereka hanya diisi dengan make up dan majalah remaja terbaru bagi yang cewek, sedangkan yang cowok berisi rokok dan komik-komik yang mereka gemari seperti Naruto, One Piece, Death Note, dan lainnya. Meskipun mereka setiap hari pulang pergi sekolah dengan mengenakan tas, tapi menurutku tidak ada satupun ilmu yang mereka dapatkan disekolahan ini.

Aku terkadang sempat iri dengan mereka, kenapa aku sampai tidak mampu untuk membeli Buku sekolah dan tas yang layak untuk dipakai di sekolahan, sampai aku harus selalu mendapatkan nilai C untuk pelajaran PPKN ku gara-gara aku tidak pernah bisa menunjukkan buku catatanku, dan tidak pernah mendapat tolelir meskipun aku sudah menggumpulkan lembaran-lembaran catatanku kepada beliau.

Sebenarnya hampir setiap tahun aku memasuki peringkat 10 besar disetiap pengambilan raport, dan alasan itulah yang dapat dijadikan kepala sekolahku untuk tetap menerimaku sekolah disini meskipun mendapat tentangan dari banyak guru. dan aku sangat bersyukur karenannya…

 

 

 

Iklan

5 thoughts on “Pemuda Tanpa Harapan

      • mbak.. insya Alloh ramadhan tahun 2013 ini alumni masyhudiyah akan mengadakan reuni akbar.. semoga angkatan mbak bisa berpartisipasi dengan kami.. karena insya Alloh reuni ini bukan hanya bermanfaat bagi alumni saja, tapi bagi siswa dan masyarakat sekitar.. bi idznillah.. kalau njenengan bisa menghubungi alumni angkatan njenengan, anda bisa kirim email ke showlow87@gmail.com nanti saya kabari acaranya apa saja, saya sdh izin ke bapak faishol dan alhamdulillah di acc..

  1. mbak.. insya Alloh ramadhan tahun 2013 ini alumni masyhudiyah akan mengadakan reuni akbar.. semoga angkatan mbak bisa berpartisipasi dengan kami.. karena insya Alloh reuni ini bukan hanya bermanfaat bagi alumni saja, tapi bagi siswa dan masyarakat sekitar.. bi idznillah.. kalau njenengan bisa menghubungi alumni angkatan njenengan, anda bisa kirim email ke showlow87@gmail.com nanti saya kabari acaranya apa saja, saya sdh izin ke bapak faishol dan alhamdulillah di acc..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s